Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 71


Selama dua minggu Ray di rawat, Ray belum juga sadar. Bahkan Dokter sendiri tidak bisa menemukan penyebab sampai saat ini Ray belum juga sadar pasca operasi, Karena Dokter meyakini operasi berjalan dengan lancar, Kondisi Ray saat ini pun cukup stabil. Dengan kondisi Ray saat ini, seharusnya tidak ada lagi masalah yang cukup serius. Tapi yang menjadi pertanyaan kenapa Ray belum juga sadar?


Bu Santi menatap Ray dengan mata berkaca-kaca, hatinya pedih dengan melihat putra semata wayangnya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


"Ray, apa benar yang dikatakan teman-teman kamu? Apa kamu sengaja tidak ingin bangun karena marah sama Mami? Apa ini bentuk marah kamu sama Mami?" ucap Bu Santi.


"Jawab lah Ray! Bangun lah Ray! Mami ingin mendengar Jawaban kamu, apa benar kamu selama ini menderita karena Mami?"


"Apa benar, kamu tega meninggalkan Mami sendiri di dunia ini, Ray? siapa yang akan menemani Mami jika kamu meninggalkan Mami?" ucap Bu Santi menatap Ray.


"Selamat Pagi, Ibu. Dokter mau melakukan visit pada pasien untuk melakukan observasi, Ibu bisa tunggu di luar sebentar" ucap perawat.


"Silahkan, Sus." ucap Bu Santi berjalan keluar menunggu hingga Dokter selesai melakukan pemeriksaan.


Bu Santi terlihat gugup dan berharap ada keajaiban setiap kali Dokter melakukan Visit. Tapi lagi-lagi Dokter selalu mengatakan hal yang sama


Jika Ray dalam keadaan stabil.


"Dok, Sudah dua minggu lebih Ray di rumah sakit. Dokter selalu mengatakan stabil tapi kenapa belum sadar juga? Saya ingin membawa Ray berobat ke luar negeri Dok!" ucap Bu Santi.


"Tapi mengingat kondisi pasien saat ini, terlalu beresiko untuk memindahkan pasien, apalagi ke luar negeri. Resikonya terlalu besar," ucap Dokter.


"Lalu apa saya harus diam saja tanpa berbuat apa-apa untuk anak saya?" tanya Bu Santi dengan nada tinggi.


"Saat ini yang bisa kita lakukan hanya menunggu sampai pasien sadar," jawab Dokter.


"Tapi sampai kapan saya harus menunggu Dok? Ini sudah terlalu lama," ucap Bu Santi.


"Kamu paham apa yang menjadi kekhawatiran ibu, tapi kami Dokter dan perawat di sini juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasien," ucap Dokter.


Setelah Dokter pergi, Bu Santi kembali ke ruang Ray di rawat tak selang lama, Mita dan kedua orang tuanya datang untuk mengunjungi Ray.


"Bagaimana keadaan Ray, Bu Santi?" tanya Ayah Mita.


"Masih sama dan belum ada perubahan Pak," jawab Bu Santi.


"Tante yang sabar ya, Ray pasti akan sadar dan sehat kembali," hibur Mita.


"Aamiin," ucap Bu Santi mentap Ray.


"Ini kesalahan saya, Seandainya malam itu kami tidak berdebat, mungkin kecelakaan ini tidak akan terjadi," ucap Bu Santi dengan mata berkaca-kaca.


"Tante jangan menyalahkan diri tante sendiri, ini sudah takdir. Sebaiknya kita mendoakan yang terbaik untuk Ray," ucap Mita.


"Mita, tante juga ingin minta maaf sama kamu. Jika nanti Ray sadar. Tante tidak akan lagi memaksa Ray untuk menikah dengan kamu." ucap Bu Santi.


"A-apa maksud tante berkata seperti itu?" tanya Mita menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak ada maksud untuk mempermainkan anak bapak, saya memang sangat menginginkan Mita untuk menjadi menantu saya, tapi bapak lihat. Anak saya terbaring seperti ini dan itu semua karana kesalahan saya yang memaksakan kehendak saya agar Ray menikah dengan Mita," ujar Bu Santi.


