Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
DH 66


Pulang dari kantor, Ray kembali ke rumah sakit untuk menemui Raynan dan Bela. di sana Ray juga bertemu dengan Riza.


"Hore, Raynan punya dua Daddy," ucap Raynan tersenyum melihat Riza dan Ray.


Riza pun menatap Bela dan Bela menganggukkan kepala.


"Raynan, Daddy Ray, mau keluar sebentar dan berbicara dengan Daddy Riza ya," ucap Ray melihat kearah Riza.


Ray keluar dan dan Riza mengebor. Sesampainya di luar, Ray mengajak Riza untuk duduk dan berbicara.


"Riza, aku mengucapkan terima kasih, karena kamu sudah ada untuk menjadi Ayah Raynan selama ini, tapi sekarang aku sudah bersama dengan Raynan, aku harap kamu mengerti maksudku," ucap Ray.


"Maksudnya Pak Ray, ingin agar Raynan tidak memanggil saya Dady lagi, Pak?" tanya Riza.


"Rasanya akan terlihat aneh, jika ada yang mendengar kalau Raynan memiliki dua daddy kan?" tanya Ray.


"Tapi saya dan Raynan sudah seperti anak dan Ayah, kedekatan kami ini sudah lama terjalin, saya rasa akan susah untuk Raynan jika tiba-tiba, saya meminta Raynan agar tidak memanggil saya dengan sebutan daddy. lagipula apalah arti sebuah sebutkan Pak Ray?" ujar Riza.


"Kamu memang benar, tapi biar bagaimana. Kita pelan-pelan harus memberi pengertian pada Raynan," ucap Ray.


"Terserah Pak Ray saja, tapi saya rasa, tidak akan mudah untuk menyuruh Raynan berhenti memanggil saya daddy. Karena sejak dia lahir saya sudah ada di sisinya dan waktu pertama kali Raynan bisa berbicara, kata yang terucap adalah Daddy dan Daddy yang di maksud adalah saya." jelas Riza.


Mendengar apa yang dikatakan Riza, hati Ray samakin terasa teriris.


Kali ini Ray bertekad akan memperjuangkan kembali keluarga kecilnya agar bisa kembali bersatu, Ray tidak ingin anaknya bersandar dengan orang lain, Ray ingin menebus hari-hari yang seharusnya di lalui bersama dengan dirinya.


"Apa Ray sudah pulang?" tanya Bela saat Riza masuk ke ruang rawat Raynan sendiri.


"Iya, sepertinya Pak Ray langsung pulang setelah berbicara denganku," jawab Riza.


"Yah, Kok Daddy Ray pulang? kan belum bermain dengan Raynan," sahut Raynan terlihat sedih.


"Kamu kenapa sayang? jangan sedih gitu, kan ada Daddy Riza di sini," bujuk Bela.


"Iya, sayang. Biasanya juga mainnya sama Daddy kan?" tanya Riza pada Raynan.


"Iya, tapi Raynan juga ingin bersama dengan daddy Ray," jawab Raynan sedih.


"Sekarang Raynan istirahat dulu, karena ini sudah waktu buat Raynan istrahat! katanya ingin cepat sembuh kan? jadi harus banyak istirahat," ucap Bela mengalihkan pembicaraan.


Setelah Raynan tidur, Bela dan Riza berbicara di luar, karena tidak ingin Raynan mendengar pembicaraan mereka.


"Jadi kamu yakin tidak akan kembali lagi sama Pak Ray, Bel? aku lihat Pak Ray masih menyayangi kamu dan sepertinya Pak Ray juga menyayangi Raynan." ucap Riza setelah mendengarkan Bela mengatakan menolak ajakan Ray untuk kembali bersama.


"Antara aku dan Mami nya, Ray. ada sekat yang tidak mungkin bisa kita lewati. Ada tembok besar yang menjadi penghalang untuk kami bersama. Tembok itu dulunya aku yang membuatnya, jadi sekarang aku sendiri yang harus merasakan pahitnya terhalang oleh tembok yang aku ciptakan sendiri." ujar Bela.


