Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 87


Satu bulan kemudian


Riza datang ke rumah Mita untuk menyampaikan maksud dan Niat baiknya pada kedua orang tua Mita untuk menikah dengan Mita.


Kedua orang tua Mita sangat bahagia mendengar niat baik dari Riza dan mereka langsung merestui tanpa syarat apa-apa. Karena Mita wanita yang sudah tidak muda lagi, mendengar ada sosok laki-laki mapan seperti Riza ingin meminang anaknya tentu saja tanpa berpikir lagi mareka langsung setuju.


"Bagaimana kalau acara pernikahan kalian di lakukan secepatnya?" Ibu Mita yang tidak ingin menunggu lebih lama.


"Kalau saya setuju saja, lebih cepat akan lebih baik," jawab Riza senang.


"Bagaimana kalau minggu depan?" ucap Ayah Mita yang tentu saja juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini. karena mereka menanti ada laki-laki yang mau melamar anaknya sudah begitu lama.


"Minggu depan? kenapa harus buru-buru seperti itu yah?" sahut Mita.


"Kata siapa buru-buru, kami ini memimpikan bisa melihat kamu di pelaminan sudah sangat lama, wajar kan kalau kami ingin kali ini di lakukan secepatnya?" jawab Ayah.


"Iya tapi bukan berarti minggu depan juga yah?" ucap Mita.


"Kalau nak Riza sendiri keberatan tidak kalau acaranya minggu depan?" tanya Ayah.


"Kalau saya pribadi justru senang kalau acaranya di adakan minggu depan, saya tidak ada masalah dengan itu semua," jawab Riza yang memang menghendaki jika acaranya di percepat.


"Riza, apa kamu yakin? Bagaimana caranya mengadakan pernikahan dalam waktu seminggu?" Mita menatap Riza.


"Tenang saja, nanti biar semuanya aku yang urus," jawab Riza yakin.


Keesokan harinya, Riza memintanya untuk datang ke kantor.


"Untuk apa Riza memintaku datang ke kantor? ya sudahlah besok aku ke sana saja," gumam Mita setelah membaca pesan dari Riza.


***


"Ayah, Ibu Mita pergi dulu," pamit Mita pada Ayah dan Ibu nya.


"Mau kemana? bukankah Ayah sudah bilang jangan kerja dulu sampai hari pernikahan kamu selesai?" Ayah Mita sangat mencemaskan jika sampai putri berubah pikiran.


"Mita tidak kerja yah, Mita mau bertemu Riza. dia minta Mita untuk datang ke kantor tempat di bekerja," jelas Mita. Ayah dan ibu saling pandang.


"Oow.. ya sudah, Hati-hati." sahut Ibu Mita.


"Iya, Ibu, Ayah. Mita berangkat, Assalamu'alaikum," ucap Mita pamit dan mencium punggung tangan Ayah dan ibunya.


Sesampainya di depan PT. RR Food Mita menatap gedung yang menjulang tinggi tersebut.


"Terus aku harus mencarinya di mana? kenapa ponselnya tidak aktif?" gumam Mita kesal Karena ponsel Riza tidak bisa di hubungi.


Mita berajalan menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan Riza.


"Maaf Mbak kalau sopir yang mbak maksud dengan nama Riza tidak ada," jawab resepsionis.


"Jadi di sini tidak ada sopir yang bernama Riza?" tanya Mita mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Tidak, Mbak. Di kantor ini tidak ada sopir yang bernama Riza," jawabnya.


"Coba lihat sekali lagi mbak, saya yakin kok Pak Riza itu kerja di kantor ini," ucap Mita.


"Di kantor ini banyak Mbak yang bernama Riza termasuk pemilik perusahaan juga bernama Pak Riza, tapi kalau untuk sopir tidak ada yang bernama Riza," jelasnya lagi.


"Ooh, ya sudah mbak Terima kasih," ucap Mita berlalu


"Apa mungkin dia bukan sopir, kalau bukan sopir terus apa? pekerjaan yang jam kerjanya gak tente gitu," gumam Mita terus berpikir.


Saat Mita sudah akan meninggalkan kantor tanpa sengaja berpasangan dengan Ray yang akan meeting dengan Riza di sana.


