Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 56


"Raynan, jangan seperti ini ya, nak. Mommy tidak suka, kalau Raynan seperti ini," ucap Bela.


"Mommy jahat," ucap Raynan berlari.


"Raynan..! Raynan.. berhenti nak..!" teriak Bela dan Riza mengejar Raynan.


"Raynan, bahaya sayang. Jangan lari!" teriak Riza.


"Aaww.. " teriak Raynan.


Bruk..! Bruk..! Bruk..!


Raynan terjatuh dari tangga darurat.


"Raynan..!" teriak Bela histeris.


"Raynan," pekik Riza segera berlari dan membopong Raynan berlari menuju mobil dan di bawa ke rumah sakit terdekat.


"Raynan.. Maafkan mommy sayang, maafkan mommy, bangun Raynan, bangun..! ucap Bela terisak.


"Cepet Riza, kita harus segera sampai rumah sakit," ucap Bela seraya mengusap wajah anaknya. Tangan Bela kini sudah berlumur dengan darah.


Riza mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seraya terus berdoa untuk Raynan.


Tak butuh waktu lama kini mereka sampai di rumah sakit, Riza berlari dan berteriak memanggilnya dokter meminta pertolongan seraya menggendong Raynan.


Dokter dan perawat segera memberikan pertolongan pertama untuk Raynan.


Dan mempersilahkan Bela dan Riza keluar.


Di luar Bela tak henti-hentinya berdoa untuk Raynan.


"Bel, maafkan aku. Ini salahku. Seandainya aku tidak menuruti keinget Raynan untuk ikut ke Jakarta, ini semua tidak akan terjadi. Maafkan aku Bel," ucap Riza.


Bela hanya diam tak menjadi, bibirnya selalu berzikir dan mendoakan Raynan.


Waktu berputar terasa begitu lama, saat Bela menunggu di luar ruangan.


Hingga Dokter datang dan memberi tau kalau Raynan harus segera di operasi, namun persediaan darah di rumah sakit tidak ada lantaran darah Raynan tergolong langkah AB rhesus negatif.


"Dok tolong carikan ke semua rumah sakit atau PMI yang penting Raynan bisa di selamatkan Dok," ucap Riza.


"Kami sudah menghubungi seluruh rumah sakit dan juga bank darah, namun untuk persediaan darah AB rhesus negatif semuanya kosong. Apakah anda orang tuanya, mungkin di antara bapak dan ibu bisa mendonorkan darah untuk Raynan?" ucap Dokter.


"Saya bukan ayah kandung Raynan, Dok" ucap Riza sedih.


"Bagaimana kalau Ibu?" Kembali Dokter bertanya.


"Golongan darah saya A Dok," jawab Bela dengan mata menerawang.


Saat ini yang ada di pikiran Bela hanya Ray, Ray Ayahnya pasti golongan darah mereka sama.


"Dok, saya akan menemukan pendonor untuk Raynan," ucap Bela.


"Baiklah, kalau bisa secepatnya. Karena pasien tidak bisa menunggu terlalu lama," ucap Dokter.


"Siapa Bel? yang akan menjadi pendonor?" Sahut Riza.


"Za, tolong hubungi Pak Ray, dan minta tolong agar Pak Ray mendonorkan darahnya untuk Raynan!" ucap Bela memelas.


"Pak Ray? maksud kamu, Pak Ray Mitra kerjaku?" Riza tampak bingung.


"Iya, cepat Za, Raynan tidak punya banyak waktu. cepat hubungi Ray!" desak Bela.


"Tapi, kenapa harus Pak Ray, dari mana kamu tau kalau mereka memiliki darah yang sana?" tanya Ray.


"Cepat hubungi Za, jangan buang waktu," tangis Bela dan Riza pun segera mengambil ponsel dan menghubungi Ray.


***


Saat ini Ray dan juga Bu Santi baru saja sampai di rumah keluarga Mita.


"Silahkan duduk," ucap Pak Bagas ayah Mita.


"Terima kasih Pak Bagas," ucap Bu Santi duduk.


"Senang sekali, akhirnya kami ada waktu untuk berkunjung ke sini, ya. Karena kesibukan anak saya, Ray. Beberapa kali kunjungan kami ke sini terpaksa harus kami batalkan," ucap Bu Santi.


