
Shali yang merasa lapar, memakan sate tersebut sembari perjalanan pulang. Sesuai dengan mood dan rasanya, perempuan itu makan dengan lahap. Aka sendiri melirik senang istrinya yang tengah sibuk mengunyah.
"Enak Dek? Alhamdulillah kalau kamu suka," ucapnya melirik sekilas sebelum akhirnya kembali menatap fokus ke jalanan.
"Heem, kamu mau Mas, ini aku suapin." Tangan Shali tergerak menyodorkan sate itu ke hadapan mulut suaminya. Aka menerima dengan senang hati.
"Ibu tadi baik ya, ada hikmahnya juga kenal sama Azmi."
"Rezeki buat dedek bayi dan juga kamu, udah nggak ngidam lagi 'kan? Resiko mau diliput ya harus siap dikenal banyak orang, Dek. Alhamdulillah kalau adikku sukses," timpal Aka kalem.
"Dia itu emang pinter loh Mas, baru semester tujuh udah mau ambil skripsi. Aku mah masih jauh, apalagi ditambah cuti melahirkan nanti. Lama nih pasti lulusnya."
"Nggak pa-pa sayang, disyukuri aja, kemampuan orang kan berbeda-beda. Fokus aja ke apa yang kamu suka, jangan jadiin beban, aku pasti bantuin kamu sampai lulus, kamu juga pasti bisa, biarpun lagi hamil juga pasti bisa. Kamu juga pinter kok," puji Aka jujur.
"Janji loh ya, tugas aku Mas yang ngerjain, aku nggak mau mumet-mumet."
"Nanti aku bantuin sayang, tapi tetep mikir sendiri ya, nggak boleh ketergantungan. Kamu bisa, Dek!" Aka terus mensugesti hal-hal positif dan menyenangkan. Apalagi tentang kehamilan, pria itu serius sekali memperhatikannya, mengingat istrinya masih begitu muda ditambah awalnya yang belum siap, tentu peran dirinya sangat dibutuhkan sebagai suami siaga.
"Mas, aku mau udah, habisin atau buang aja," ujar perempuan itu menginterupsi.
"Jangan dong sayang, tolong suapin, biar Mas habisin," tanggap pria itu bagai penengadah sisa makan istrinya. Rasanya sama sekali tak risih, bahkan pria itu senang dan terasa enak, entahlah.
"Kamu mah aneh, suka mulung sisa aku, nggak risih gitu, kamu bisa gendut By, mau saingan sama aku?" seloroh Shali tersenyum.
"Enggak lah, malah enak banget makan sisa kamu. Berbagi itu indah Dek," ujarnya santai.
"Insya Allah nggak gendut, mau mulai olah raga lagi setelah sekian purnama absen."
Aka menghabiskan sate sisa istrinya dengan bantuan tangan Shali. Dirinya masih sibuk mengemudi. Pria itu benar-benar menghabiskan tanpa sisa, sembari fokus pada jalanan. Perjalan malam yang seharusnya melelahkan diisi obrolan hangat keduanya. Saling melempar jokes layaknya hiburan.
"Mas, minum nggak? Ini menepi dulu kalau susah."
"Nanti aja, Dek, belum haus. Alhamdulillah kenyang banget."
Pria itu mengajak istrinya terus mengobrol, lama-lama Shali tidak menyahut, ternyata perempuan itu sudah tertidur begitu saja. Aka melirik gemas, dirinya rupanya sedari tadi mengoceh sendirian.
Sesampainya di rumah Shali bahkan terlihat tertidur pulas. Hari sudah larut saat pria itu menginjakkan kakinya di halaman rumah. Membuka pintu terlebih dahulu, lalu kembali ke mobil menggendong istrinya yang sama sekali tidak terusik.
"Sayang, pindah ya?" gumamnya seraya menggendong tubuh Shali.
Usai membuat istrinya nyaman, barulah Aka menukar pakaian dirinya dengan pakaian rumahan untuk tidur. Pria itu merapikan selimut, mengecup keningnya lalu tidur.
***
Hari berganti, bulan berlalu, kandungan Shali juga semakin besar. Perempuan itu masih melakukan aktivitas seperti biasa. Sibuk kuliah di semester akhir. Masih tetap semangat, ia sengaja mengambil cuti setelah melahirkan saja biar tidak terlalu banyak yang ditinggalkan. Beberapa kegiatan sudah sangat dibatasi, termasuk kegiatan kampus di luar kelas. Aka benar-benar menjaga istrinya dengan sangat ekstra.
Semenjak hubungan mereka dipublikasikan, Shali justru terlihat percaya diri. Walaupun tak jarang banyak yang menjauhinya karena merasa sungkan. Kendati demikian perempuan yang kini tengah menikmati kehamilannya itu tak pernah kehilangan sahabat karibnya. Izza, Nyrma, dan Molly tetap menjadi bestfriend yang paling solid.
"Pagi Bumil, makin cantik aja?" sapa Izza yang baru saja masuk kelas.
"Woe ... pagi Za, dari lahir kali," jawab Shali dengan sombongnya.
"Wesss ... bumil selalu dimanja. Kelas Pak Aka, tumben udah lebih dari lima menit belum hadir. Suami lo absen?" tanya Molly penuh harap.
"Maunya sih, sayangnya nggak mungkin doi absen, negara runtuh sudah," jawab Shali dengan banyolannya.
Tiba-tiba suara deheman disertai salam memenuhi ruangan. Dosen Aka masuk dengan sahaja. Setelah menggumamkan salam pembuka, beliau langsung melanjutkan materi kemarin yang tersisa.
"Tolong perhatikan, jangan mengobrol sendiri. Shali perhatikan!"
"Iya Pak!" jawabnya sembari main sikut dengan Izza.
"Suami lo serem!"
"Diem beb, nanti gue bisa dihukum kalau nggak nyimak," jawab Shali kembali fokus.
.
Tbc
Hai readers yang budiman, sedikit pengumuman ya buat kalian yang kepingin tahu serunya pria kalem bertemu si jelita yang bar-barnya nggak ketulungan, udah launching loh cerita Azmi dan juga Nashwa.
Ada di judul "Imamku Tutorku"
Cuss~> di F*I**Z**O