
Setelah pertemuannya dengan Ray, dampak yang pak Bobby Rasakan sangatlah besar. Di hotel, Pak Bobby, terus saja memikirkan apa yang Ray katakan. Selama ini Pak Bobby tidak pernah berpikir tentang pentingnya ilmu agama dan bagaimana seharusnya seorang muslim berdagang dan bersikap.
Tapi tidak dengan malam ini, hatinya begitu terusik. Hingga Pak Bobby mencoba mencari kajian seputar islam, melalui akun youtube nya.
Ini kali pertama hati Pak Bobby merasa sangat penasaran tentang ilmu islam yang sebenarnya. Meskipun terlahir dan besar dalam keluarga yang mengakui islam. Namun itu tidak membuatnya tau ajaran Islam yang sebenarnya. Karena agama Islam hanya tertulis di KTP dan keluarganya juga tidak pernah mengajarkan bagaimana islam yang sebenarnya. Bahkan kewajiban untuk sholat pun, tak pernah dilakukan.
Setelah mendengar beberapa kajian tentang islam, Hati Pak Bobby merasa tenang dan seperti ada rasa yang selama ini belum pernah dirasakannya.
"Rasa apa ini? begitu damai seolah tak ada beban. Inikah yang dinamakan kedamaian saat kita dekat dengan Alloh?" gumam Pak Bobby memegang dadanya.
***
Keesokan harinya, Saat Ray akan berangkat ke kantor tiba-tiba Mita memanggilnya.
"Ada apa Mit?" tanya Ray dan Bela pun menatap Mita dengan penuh kecurigaan.
"Ah, ini Ray, kalau boleh aku mau minta tolong sama kamu! aku boleh tidak kalau aku ikut kamu sampe pertigaan depan sana. Aku mau pulang ke rumah sebentar, karena Ayahku minta di belikan obat," ucap Mita.
"Ikuti sama Ray saja Mit, rumah kamu kan juga tidak terlalu jauh. Minta Ray antar sekalian saja. Kasihan kan Ayah kamu kalau terlalu lama menunggu, takutnya kalau ayah kamu sudah sangat membutuhkan obat itu," sahut Bu Santi.
"Tidak, tidak tante, hanya sampe pertigaan depan saja kok, ada apotek di situ, nanti Mita bisa pulang sendiri. Mita tidak mau merepoti Ray tante, " ucap Mita
"Bagaimana bisa kamu bilang merepotkan Ray?kalian ini kan berteman, sesama teman harus saling menolong. Bukankah begitu Ray?" tanya Bu Santi.
"Iya, Mama benar. Kamu aku antar saja, takutnya Ayah kamu sudah membutuhkan obat itu," jawab Ray.
"Apa tidak apa-apa? Kamu kan harus ke kantor?" tanya Mita.
"Tidak apa-apa, masih ada waktu kok," jawab Ray.
"Sayang, aku berangkat dulu ya, kalau butuh apa-apa. Kamu minta tolong dulu sama bik Santi. Biar Mita pulang sebentar," ucap Ray.
"Iya Ray," jawab Bela tersenyum, tapi tidak dengan hatinya.
"Mbak Bela, Mita pergi sebentar ya Mbak, tante Mita berangkat," pamit Mita.
"Iya Mit, kamu rawat ayah kamu saja dulu. Kalau memang ayah kamu sedang sakit," ucap Bu Santi.
Mita masuk, ke dalam mobil Ray. Di bangku depan sebelah Ray. Bela pun merasa semakin tidak suka, karena yang duduk di bangku itu seharusnya dirinya, bukan Mita.
"Ray, maaf ya, Aku duduk di depan. Karena kalau aku duduk di belakang, nanti di kira kamu sopir. Tapi kalau kamu tidak nyaman, aku akan pindah ke belakang," ucap Mita seraya membuka kembali pintu mobil.
"It's okay, tidak usah pindah, udah terlanjur juga," ucap Ray yang sebenarnya juga tidak nyaman Mita ada di depan.
***
"Mereka serasi sekali ya, " gumam Bu Santi.
