Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 55


Hari ini Ray kembali pulang ke rumah, tapi yang membuatnya sedih lantaran dirinya tak sempat bertemu dengan Raynan. Anak yang baru saja dikenal namun mampu mengisi ruang di hatinya.


"Assalamu'alaikum," ucap Ray saat masuk ke rumah.


"Walaikumsalam, Ray. kamu sudah pulang. Mami seneng banget, Mami akan segera memberi kabar pada Motay, kalau kamu sudah pulang," ucap Bu Santi


"Astaghfirullah, Mi. Ray ini baru saja pulang dari luar kota, Ray sangat capek. Tolong biarkan Ray istirahat sebentar saja Mi," ucap Ray merasa malas setiap pulang ke rumah harus membahas Mita.


"Iya-iya, maaf. Mami terlalu bersemangat. Ya sudah, besok saja kita ke rumah Mita." sahut Bu Santi.


"Mi, kenapa harus bahas itu lagi?" keluh Ray.


"Kali ini kamu jangan menghindar lagi Ray! Kamu sudah janji sama Mami. Mami ingin kamu segera menikah dengan Mita, kasihan anak orang kamu gantung selama lima tahun," ucap Bu Santi


"Kapan Ray gantung Mita? Dari awal Ray sudah bilang jangan mengharap apa-apa dari Ray. Ray tidak terpikirkan untuk menikah lagi Mi," jelas Ray.


"Apa maksud kamu bilang seperti itu? Bukankah kamu bersedia cerak sama Bela, karena kamu setuju untuk menikah dengan Mita?" ucap Bu Santi.


"Apa Ray pernah bilang seperti itu? Ray mau bercerai bukan karena Ray ingin menikah lagi Mi, tapi karena Bela. Ray tidak ingin mengikat Bela." jawab Ray mengusap wajahnya karena harus kembali mengingat Bela.


"Tapi, Mami mau kamu menikah dengan Mita, Ray. Mami ingin segera menimang cucu." ucap Bu Santi dengan nada tinggi.


"Maaf, Mi. Ray belum ada pikiran ke sana," jawab Ray.


"Lalu sampai kapan kamu akan seperti ini? Apa samapai Mami mati? Mami ini sudah semakin tua Ray, mami ingin sebelum Mami di panggil Alloh, Mami merasakan bagaimana rasanya menimang cucu, Mami ingin bisa melihat anak kamu sebelah Mami nanti meninggalkan," ucap Bu Santi sedih.


"Mi, kenapa Mami seperti ini?" Ray mendekati Mami nya.


"Kamu tau pasti Ray, mungkin usia Mami juga tidak lama lagi," ucap Bu Santi.


"Mi, jangan bicara seperti itu. bukankan operasi yang Mami jalani sangat sukses dua tahun yang lalu? Tidak pernah kambuh lagi kan Mi?" tanya Ray


Dua tahun yang lalu Bu Santi memang pernah melakukan operasi pengangkatan payudara lantaran ditemukan tumor ganas di ***********.


Operasi yang dilakukan tergolong berhasil, namun tetap saja kekhawatiran tumor itu akan kembali muncul juga bisa terjadi.


"Bukankan umur seseorang tidak ada yang tau? Karena itu tolong menikahlah dengan Mita, kabulkan keinginannya Mami. Mami sangat ingin melihat anak kamu sebelum Mami meninggal." ucap Bu Santi.


"Tapi Ray tidak mencintai Mita Mi, sampai saat ini Ray masih berharap Alloh mempertemukan kembar Ray dengan Bela." jawab Ray dengan penuh harap.


"Astaghfirullah, kenapa Bela lagi, Bela lagi? Selalu Bela. Ray kalian sudah bercerai. Apalagi dengan kondisi Bela, dia tidak mungkin bisa memberi Mami cucu. Lalu untuk apa lagi kamu kamu masih berharap darinya? Apa yang kamu harapkan dari Bela? Mami sangat ingin memiliki cucu Ray," ucap Bu Santi.


"Kalau Mami sangat ingin cucu, Ray bisa adopsi seorang anak. Bukankan cucu tidak harus darah daging Ray sendiri?" ucap Ray.


"Tentu saja, Mami maunya cucu dari kamu, darah daging kamu, keturunan kamu sendiri Ray!" tegas Bu Santi.


"Apa kamu tega membiarkan Mami meninggal dunia dengan penyesalan, karena tidak sempat melihat anak kamu Ray?" ucap Bu Santi dengan wajah memelas dan mata berkaca-kaca.


"Mami tolong jangan bicara seperti itu," ucap Ray memeluk Bu Santi.


"Tolong, Ray. Menikahlah dengan Mita. Beri Mami cucu," ucap Bu Santi.


"Kita bicarakan ini besok pagi ya, Mi. sekarang Ray mau tidur dulu, Ray ngantuk, badannya Ray capek banget," ucap Ray mengalihkan pembicaraan.


