Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 77


"Raynan, Daddy Ray sepertinya cemburu melihat kita seperti ini," goda Riza.


"Raynan juga sayang kok sama daddy Ray, Raynan sayang kalian semua, Raynan sayang mommy, Raynan sayang daddy Riza, Raynan sayang daddy Ray dan Raynan juga sayang nenek," ucap Raynan dengan suara khas anak-anak.


"Anak pintar kamu Ray," sahut Bu Santi.


Gelak tawa menggema di seluruh ruangan Ray, Bu Santi sangat bahagia melihat putranya bisa tertawa lepas seperti ini lagi.


"MasyaAlloh, Rasanya sudah sangat lama aku tidak pernah melihat Ray tertawa lepas seperti itu. Terlihat jelas bagaimana Ray sangat bahagia dengan kehadiran Bela di sisinya. Maafkan Mami Ray, baru sekarang Mami menyadari kebahagiaan kamu ada bersama Bela. Meskipun Mami telat menyadari tapi setidaknya Mami senang bisa melihat kalian kembali bersama," Batin Bu Santi.


"Mami, Mami kenapa?" teriak Bela melihat Bu Santi jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.


"Mi, Mami, Dokter tolong Mami," teriak Ray panik mencabut infus yang ada di tangannya dan turun dari ranjang.


Dokter dan perawat segera datang saat mendengar teriakan dari kamar Ray.


Dokter dan perawat membawa Bu Santi ke IGD untuk di lakukan pemeriksaan.


"Mom, nenek kenapa?" tanya Raynan menangis dan memeluk Bela.


"Nenek tidak apa-apa sayang, nenek hanya kecapean." jawab Bela berusaha tenang agar Raynan tidak panik.


"Riza, apa aku bisa minta tolong? tolong bawa Raynan pulang ke apartemen kamu, nanti aku akan menjemput Raynan jika keadaan sudah baik-baik saja," ucap Bela.


"Iya, Bel. Kamu tentang saja! jangan mencemaskan Raynan. Aku janji, aku akan menjaga Raynan dengan baik kali ini," ucap Riza, mengingat Raynan pernah jatuh dari tangga saat berada di apartemennya.


"Raynan, Kamu pulang sama Daddy Riza dulu ya, sayang. Mommy harus menjaga nenek dan Daddy Ray." bujuk Bela.


"Tapi, Raynan juga ingin menjaga nenek, Mom." rengek Raynan khawatir dengan keadaan nenek nya.


"Nanti kalau nenek sudah bangun, mommy janji akan menjemput kamu, sementara ini Raynan ikut sama daddy Riza dulu, Raynan anak pintar kan?" tanya Bela.


"Iya, mom," jawab Raynan dengan wajah sedih.


"Kalau begitu, Raynan harus nurut sama mommy dan juga nurut sama Daddy. Ingat ya, Raynan tidak boleh lari-larian lagi!" ucap Bela dan Raynan menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Kamu tenang saja, Bel. Jangan cemaskan Raynan. InsyaAlloh Raynan aman bersamaku. kamu fokus saja sama Bu Santi dan Pak Ray, Kalau ada apa-apa segera kabari aku!" ucap Riza.


"Baiklah Za, terima kasih. Aku titip Raynan sama kamu," ucap Bela.


Setelah berpamitan dengan Bela dan Ray, kini Raynan pulang ke apartemen Riza.


Di perjalanan, Raynan tampak sedih dan murung.


"Jagoan, bagaimana kalau kita beli makan dulu? Raynan mau makan pizza atau burger?" tanya Riza untuk mengalihkan pikiran Raynan.


"Gak mau Dad, Raynan khawatir dengan nenek," jawab Raynan.


"InsyaAlloh, nenek akan baik-baik saja. Raynan jangan bersedih. Di saat seperti ini, Raynan harus banyak berdoa untuk kesembuhan nenek. Alloh pasti akan mengabulkan doa Raynan.


" Ya Alloh, sembuhkanlah nenek Raynan. Raynan baru saja mempunyai nenek, jangan ambil nenek sekarang," ucap Raynan berdoa dan mengangkat tangannya.


Riza melihat kearah Raynan dan tersenyum.


"Anak pintar," ucap Riza mengusap lembut kepala Raynan.


***


"Ray, sebaiknya kamu kembali ke kamar! Kamu baru saja sembuh, masih harus banyak istirahat!" ucap Bela.


"Tidak Bela, aku mau di sini saja. Aku takut Mami kenapa-kenapa," ucap Ray.


Setelah menunggu beberapa waktu, Dokter yang menangani Bu Santi keluar.