"Iya, tidak apa-apa Bu Santi. Kami mengerti, Ray pasti sangat sibuk." ucap Pak Bagas dan Mita serata ibunya pun tersenyum.


"Jadi, begini Pak Bagas. Tujuan kami datang ke sini ini untuk_" ucap Bu Santi terputus.


Dret.. dret...!


Panggilan masuk di ponsel Ray.


"Sebentar Mi, ada telpon. Biar Ray angkat dulu, takutnya penting," ucap Ray.


"Biarkan saja dulu Ray, paling juga masalah pekerjaan," ucap Bu Santi lirih.


"Tidak bisa gitu dong Mi, kalau ternyata penting bagaimana? Sebentar saja," ucy Ray menyakinkan dan keluar untuk mengangkat panggilan.


"Maafkan Anak saya Pak, Ray memang begitu gila kerja," ucap Bu Santi yang merasa tidak enak karena Ray lebih memilih mengangkat panggilan di tengah obrolan.


"Oiya, tidak apa-apa Bu Santi, kami mengerti," jawab Pak Bagas.


***


"Assalamu'alaikum," ucap Ray mengangkat telpon.


"Walaikumsalam, Pak Ray. Saya butuh bantuan bapak," ucap Riza panik dari sebrang telpon.


"Bantuan? Bantuan apa? kenapa kamu terdengar begitu panik?" tanya Ray.


"Bisakah sekarang bapak datang ke rumah sakit Pratama?" tanya Riza.


"Ke rumah Sakit Pratama? Ada apa memangnya? siapa yang sedang sakit." tanya Ray.


"Raynan kecelakaan, dan saat ini sedang membutuhkan golongan darah AB rhesus negatif, Dokter tidak bisa melakukan operasi jika belum ada pendonornya. Stok darah AB rhesus negatif di semua rumah sakit dan bank darah tidak ada Pak, saat ini hanya bapak harapan kami. Tolong bantu anak kami pak," jawab Riza memohon.


"Apa Raynan, ada di Jakarta?" tanya Ray.


"Iya, Pak. Saat ini Raynan ada di sini," jawab Riza.


"Baiklah saya akan segera ke sana" ucap Ray tanpa berpikir panjang.


Ray segera masuk ke dalam dengan wajah sangat gelisah.


"Maaf Ma, Om, Tente, Mita. Saya harus pamit sekarang! ada hal penting yang harus saya lakukan," ucap Ray berlalu.


"Ray, tunggu! Kamu mau kemana?" panggil Bu Santi dengan nada tinggi menghentikan langkah Ray.


"Ray harus pergi ke rumah sakit, ada seseorang yang membutuhkan darah Ray, Ma." ucap Ray berlalu dan tidak menghiraukan lagi panggilan dari Mama nya.


"Itu anak, selalu saja seperti itu. Saya benar-benar minta maaf atas kelakuan Ray, Pak Baga," ucap Bu Santi merasa tidak enak.


"Lalu bagaimana ini Bu? sampai kapan lagi Mita harus kembali menunggu?" tanya Pak Bagas dan kali ini Pak Bagas mulai kesal dengan janji-janji Bu Santi yang mengatakan anaknya akan melamar Mita, putri mereka.


"Sekali lagi, saya Mohon maaf Pak, ini memang kesalahan anak saya.," sesal Bu Santi.


"Mita ini perempuan Bu Santi, apa dia masih harus menunggu untuk sesuatu yang tidak jelas seperti ini? jujur kali ini saya sangat kecewa dan merasa di permainan oleh Ray." ucap Pak Bagas.


***


Mobil yang Ray kendarai melaju dengan kecepatan tinggi, hatinya terasa sakit mengetahui Raynan kecelakaan. Tapi tiba-tiba terlintas dipikiran Ray, dari mana Riza tau kalau golongan darah Ray AB rhesus negatif dan kenapa bukan Riza atau mommy nya yang mendonorkan darah untuk Raynan.


"Agh.. sudahlah, aku tidak perlu memikirkan semua itu. Aku harus segera sampai rumah sakit," gumam Ray.


^Happy Reading^


Jangan lupa, Like, coment dan vote ya. dukungan kalian sangat berarti untuk Thor, Terima kasih🙏😘💕