Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 22


Hari ini tak banyak kegiatan yang dilaksanakan oleh Bela dirumah, dirinya hanya tiduran diatas kasur. sesekali menyalahkan televisi dan setelah bosan dirinya hanya akan bermain dan membuka sosial medianya.


Hatinya terasa bergemuruh saat melihat disalah satu akun sosial media Brian, yang memamerkan kemesraan nya dengan wanita lain, dan lebih parahnya wanita itu adalah Luna sahabat mereka sendiri.


"Luna, bagaimana bisa kamu menghianati aku dengan Luna?" gumam Bela


Bela selama ini tau kalau Brian bukan laki-laki setia, tapi Bela tidak menyangka kalau perempuan itu adalah Luna.


"Setelah semua yang aku lakukan, ini balasan yang kamu berikan untukku?" gumam Bela dan kini bulir-bulir kristal disudut matanya pecah membasahi pipinya


Hatinya terasa ngilu, bukan karena dihianati Brian tapi lebih tepatnya karena perasaan bersalahnya pada Ray, Bela lebih memilih meninggalkan suaminya yang begitu baik demi Brian, karena Brian adalah laki-laki yang sudah mengambil kesuciannya. Tapi ternyata Brian bukanlah laki-laki yang pantas untuk dipertahankan.


"Kenapa aku begitu bodoh? kenapa aku memberikan kesucianku untuk orang seperti kamu? Apa yang harus aku katakan pada Ray? aku benar-benar tidak punya muka untuk mengatakan yang sejujurnya pada Ray.


"Luna? Brian memang pantas untuk wanita seperti Luna" gumamnya lagi


Luna adalah sahabat Brian dan juga Bela, Namun Luna ini adalah wanita yang sering berganti-ganti pasangan, karena sifatnya gampang bosen. Luna memang cantik tapi terlalu murahan cocok lah untuk Brian, itulah yang ada pikiran Bela.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" ucap Bela buru-buru menyeka air matanya, Namun Ray sudah melihat kalau Bela menangis


Ray mendekat dan duduk di tepi ranjang dan mengulurkan tangannya, Bela yang sudah mengerti meraih tangan Ray dan mencium tangan Ray. Ray pun tersenyum melihat perubahan Bela


"Kamu kenapa? apa kamu merasa bosen?" tanya Ray mengusap rambut panjang Bela


"Tidak, aku tidak apa-apa" jawab Bela menggelengkan kepalanya


"Kamu jangan berbohong, aku tau kalau kamu sedang tidak baik. Aku tau, kamu pasti merasa bosen setelah seharian ada dirumah sendiri. Apa tadi perawat yang baru sudah datang?" tanya Ray


"Sudah, tadi dia yang membantuku mandi" Jawab Bela tersipu malu, mengingat kejadian kemarin saat terpaksa dirinya harus dimandikan Ray


"Wajah kamu kenapa jadi merah gitu? apa kamu sedang sakit?" tanya Ray pura-pura tidak tau kalau istrinya sedang tersipu malu


"Tidak, aku tidak apa-apa" jawab Bela singkat dan menundukkan kepalanya


"Ya sudah aku mandi dulu ya" ucap Ray berdiri dan menuju kamar mandi.


Setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat, tubuhnya yang sejak tadi terasa penat kini terasa begitu segar.


"Akh.. aku lupa tidak bawa baju ganti" gumam Ray yang lupa tidak membawa baju ganti


Ray yang hanya menutup bagian bawahnya dengan handuk, dan rambut masih basah keluar dari kamar mandi


"Aaawww.. " Teriak Bela


"Ray kamu apa-apaan sih, kenapa keluar gak pakai baju?" gerutu Bela menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tapi mengintip sedikit dengan membuka jari tangannya, dengan susah Payah Bela menelan saliva nya.