"Jujur aku tidak paham tembok apa yang kamu maksud, tapi bukankah intinya ada pada kamu, Raynan dan Pak Ray. Kalau masalah Mami Pak Ray, aku yakin suatu saat pasti bisa menerima kalian," ucap Riza.


"Tidak semudah itu, Za. Aku sudah menyakiti hati Mami terlalu dalam, wajar jika Mami tidak bisa melupakan kesalahan yang aku lakukan, Aku tidak mau menjadi orang egois dengan kembali bersama Ray. Karena jika kami kembali bersama itu sama halnya aku akan membuat Mami kembali terluka," jelas Bela.


"Walaikumsalam, Aisyah, Kak Ulya. Kalian mau menjenguk Raynan?" tanya Bela.


"Iya, kami ke sini untuk melihat keadaan Raynan. Bagaimana keadaan Raynan sekarang, " tanya Aisyah.


"Alhamdulilah, Raynan sudah lebih baik. InsyaAlloh dalam waktu dua hari sudah boleh pulang." jawab Bela.


"Oiya, Aisyah, Kak Ulya, kenalkan ini Riza. Dia orang yang selama ini sudah banyak membantu mu," ucap Bela memperkenalkannya Riza pada Ulya dan Aisyah.


Aisyah dan Ulya menganggukkan kepala dan tersenyum pada Riza.


"Apa kami bisa melihat Raynan?" tanya Ulya.


"Maaf Kak, bagaimana kalau kalian tunggu di sini dulu! Sampai Raynan bangun. Soalnya Raynan baru saja tidur." jawab Bela.


"Baiklah, kita tunggu Raynan di sini saja." ucap Aisyah.


"Bela, aku balik kantor dulu. Kalau ada apa-apa, kamu segera hubungi aku," ucap Riza.


"Iya," jawab Bela singkat.


"Assalamualaikum," ucap Riza pamit.


"Walaikumsalam," jawab semuanya.


"Saat aku mendengar apa yang terjadi sama kamu selama ini, jujur aku kaget mendengarnya. Bagaimana bisa kamu melalui semua ini sendiri, Aku tau, jalan yang kamu ambil ini, tentu sudah kamu pikirkan resikonya, tapi membesarkan anak seorang diri bukanlah hal yang mudah, Kenapa kamu lebih memilih jalan ini, dari pada memberitahu Ray tentang anak kalian?" tanya Ulya.


"Aku tidak mungkin melakukan semua itu Kak, aku pergi karena aku tidak ingin membuat Mami menderita lagi. Jika aku kembali lalu bagaimana dengan perasaan Mami? aku tidak ingin melukai hati Mami," jelas Bela.


"Tapi ada anak yang tidak berdosa dan memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya." ucap Ulya.


"Kak, semuanya terasa sulit untuk ku. Tapi aku tidak tega melihat Mami harus bersedih karena setiap melihatku. Mami akan kembali teringat dengan Papi. Papi meninggal karena aku," ucap Bela dengan mata berkaca-kaca.


"Semua sudah berlalu begitu lama, bahkan kamu juga sudah bertaubat dengan menyesalinya, Seharusnya tante Santi juga tidak terus hidup di dalam dendam seperti ini." ucap Ulya menghela nafasnya.


"Bukan salah Mami kak, aku tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kita cintai. tidak mudah bagi Mami untuk melupakan kesalahan yang telah aku lakukan," ucap Bela.


***


Sementara Bu Santi saat ini sedang bersandar pada tempat tidurnya, di dalam benaknya terus saja terlihat wajah cucunya.


Sekarang Bu Santi yakin jika itu adalah cucunya. Tapi menerima Bela kembali bersama dengan Ray juga terasa berat meskipun hatinya ingin. Karena bayangan kematian suaminya akan kembali hadir setiap kali memikirkan Bela. tidak mudah bagi Bu Santi untuk melupakan semua kesalahan Bela di masa lalu.


Tetapi memikirkan cucunya harus hidup jauh darinya dan memanggil orang lain Daddy juga membuatnya sakit hati. Meskipun Ray sudah menjelaskan maksud dan tujuan Riza berperan sebagai Daddy agar Raynan tidak merasa kehilangan sosok figur seorang Ayah.


"Apa ini semua salahku?" gumam Bu Santi.


^Happy Reading^