"Dok, bagaimana keadaan Mami?" tanya Ray cemas.


"Sepertinya sel kangker yang ada di tubuh Bu Santi sudah menyebar dan kali ini penyebarannya cukup cepat," ucap Dokter.


"Bukankah Mami sudah dinyatakan sembuh tiga tahun yang lalu Dok?" tanya Ray.


"Itu memang benar, namun sel kanker ini bisa kembali muncul karena beberapa faktor. Dan sepertinya sel kanker yang ada di tubuh Bu Santi sudah lama muncul kembali, hanya saja sepertinya Bu Santi sengaja tidak mau melakukan pengobatan. Sebenarnya kalau sejak awal Bu Santi melakukan kemoterapi mungkin masih ada sedikit harapan untuk melumpuhkan penyebaran sel kanker tersebut, tapi karena Bu Santi tidak mau melakukan kemoterapi, sel kanker yang ada di tubuh Bu Santi sekarang sudah ada di tahap stadium akhir." jelas Dokter.


"Astaghfirullah hal adzim," Gumam Bela dan Ray.


"Ja-jadi apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan Mami, Dok?" tanya Ray.


"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, jika melakukan operasi saat ini pun, akan sangat beresiko. Karena sel kanker sudah menyabar." jawab Dokter.


"Dok, saya mohon selamatkan Mami! pasti ada cara Dok," ucap Ray memohon.


"Maaf Pak Ray, tapi saat ini yang bisa kita lakukan hanya berdo'a, semoga ada mukjizat dari Alloh," ucap Dokter berlalu.


Ray tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya ketika mengetahui Mami nya sudah tidak ada harapan lagi.


"Ray, istighfar! pasrahkan segalanya pada Alloh. Sesungguhnya hidup dan mati kita hanya milik Alloh." ucap Bela menenangkan Ray.


"Bela, aku bukan anak yang baik. Bagaimana bisa aku tidak tau, kalau selama ini sel kanker Mami kembali kambuh, aku mengira setelah pengangkatan payudara tiga tahun yang lalu, Mami sudah sembuh. Aku tidak menyangka kalau ternyata penyakit itu muncul kembali," tangis Ray pecah mengingat sikap Ray yang akhir-akhir ini terlalu cuek dengan Mami nya.


"Istighfar, Ray. Kita do'akan saja semoga Mami baik-baik saja," ucap Bela.


Setelah Bu Santi di pindahkan ke ruang perawatan. Ray dan Bela masuk dan melihat Bu Santi yang terbaring lemah.


"Mi," ucap Ray lirih.


"Ray, kamu kan masih harus istirahat. kenapa kamu malah di sini?" tanya Bu Santi berusaha tersenyum meskipun tubuhnya terasa lemah.


"Mami sejak kapan, Mami menyadari kalau sel Kanker itu kembali menggerogoti tubuh Mami?" tanya Ray.


"Sudah lama Ray," jawab Bu Santi.


"Lalu kenapa Mami tidak mengatakan pada Ray? Dan kenapa Mami tidak menjalani pengobatan?" cerca Ray.


"Karena Mami tau, semua hanya sia-sia, sel kanker yang ada di tubuh Mami tidak akan benar-benar hilang walaupun Mami melakukan kemoterapi, Mami juga tidak mau merasakan kesakitan sebelum Mami pergi." jawab Bu Santi.


"Tapi Mi, setidaknya dengan kemoterapi, Mami masih ada harapan untuk sembuh," ucap Ray.


"Mami tidak ingin merasakan sakit, Ray. Jika memang harus pergi. Setidaknya Mami tidak merasakan sakit karena kemoterapi." ucap Bu Santi.


"InsyaAlloh Mami sudah siap Ray, Mami siap jika memang sudah waktunya Mami berpulang. Satu-satunya keinginan Mami sekarang, hanya ingin melihat kamu kembali bersatu dengan Bela dan hidup bahagia bersama dengan anak kalian," ucap Bu Santi.


"Bel, Terima kasih. Karena kamu. Mami bisa melihat cucu Mami. Awalnya Mami mengira mungkin sampai ajal menjemput, Mami tidak bisa melihat cucu Mami, tapi ternyata kamu memberikan cucu untuk Mami, Sekarang meninggal pun, Mami sudah tidak ada penyesalan," ucap Bu Santi.


"Mi, maafkan Bela. Maafkan Bela" ucap Bela terisak memeluk Bu Santi.


^Happy Reading^


Jangan lupa, like, coment dan vote ya sayang๐Ÿ’•


Terima kasih ๐Ÿ˜˜๐Ÿ’• atas dukungan nya๐Ÿ™