"Jangan karena orang kaya, Bu Santi bisa seenaknya saja memperbaiki anak orang. Lima tahun anak saya menunggu dengan sabar karena bujukan dari Bu Santi. Lalu sekarang dengan gampang Bu Santi mengatakan agar anak saya melupakan janji Bu Santi untuk menikahkan mereka berdua?"


"Mita sudah tidak muda lagi untuk kembali mencari orang baru Bu Santi. Mita sudah menyia-nyiakan masa mudanya hanya untuk menanti anak Bu Santi, " ujarnya.


"Jangan marah-marah di sini pak, ini rumah sakit. Ray butuh ketenangan." ucap Bu Santi.


"Saya tidak perduli dengan apapun yang terjadi pada Ray. Mentang-mentang orang kaya bisa seenaknya mempermainkan anak orang. Mita ayo kita pulang! Jangan lagi perduli dengan keluarga ini. Mereka Orang-orang kaya hanya akan memanfaatkan orang biasa seperti kita dan akan membuangnya ketika merasa sudah tidak di butuhkan lagi," ucap Ayah minta dengan nada tinggi.


"Ta-tapi, Yah." ucap Mita yang belum bisa menerima keputusan Bu Santi.


"Pulang Ayah bilang! Biarkan saja orang tidak punya hati seperti mereka mendapat ganjaran dari Alloh!" ucap Ayah Mita dengan nada tinggi.


Mita menatap Bu Santi dan akhirnya hanya bisa menurut untuk pulang.


Di dalam mobil, Ayah Mita yang sangat merasa kecewa dengan keputusan Bu Santi secara sebelah pihak mengingatkan Mita agar tidak lagi memperdulikan Ray.


"Tapi, Yah. Mita sudah menunggu Ray selama lima tahun," ucap Mita.


"Mau kamu tunggu sepuluh tahun pun jika Ray tidak menginginkan kamu, semua itu percuma! Jangan Bodoh Mita. Buka mata kamu!" tegas Ayah Mita.


"Yah, Sabar! Ingat jantung Ayah!" ucap Ibu Mita yang berusaha menenangkan suaminya.


"Ayah heran dengan anak kita, kenapa Ayah bisa punya anak sebodoh itu bisa-bisanya menunggu seseorang yang jelas-jelas tidak mencintainya," ucap Ayah Mita.


***


Bu Santi menangis menggenggam tangan Ray.


"Maafkan Mami, Ray. Sadarlah Ray! Mami janji tidak akan lagi menghalangi kebahagiaan kamu. Maafkan Mami yang selalu menuntut kamu agar mengerti perasaan Mami, tanpa Mami sadar kalau hati kamu terluka demi Mami."


"Mami memang bukan orang tua yang baik, Tapi Mami mohon, Ray. Beri Mami kesempatan untuk menjadi orang tua yang baik bagi kamu. Mami janji jika kamu sadar, Mami tidak akan lagi menghalangi kebahagiaan kamu. Mami akan menerima Bela sebagai menantu Mami. Mami juga akan melupakan semua dendam Mami pada Bela. Tapi Mami mohon, Bangunlah Nak! jemputlah istri dan anak kamu," ucap Bu Santi.


Kali ini Bu Santi benar-benar menyadari kesalahannya, rasa takut kehilangan Ray lebih besar dari pada dendam yang ada pada dirinya untuk Bela.


Bu Santi juga kini sadar jika alam bawah sadar Ray tidak menginginkan dirinya bangun, mungkin karena Ray tidak sanggup untuk menuruti keinginan Mami nya yang memintanya untuk berpisah dari anak dan wanita yang dicintainya.


"Mami tidak akan lagi menghalangi kebahagiaan kamu, Ray. Bangunlah jemputlah Bela dan anak kamu! hiduplah bahagia bersama Bela dan anak kamu! Mami tidak akan lagi menghalangi kebahagiaan kalian." pungkas Bu Santi dengan penyesalan yang teramat dalam.


^Happy Reading^


Jangan lupa like, coment dan Vote ya sayang. dukungan kalian adalah semangat buat author dalam berkarya.


Terima kasih 😘💕🙏