
Mobil yang Ray kendarai melaju dengan kecepatan tinggi, hatinya terasa sakit mengetahui Raynan kecelakaan. Tapi tiba-tiba terlintas dipikiran Ray, dari mana Riza tau kalau golongan darah Ray AB rhesus negatif dan kenapa bukan Riza atau mommy nya yang mendonorkan darah untuk Raynan.
"Agh.. sudahlah, aku tidak perlu memikirkan semua itu. Aku harus segera sampai rumah sakit," gumam Ray.
***
"Assalamu'alaikum, Pak. Alhamdulillah bapak datang dengan cepat. Sebentar ya pak biar saya panggil Dokter," ucap Riza.
"Tunggu," panggilan Ray menghentikan langkah Riza.
"Ada apa pak? Saya harus segera menghubungi Dokter, biar Dokter bisa segera melakukan operasi pada Raynan." ucap Riza.
"Sebelum saya mendonorkan darah saya, saya ingin bertanya satu hal. Dari mana kamu bisa tau kalau golongan darah saya AB rhesus negatif?" tanya Ray.
"Sebenarnya saya juga tidak tau, Pak. Mommy nya Raynan yang meminta saya untuk menghubungi anda dan bilang kalau golongan darah kalian sama," jawab Riza.
"Mommy nya ? tadi kamu bilang, mommy nya Raynan meminta kamu untuk menghubungi saya? Tapi dari mana istri kamu tau, kalau golongan darah kami sama? Tapi tunggu dulu! kenapa bukan kamu yang mendonorkan darah untuk Raynan?" cerca Ray karena saat ini pikiran Ray di penuhi dengan banyak pertanyaan.
"Sebenarnya, Raynan bukan anak kandung saya pak. Tapi Raynan sudah saya anggap seperti anak saya sendiri." jawab Riza
"Raynan bukan anak kandung kamu? Lalu mommy nya Raynan sekarang di mana? Apa saya bisa bertemu dulu dengan Mommy Raynan?" tanya Ray melihat sekeliling dan tidak menemukan keberadaannya.
"Tadi ada di sini, mungkin sedang ke kamar mandi atau menemui Dokter, Pak." jawab Riza yang tidak mengetahui kapan Bela meninggalkan dirinya.
"Pak, Sebaiknya saya panggil Dokter dulu, biar Dokter bisa segera melakukan operasi untuk Raynan." ucap Riza berlalu.
Ray menatap punggung Riza dan beribu pertanyaan ada di dalam benaknya.
"Riza, bukan Daddy nya Raynan. Tapi bagaimana bisa mommy Raynan, tau kalau golongan darah saya sama dengan Raynan? Kenapa ini terasa aneh bagi saya? Dan kenapa Mommy nya juga sepertinya sengaja menghindari saya?" gumam Ray berusaha berpikir.
"Maaf, anda dengan Pak Ray, yang akan mendonorkan darahnya untuk pasien?" tanya perawat dan Riza berada di belakang perawat.
"Iya Sus, saya orangnya." Jawab Ray.
"Kalau begitu, silahkan ikut saya untuk melakukan beberapa pemeriksaan lebih dulu," ucap perawat.
"Sebentar Sus, saya harus bicara dulu dengan bapak Riza." ucap Ray.
"Baiklah, kalau begitu. silahkan panggil saya jika sudah siap," ucap perawat berlalu.
Setelah perawat pergi, Ray mendekat pada Riza dan meminta syarat jika ingin dirinya mendonorkan darah untuk Raynan.
"Syarat apa pak?" tanya Riza keheranan.
"Saya harus tau siapa Mommy nya Raynan lebih dulu, bagaimana dia bisa tau kalau kami memiliki darah yang sama?" ucap Ray.
"Bagaimana, kalau kita bicarakan itu nanti saja pak? Saya takut tidak ada waktu lagi, Raynan begitu banyak mengeluarkan darah," jawab Riza yang bingung lantaran tidak mengetahui di mana keberadaan Bela saat ini, bahkan ponselnya juga tidak aktif.
"Saya tidak bisa melakukannya, jika di benak saya masih banyak pertanyaan yang sangat janggal menurut saya," ucap Ray.
"Tapi Pak, saat ini Raynan sangat membutuhkan darah bapak," ucap Riza.
"Saya mohon Pak, tolong selamatkan Raynan." kembali Riza memohon.
"Tolong selamatkan Raynan, Ray." ucap Bela berjalan mendekat menuju Ray.