"Kalau mau lihat, lihat saja tidak perlu ngintip segala" goda Ray


"Siapa yang ngintip? lagian kamu kenapa kesini tidak pakai baju?" kembali Bela menggerutu


"Kenapa kamu bisa seganteng ini sih Ray?" batin Bela


"Jangan mandangin aku kayak gitu, nanti kamu jatuh cinta lho sama aku" ucap Ray dan naik ke atas tempat tidur


"Siapa yang jatuh cinta sama kamu" ucap Bela merasa malu ketauan diam-diam mengagumi laki-laki yang sebenarnya halal untuk dicintainya


"Kenapa obatnya masih disitu? kamu belum minum obat?" tanya Ray saat melihat obat yang masih ada diatas nakas nya.


"Belum" Bela menggelengkan kepalanya


"Kamu belum makan juga?" tanya Ray dan lagi-lagi Bela menggelengkan kepalanya


"Astaghfirullah, ini sudah jam berapa? kenapa belum makan juga?" cerca Ray


"Bik Siti sama perawat yang baru tidak ngasih kamu makan? kamu disini dulu, biar aku nasehati mereka" ucap Ray beranjak dari tempat tidur tapi tangannya segera diraih Bela


"Bukan salah mereka, sejak tadi mereka sudah menawari aku makan" ucap Bela


"Lalu kenapa kamu belum makan?" tanya Ray melihat Bela


"Karena, karena aku nunggu kamu" Jawab Bela


"Jadi kamu nungguin aku? Bel, lain kali kalau aku pulang telat jangan menunggu aku. Kamu harus makan lebih dulu, karena kamu kan harus minum obat" jelas Ray


"Ray, aku sudah bosan minum obat. Ini seperti membohongi diriku sendiri" ucap Bela


"Maksud kamu apa?" tanya Ray


"Walaupun aku rajin minum obat sekalipun, aku tidak akan bisa kembali berjalan kan? sebenarnya obat ini untuk apa? aku tidak sakit tubuhku sangat sehat. Lalu kenapa aku harus terus minum obat? padahal aku tau, kakiku sudah tidak akan bisa sembuh lagi. Ini seperti aku membohongi diriku sendiri, seakan aku berharap kaki ku akan normal kembali" ucap Bela dengan mata berkaca-kaca


"Huussstt... jangan pernah berkata seperti itu, kita sebagai seorang manusia wajib untuk berikhtiar dan berdoa. Dan hasilnya serahkan pada Alloh." ucap Ray meletakkan jari telunjuknya pada mulut Bela. Seketika Bela terdiam


"Bel, didunia ini tidak ada yang tidak mungkin atas kehendak Alloh. Jangan pernah menyerah dengan ujian ini. Berdoalah pada Alloh! karena kekuatan doalah yang mampu merubah apa yang orang katakan tidak mungkin, menjadi mungkin."


Doa : “Tiada yang bisa menolak takdir Allah, kecuali doa.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ahmad, dan Ibnu Majah).


"Sesungguhnya takdir itu tidaklah berubah kecuali dengan doa. Berdoalah dan berikhtiar mungkin dengan cara melakukan fisioterapi. Dan aku sudah mendaftarkan kamu untuk ikut kelas fisioterapi dirumah sakit Medika, mulai minggu depan satu minggu tiga kali kamu akan melakukannya fisioterapi" ujar Ray


"Apa kamu yakin aku bisa sembuh?" tanya Bela


"Kita akan mencoba berikhtiar, apapun hasilnya pasrahkan sama Alloh. Karena Alloh Yang tau apa yang terbaik untuk kita. Kewajipan kita sebagai manusia hanyalah berdoa dan berusaha. Karena apapun yang terjadi pada diri kita ini sesungguhnya sudah menjadi ketetapan Alloh. Dan ketetapan Alloh adalah yang terbaik."


"Aku lumpuh seperti ini, apa ini yang terbaik?" tanya Bela bersedih


"istigfar Bela, Alloh memberi kita ujian. Pasti ada maksud dan tujuan! hanya saja kita sebagai manusia terkadang terlalu cepat menyimpulkan. Aku yakin saat ini kamu diuji dengan keadaan seperti ini, itupun ada maksud. Selalu ada hikmah disetiap kejadian. Selalu berbaik sangkalah dengan Alloh!" jelas Ray


^Happy Reading^