"Ya, sudah. Tidurlah! tapi besok, kamu harus mau ikut Mami ke rumah Bela. Kita temui orang tua Bela," ucap Bu Santi.


"Terserah Mami saja," jawab Ray berlalu


Sesampainya di kamar, Ray menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Matanya menerawang mentap langit-langit. Dirinya sangat ingin menolak perjodohan yang Mami nya lakukan kali ini, namun dirinya juga tidak sampai hati menolak keinginan Mami nya. Ray takut kalau ini memang permintaan terakhir Mami nya. Karena kita tidak tau kapan ajal akan menjemput.


"Kenapa, Raynan begitu mencuri perhatianku ya? Aku memang menyukai anak kecil, aku menyayangi Alka, dan Fatin. Tapi kenapa rasa untuk Raynan berbeda. Ada perasaan lain yang tidak sama seperti saat aku bersama Alka dan Fatin," gumam Ray dan tanpa di sadari bibirnya tersenyum saat membayangkan Raynan.


"Raynan Yoraldi, Kenapa nama kami juga bisa begitu mirip? Apa benar ini hanya kebetulan? Andai saja kemarin aku bisa bertemu dengan Mommy nya Raynan, aku pasti akan bertanya, bagaimana bisa dia memberikan nama begitu mirip dengan namaku? Huh.. sudahlah, sebaiknya aku tidur," gumam Ray kembali mencoba memejamkan matanya.


Bahkan di alam bawah sadarnya pun, saat ini Ray sedang bermimpi bermain bersama dengan Raynan, berlari-larian dan tiba-tiba Bela muncul menggendong Raynan dan membawa Raynan pergi darinya.


"Bela..! Bela..!.. Bela..! Astaghfirullah hal adzim." ucap Ray bangun dari tidurnya dan berkali-kali istighfar.


"Ya Alloh, mimpi apa ini? Kenapa bisa mimpinya seperti itu? Bagaimana mungkin aku bermimpi seperti itu," guamam Ray berkali-kali dan menhusap wajahnya.


***


"Ray, hari ini tidak ada alasan lagi. Mami sudah menghubungi keluarga Mita, kita akan kesana untuk melamar Mita hari ini juga," ucap Bu Santi.


"Tapi Mi, Kenapa harus mendadak seperti ini?" tanya Ray tak percaya dengan apa yang Mami nya sampaikan.


"Mendadak bagaimana? ini bukan mendadak. sudah lama Mami bilang sama keluarga Mita, kalau kita akan ke sana, tapi kamu terus saja beralasan. Sekarang mau alasan apa lagi kamu?" ucap Bu Santi.


Dan kali ini Ray memang sudah tidak ada waktu lagi untuk beralasan dan kali ini Ray pasrah dengan Takdir yang mungkin harus di jalaninnya. Karena Ray percaya, Takdir Alloh pasti yang terbaik.


***


Sementara Pagi ini Raynan yang baru sampai di Jakarta begitu senang melihat gemerlap keramaian yang ada di Jakarta.


"Wow.. gedungnya tinggi-tinggi sekali Dad" gumam Raynan takjub.


Riza dan Bela hanya saling pandang melihat Raynan yang begitu senang melihat keramaian Jakarta.


"Riza, jujur sebenarnya aku tidak ingin kembali ke kota ini, aku lebih suka berada di desa. Kalau bukan karena Raynan yang ingin sekali melihat monas, sebenarnya aku tidak ada rencana untuk kembali ke kota ini," ucap Bela.


"Aku paham maksud kamu, tapi lihatlah! apa kamu tidak kasihan melihat Rayna yang terus saja berada di desa? Raynan juga berhak melihat dunia luar," jawab Riza


"Iya, apa yang kamu katakan memang benar," ucap Bela tersenyum melihat putranya yang begitu bahagia.


Sesampainya di apartemen Riza, Raynan yang biasa hidup di desa benar-benar terpukau melihat segala fasilitas yang ada di apartemen Riza.


"Daddy tinggal di sini?" tanya Raynan.


"Iya, Daddy tinggal di sini. Ini apartemen milik daddy," Jawab Riza.


"Keren sekali, Raynan ingin tinggal di sini saja sama Daddy," ucap Raynan.


"Kalau itu, Raynan harus tanya sama mommy," jawab Riza.


"Mom, kita tinggal di sini saja ya!" rengek Raynan.


"Tidak bisa sayang, kita kan harus mengurus perkebunan, kalau kita di sini siapa yang akan mengurus perkebunan?" tanya Bela.


"Pokoknya Raynan mau tinggal di sini, Raynan tidak mau pulang," ucap Raynan yang tidak suka dengan jawaban Bela.


"Raynan, jangan seperti ini ya, nak. Mommy tidak suka, kalau Raynan seperti ini," ucap Bela.


"Mommy jahat," ucap Raynan berlari.


"Raynan..! Raynan.. berhenti nak..!" teriak Bela dan Riza mengejar Raynan.


^Happy Reading^