Mendengar suara yang tidak asing di pendengarannya, Ray membalik tubuhnya dan begitu tercengang ternyata benar suara itu adalah Bela, istri yang diam-diam pergi meninggalkan dirinya selama bertahun-tahun.
"Bela," gumam Ray menatap Bela seakan tak percaya, bahwa saat ini Bela berjalan di hadapannya.
"Berdirilah," Ucap Ray meminta Bela untuk berdiri tapi Bela hanya menggelengkan kepala.
"Aku mohon, selamatkan anakku." ucap Bela terisak.
"Aku akan mendonorkan darahku untuk Raynan, tapi kamu berhutang penjelasan padaku," ucap Ray berlalu.
Riza semakin tidak mengerti dengan pemandangan yang saat ini di lihatnya.
"Bel, bangunlah! Pak Ray, akan mendonorkan darahnya untuk Raynan. Kita do'akan semoga operasi Raynan berjalan dengan lancar." bujuk Riza dan Bela berdiri.
**
Saat ini perawat sedang mengambil darah Ray, karena dari hasil pemeriksaan. Ray dalam kondisi baik dan bisa melakukan donor untuk Raynan.
Begitu banyak pertanyaan di benak Ray, bagaimana bisa semua serba kebetulan.
Namun saat ini, Ray menahan diri untuk tidak banyak bertanya, lantaran melihat kondisi Bela yang masih tampak syok, dengan kejadian yang telah menimpa Raynan.
Ray, Riza dan Bela saat ini sedang menunggu di depan ruang operasi dan berdoa untuk kesembuhan Raynan.
Melihat Bela yang tampak pucat, Riza berinisiatif untuk ke kantin dan membelikan minuman.
Saat ini di benak Riza pun ada begitu banyak pertanyaan, bahkan saat ini Riza mulai menduga-duga tentang siapa itu Ray dan Bela.
"Bel, minumlah? dari tadi kamu belum makan dan minum!" ucap Riza memberikan minuman dan roti untuk Bela.
"Terima kasih, Za." ucap Bela mengambil minuman yang Riza berikan.
"Di makan juga rotinya, kamu belum makan apa-apa dari pagi!" ucap Riza tapi Bela hanya menggelengkan kepala.
"Bel, walaupun sedikit. Tapi kamu harus tetep makan! Aku tau saat ini, kamu sedang memikirkan Raynan, tapi kamu harus tetep makan, jangan sampai saat Raynan sadar nanti, justru kamu yang pingsan karena belum makan apa-apa, kamu mau melihat Raynan sadar kan?" tanya Riza melihat Bela dan Bela menganggukkan kepalanya.
"Kalau memang kamu ingin melihat Raynan sadar, kamu harus makan! dimakan rotinya sekarang atau mau aku suapin?" ucap Riza membukakan rotinya.
Ray menoleh ke arah Bela dan Riza, dengan pandangan tidak suka.
"Biar aku makan sendiri," ucap Bela mengambil roti yang di pegang Riza.
Setelah beberapa jam menunggu, lampu di depan kamar operasi tampak sudah dimatikan, menandakan operasi sudah selesai.
Bela segera berdiri dan dengan cemas menunggu Dokter keluar.
"Kamu tenang ya Bel, jangan cemas. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Kita doa terus!" ucap Riza menenangkan.
Ray pun sebenarnya tak kalah cemas dengan Bela dan Riza. Walaupun sampai saat ini Ray masih belum tau pasti, Raynan itu ada hubungannya dengan dirinya atau tidak. Tapi dari awal. Ray mengenal Raynan, dirinya sudah memiliki ikatan yang kuat dan perasaan sayang yang tidak mudah untuk dijelaskan.
"Dok, bagaimana dengan keadaan anak saya?" tanya Bela saat Dokter baru saja membuka pintu.
"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Anak kalian selamat. Sebentar lagi, akan dipindahkan ke ruang intensif untuk observasi lebih lanjut sebelum di pindahkan ke ruang rawat." jelas dokter tersenyum melihat Bela dan Riza
Ray melihat kearah Bela dan Riza saat dokter mengatakan "anak kalian"
Tapi jauh di lubuk hati, Ray merasa lega dan bahagia karena operasi Raynan berjalan dengan lancar.
^Happy Reading^
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan Like, coment dan Vote ya sayang, dukungan kalian sangat berarti bagi Thor, Terima kasih😘💕