"Menurut kamu apa memangnya? Ternyata kamu memang tidak tau diri ya, Dengan kondisi kamu seperti ini, kamu berharap Ray akan setia sama kamu? Ray laki-laki normal, dia berhak bahagia dengan wanita normal yang tidak membuatnya malu dan hanya jadi beban untuk Ray, " jawab Bu Santi ketus.
"Assalamu'alaikum, " ucap Pak Bobby
"Walaikumsalam Pi," jawab Bela.
"Bela, kenapa kamu menangis?" tanya Pak Bobby.
"Ah, iya. Tidak Pi, Bela tidak menangis kok, ini tadi, tidak tau, sepertinya ada debu, masuk ke mata Bela," jawab Bela bohong.
"Oo.. rupanya sekarang giliran Pak Bobby yang mau mendekati anak saya, agar merawat anak Pak Bobby yang cacat ini?" ucap Bu Santi sinis.
"Bu Santi, saya ke sini bukan untuk bertemu dengan Ray, tapi saya ke sini untuk bertemu dengan Bu Santi," jawab Pak Bobby, seraya melihat ke arah Bela. Kini Pak Bobby mengerti penyebab anaknya menangis mungkin bukan debu, melainkan mertuanya.
"Bisa kita bicara sebentar," ucap Pak Bobby.
"Sepertinya di antara kita, tidak perlu lagi ada yang harus di bicarakan. Mau bicara apa lagi? bukankah semua yang kalian inginkan sudah kalian dapatkan? saham perusahaan dan anak saya, bukankah kalian sudah berhasil mendapatkan semuanya? apa lagi sekarang yang kalian mau?" tanya Bu Santi sinis dan melipat tangannya di depan dada.
"Bel, kamu bisa masuk ke kamar kamu dulu?" tanya Pak Bobby melihat Bela.
"Baik Pi," jawab Bela menjalankan kursi rodanya menuju kamar.
"Bu Santi, Saya paham, Bu Santi pasti tidak ingin melihat saya dan sangat membenci saya.Tapi saya mohon maafkan saya, terutama Bela. Bela hanya mengikuti perintah saya, Bela sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Dari awal Bela sudah tidak setuju dengan rencana saya, hanya saja, saat itu. saya di gelapkan oleh ketakutan perusahaan saya yang hampir bangkrut, "
"Sekarang saya sadar, apa yang telah saya lakukan salah, karena kesalahan yang saya lakukan, anak saya harus menanggung kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Saya ke sini, untuk mengembalikan semua aset yang telah saya ambil dari Bu Santi, saya mohon maafkan saya dan Bela Bu Santi," ucap Pak Bobby penuh penyesalan.
"Apa dengan saya memaafkan kalian, suami syaa bisa hidup kembali? tidak kan? bagaimana saya bisa memaafkan kalian? sementara suami saya sudah meninggal." ucap Bu Santi meneteskan air mata mengingat suaminya.
"Maafkan saya Bu Santi," ucap Pak Bobby menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di kaki Bu Santi.
"Sebaiknya Pak Bobby pergi, saya tidak ingin melihat Pak Bobby ada di rumah saya lagi, kalau perlu bawa sekalian anak Pak Bobby dari sini," ucap Bu Santi.
"Saya mohon Bu Santi, maafkan saya. Saya menyesal," ucap Pak Bobby.
"Papi, Papi bangun Pi! ucap Bela mendekat ketika melihat Papi nya bersimpuh di kaki Bu Santi.
"Tidak Bela, Papi pantas menerima semua ini, Papi orang jahat, Papi bersalah, " ucap Pak Bobby.
"Huh, sandiwara apa lagi ini? Ternya selain jadi penipu kalian ini juga orang-orang yang pandai bersandiwara." Bu Santi merasa muak dengan Pak Bobby dan Bela, karena mereka sudah membuat bisnisnya hancur bahkan suaminya harus mengalami serangan jantung lantaran melihat perusahaan yang di rintis dengan penuh pengorbanan di hancurkan oleh orang yang di percayainya."
^Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya. Dukungan kalian sangat berarti bagi thor🙏Terima kasih readers ku sayang🙏🥰😘