"Mita, kenapa kamu ada di sini?" tanya Ray yang melihat Mita bingung.


Perasaan untuk Ray memang sudah tidak ada, namun Mita masih sedikit canggung jika harus berhadapan secara langsung dengan Ray.


"Mencari Riza? lalu kenapa malah terlihat bingung gitu? Kalian sudah bertemu?" tanya Ray dan Mita menggelengkan kepala.


"Belum ketemu? kenapa? memang Riza tidak di kantor? Ini aku juga mau bertemu dengan Riza, ayo aku antar sekalian," ajak Ray.


"Kamu ke sini juga mau berteman Riza?" tanya Mita.


"Iya, aku mau bertemu Riza. Kami sudah ada janji untuk meeting hari ini," jawab Ray.


"Meeting? untuk apa kamu meeting sama sopir?" tanya Mita.


"Sopir? maksud kamu?" Ray tampak bingung dan belum mengerti arah pembicaraan Mita.


"Tadi kamu bilang mau meeting sama Riza? bukankah Riza itu sopir di sini? lalu untuk apa kamu meeting dengan sopir," ucap Mita tak mengerti.


"Tunggu dulu, ja-jadi kamu selama ini berpikir kalau Riza itu sopir di kantor ini?" Ray memastikan pikirannya.


"Kalau bukan terus apa pekerjaan yang jam kerjanya tidak pasti gitu?" jawab Mita.


Ray kini sepertinya mengerti, mungkin Riza belum menyampaikan kebenaran.


Ray tampak mengatupkan bibirnya menahan tawa.


"Kamu kenapa?" tanya Mita melihat ekspresi wajah Ray yang seolah ingin menahan tawa.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Tapi apa tadi kamu bilang sama resepsionis ingin bertemu dengan seorang driver bernama Riza?" tanya Ray lagi.


"Iya, tapi katanya di sini tidak ada sopir yang bernama Riza. Makanya aku bingung, mana ponselnya tidak bisa dihubungi lagi," ucap Mita tampak kesal.


"Astagfirullah, pantas saja mereka bilang Riza tidak ada," ucap Riza.


"Memangnya kenapa? apa sekarang Riza sudah tidak jadi sopir di sini?" tanya Mita.


"Kamu tau kalau dari siapa kalau Riza itu driver?Apa Riza sendiri yang memberitahu kamu?" tanya Ray yang ingin tertawa tapi di tahannya.


"Iya, eh.. tidak juga sih sebenernya. Saat itu aku hanya menebak saja, karena dia bisa muncul di depanku kapan saja, memang pekerjaan apa lagi yang bisa di tinggal sewaktu-waktu kalau bukan sopir? jadi q menyimpulkan dia bekerja sebagai sopir dan Riza juga saat itu tidak membantahnya." jelas Mita seraya mengingat kala itu, Riza memang tidak pernah menyebutkan dirinya sebagai sopir tapi Mita sendiri yang menyimpulkan.


"Ya, sudah sekarang kamu ikut dengan ku saja," ucap Ray tersenyum.


"Ke mana?" tanya Mita.


"Katanya mau bertemu dengan Riza? kalau mau bertemu dengan Riza ayo ikut aku, aku juga akan bertemu dengan Riza," jawab Ray.


"Ini benaran? jadi Riza benar-benar kerja di sini? tapi tadi mbak itu bilang Riza tidak di sini?" tanya Mita menunjuk resepsionis.


"Itu karena kamu carinya Riza driver, kalau kamu cari sopir dengan nama Riza tentu saja tidak ada," jawab Ray menahan tawa.


"Berarti Riza itu bukan sopir? Lalu di perusahaan sebesar ini, dia bekerja sebagai apa?" tanya Mita yang terus berjalan menyamakan langkah dengan Ray yang sudah berjalan lebih dulu.


Ting..


Suara lift terbuka dan Ray segera masuk ke dalam begitu juga dengan Mita.


Ray menekankan tombol 30.


^Happy Reading^


Jangan lupa like, coment dan Vote ya sayang💕


Dukungan kalian sangat berarti bagi thor, jangan lupa baca karya thor yang lain dengan klik Qurrotaayun dan klik ikuti ya. Terima kasih😘