Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 31


"Ray, itu gimana ceritanya, Mita bisa jadi perawat disini?" tanya Niko saat Mita sudah kembali ke belakang.


"Aku juga tidak tau, Pihak rumah sakit yang mengirim Mita ke sini. Aku juga tidak menyangka kalau Mita, perawat yang dikirim pihak rumah sakit untuk menjaga Bela," jawab Ray.


"Bisa kebetulan gitu ya?" gumam Niko.


"Kenapa bilang begitu Nik?" tanya Ray mengernyitkan dahinya.


"Bukan apa-apa, hanya saja. Takutnya kalau CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali)," goda Niko.


"Astaghfirullah, kenapa kamu punya pikiran seperti itu sih Nik?" gerutu Ray.


"Hahaha.. Bercanda kok Ray, tidak usah terlalu serius gitu. Cuma kalau aku lihat dari cara Mita melihat kamu, entah kenapa aku merasa kalau Mita ini seperti ada sesuatu gitu, " ucap Niko.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti Nik, aku dan Mita itu hanya masa lalu, itupun hanya cinta monyet." ucap Ray.


"Ya walaupun cinta monyet seperti yang barusan kamu bilang, kalian pernah punya cerita kan?" ujar Niko.


"Lalu, menurut kamu aku harus bagaimana? tidak mungkin juga kan, kalau aku mengganti perawat lain? nanti malah jadi tidak enak sama Mita," ucap Ray.


"Hati-hati saja Ray, jaga jarak. Jangan terlalu dekat. Takutnya nanti Mita berharap lebih, pikirkan juga perasaan Bela. Kalau Bela tau kalian dulu pernah punya cerita, " Niko mencoba menasehati Ray.


"Terima kasih Nik, kamu memang sahabat terbaik. Untung kamu dan Danu selalu ada untukku." Ray tersenyum memegang pundak Niko.


"Om.. Ray, kita main kesana yuk, " ajak Fatin menunjuk ayunan di dekat kolam ikan.


"Fatin, mau ke sana?" tanya Ray melihat Fatin.


"Iya, Fatin mau main itu sama Om Ray, " jawab Fatin.


"Okay, ayo kita kesana. " Ray berdiri.


"Gendong, " ucap Fatin membuka tangannya minta digendong.


"Okay, Princes," Jawab Ray menggendong Fatin


Bela baru saja selesai belajar mengaji dan sekarang berada di luar bersama dengan Ulya dan Niko.


"Ray terlihat bahagia sekali ya bermain sama anak kalian," ucap Bela tersenyum.


"Iya, Ray memang sangat menyayangi Fatin dan Alka. Kalau mereka sedang bersama, pasti ribut gara-gara rebutan Ray," ucap Ulya tersenyum.


"Ray memang orang yang baik, bahkan anak-anak pun bisa merasakan kebaikannya," gumam Bela dengan mata berkaca-kaca.


"Seperti itulah Ray, Bel. Mulai sekarang jadilah istri yang baik untuk Ray. Karena Ray itu mencintai kamu." Ulya tau betul bagaimana perasaan Ray, karena Ray sering cerita pada Niko. Bahkan Ray tidak mau berpisah dari Bela meskipun tau Bela menghianati pernikahan mereka.


"Aku ini istri yang sangat buruk, laki-laki sebaik Ray. Aku sia-siakan," gumam Bela menyesal karena sudah sangat bodoh menyia-nyiakan suami sebaik Ray.


"Itu semua sudah berlalu, yang terpenting kedepan kamu harus belajar menjadi istri yang baik, " ucap Ulya.


"Benar, apa yang dikatakan Ulya Bel. Ray itu mencintai kamu. Jangan kamu sakiti hatinya lagi," sahut Niko.


"Bagaimana, aku bisa menjadi istri yang baik. Kalian lihat sendiri, dengan kondisi ku yang seperti ini, aku hanya menjadi beban untuk Ray." ucap Bela.


"Suami istri itu satu, jika saat ini kaki kamu tidak bisa untuk berjalan. Maka Ray yang akan menjadi kaki kamu untuk berjalan. Sehat, sakit, senang ataupun sedih. Yang namanya suami istri harus saling mendukung dan merawat satu sama lain." Ulya menasehati Bela.


Bela yang sekarang sudah mulai mengenakan jilbab, merasakan perhatian yang tulus dari Ulya dan semua sahabat Ray, tidak ada yang menghakimi masa lalu Bela. Semua tulus membantu Bela untuk bisa menjadi muslimah yang baik dan istri yang baik.


"Ulya, Niko. Terimakasih. Kalian begitu baik. Jujur aku tidak menyangka, kalau kalian akan menerimaku, sebagai bagian dari persahabatan kalian. Padahal aku ini bukan orang baik, tapi aku bisa merasakan ketulusan dari kalian, " ucap Bela meneteskan air mata.


"Tente cantik, kenapa menangis?" tanya Fatin mendekat.


"Tante tidak menangis sayang. Ini tadi, mata tante kelilipan debu, " jawab Bela menyeka air matanya.


Ray tersenyum melihat Fatin, Ray tau kalau istrinya sedang menangis.


"Kamu tidak apa-apa Bel?" tanya Ray.


Bela merasa bersyukur, berada ditengah-tengah orang yang baik. Orang-orang yang tidak suka ikut campur urusan orang lain, bahkan sangat terbuka menyambut seseorang yang mau bertaubat. Dengan senang hati mereka, membimbing menuju kebaikan tanpa melihat dan menghakimi masa lalunya yang kelam.


***


Dipesantren


Bu Santi termenung dan setelah memikirkan semuanya, Bu Santi memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


Bu Santi, memang tidak menyukai Bela dan masih sangat sakit hati pada Bela. Tapi Bu Santi juga tidak mungkin selamanya menghindari Bela. Apalagi saat ini, yang dipunya hanya Ray. Anak semata wayangnya.


"Bu Santi, apa benar mau pulang sekarang?" tanya Umi Zaroh.


"Iya, Umi. Sepertinya sudah waktunya untuk saya kembali ke rumah. Kasihan Ray, kalau saya meninggalkan Ray terlalu lama, selama ini sebagai seorang ibu. Saya tidak pernah memperhatikannya, sekarang waktunya untuk saya menebus semua itu Bu," ujar Bu Santi.


"Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk Ray dan Bu Santi," Umi Zaroh, mendoakan Bu Santi dan tersenyum seraya memeluknya.


"Terima kasih, Umi. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Umi dan Abah yang sudah berkenan menerima saya di sini. Di pesantren ini, saya mendapatkan banyak sekali ilmu, ilmu yang selama ini saya abaikan. Karena saya terlalu silau dengan dounia. Saya sangat beruntung bisa bertaubat sebelum ajal menjemput saya," ucap Bu Santi.


"Iya Bu, sering-sering lah ke sini. Saya berdoa semoga Bu Santi, selalu istiqomah dijalan Alloh." jawab Umi Zaroh


"Kapan saja Bu Santi ingin ke sini, pesantren ini akan sselalu terbuka untuk Bu Santi, " timpal Abah.


"Terima kasih, Abah. Sekarang saya pamit Abah, Umi. Assalamu'alaikum," ucap Bu Santi.


"Walaikumsalam," jawab Umi Zaroh dan Abah.


"Umi, lega Bah. Bu Santi sekarang pikirannya sudah terbuka," ucap Umi Zaroh saat Bu Santi sudah naik ke dalam taxi.


"Iya, Mi. Semoga setelah ini, Ray bisa mendapatkan kebahagiaan. Dan semoga saja Bu Santi selalu beristiqomah di jalan Alloh," ucap Abah.


"Aamiin," Umi Zaroh mengaminkan.


***


"Assalamu'alaikum," ucap Bu Santi memasuki rumahnya.


"Walaikumsalam, Nyonya. Anda sudah pulang?" tanya Bik Siti mengambil koper yang ada ditangan Bu Santi.


"Biar saya bawakan kopernya Nyonya," ucap Bik Siti.


"Terima kasih, Bik. Oya Bik, Ray di mana?" tanya Bu Santi melihat rumah tampak sepi.


"Den Ray, sedang di kantor. Kalau Non Bela sedang terapi ke rumah sakit, Nyonya," jelas Bik Siti.


"Bela, terapi ke rumah sakit sama siapa Bik?" tanya Bu Santi.


"Non Bela ke rumah sakit diantar Pak Diman dan Mbak Mita," jawab Bik Siti.


"Mita? Siapa itu Mita?"


"Mbak Mita, perawat yang ditugaskan untuk menjaga Non Bela, Nyonya. "


Bu Santi, terdiam dan berjalan menuju kamar. Dikamar ingatan Bu Santi kembali mengingat Pak Yudha.


Bu Santi melihat Foto keluarga yang ada di kamarnya.


"Pi, sekarang Mami sendiri dikamar ini. Biasanya selalu ada Papi di sini. Pi, saat ini Mami tidak tau bagaimana harus bersikap saat nanti Mami melihat Bela. Mami tau kepergian Papi adalah takdir, tapi Mami tetep saja belum bisa menerima, karena Papi sakit saat tau kalau perusahaan kita hancur dan itu karena Bela." Gumam Bu Santi menatap foto Pak Yudha.


Dan saat melihat foto Ray, Bu Santi kembali berpikir nasib putra semata wayangnya.


"Apa selamanya kamu akan mengorbankan diri kamu, untuk merawat wanita seperti Bela Ray? Mami tau, ini semua kesalahan Mami. Seandainya Mami tidak gila harta, kamu tidak akan menanggung semua ini." kembali Bu Santi bersedih mengingat penyesalannya di masa lalu.


^Happy Reading^