Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 51


Hari ini seperti biasa Ray lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kantor, tak terasa sudah empat bulan lebih Bela meninggalkan dirinya.


Kalau saat kepergian Bela yang pertama, Ray masih memiliki keyakinan untuk bisa kembali bertemu dengan Bela dan bersatu dengan Bela namun tidak dengan kali ini. Karena saat ini bak di telan bumi, Bela dan pak Bobby sama sekali tak ada kabarnya. bahkan tidak sedikitpun gerak-gerik bisnisnya tercium.


Sebagai seorang pebisnis, harusnya Pak Bobby akan mudah di cari keberadaannya, jika Pak Bobby memulai bisnisnya kembali. Tapi seperti Pak Bobby sudah meninggalkan dunia bisnis agar tidak mudah di temukan.


"Ternyata, kamu benar-benar ingin meninggalkan aku Bel, Tak ada sedikit pun jejek tentang keberadaan kalian. Aku yakin, kalian masih di Indonesia, tapi kenapa tak satupun dari orang suruhan ku berhasil menemukan jejak kalian? sebenarnya kalian ada di mana?" gumam Ray.


Tok..! Tok..! Tok..!


"Masuk," jawab Ray tersadar dari lamunan saat ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Maaf, Pak Ray. Pak Riza, klien kita dar PT. Sinar food sudah menunggu anda di ruang meeting," ucap sekertaris Ray.


"Okey, saya akan ke sana," ucap Ray berdiri dan menuju ruang meeting.


Sesampainya di ruang meeting, Ray memperkenalkan diri pada pada Riza.


"Ternyata Pak Ray, jauh lebih muda dari apa yang saya bayangkan," ucap Riza tersenyum dan berjabat tangan.


"Saya pun berpikir sama dengan anda, ternyata anda juga masih muda. sepertinya kita seumuran ya?' ucap Ray.


"Sepertinya begitu Pak," jawab Riza tersenyum.


"Silahkan duduk," ucap Ray mempersilahkan.


"Terima kasih, Pak Ray." jawab Riza.


"Saya sudah melihat proposal yang kalian kirim dan sebenarnya saya lumayan tertarik dengan kerja sama yang kalian tawarkan pada kami. Memang saat ini minuman kopi dan teh sedang menjadi trend di semua kalangan, tapi bukankah kebanyakan dari orang-orang ini, akan lebih suka menikmati kopi dan teh mereka di cafe, lalu apa yang menjadi dasar keyakinan kamu? kalau kopi dan teh yang akan kita buat dalam kemasan ini, mampu menarik minat pembeli?" tanya Ray.


"Kita berani bersaing soal rasa dan harga yang pasti lebih terjangkau, Pak Ray. Kebetulan ini saya bawakan beberapa sampel teh dan kopi hasil perkebunan kami sendiri," ucap Riza mengeluarkan bebrapa sampel teh dan kopi untuk di berikan pada Ray.


Ray mulai membuka dan mencicipi satu persatu.


"Bagaimana, Pak Ray?" tanya Riza.


"Enak, ini sangat enak. Tidak kalah dengan kopi-kopi yang ada di cafe, semua variant rasanya juga enak." Ray tersenyum dan kembali menikmati kopi yang di bawakan Riza.


"Itu yang menjadi dasar keyakinan saya Pak, kalau. Kopi dan teh ini, pasti akan bisa di terima pasar." ucap Riza.


"Tapi, bagaimana dengan harganya. Dengan kopi dan teh seenak ini, saya yakin pasti bahan baku yang di gunakan dengan kwalitas tinggi, apa sepadan dengan harga yang akan kita jual di pasaran? karena saya lihat dari proposal yang kamu ajukan, harga jual di pasaran sepertinya terlalu murah, untuk produk dengan kwalitas seperti ini," ucap Ray.


"Pak Ray, tidak perlu khawatir. kami bisa menjual dengan harga murah, karena bahan baku yang kami gunakan langsung dari petaninya. karena itu harganya jauh di bawah pasaran." ucap Ray.


"Okay, kalau begitu mari kita siapkan berkas kerja sama dan atur waktu untuk tanda tangan kontrak kerja sama kita," ucap Ray mengulurkan tangan.


"Jadi, Pak Ray setuju dengan kerja sama yang perusahaan kami tawarkan?" ucap Riza senang.


"Iya, saya setuju." jawab Ray dan kini keduanya berjabat tangan.


"Alhamdulillah, Terima kasih Pak Ray. Semoga kerja sama ini bisa sukses dan berokah," ucap Riza dan Ray mengamini.


Sepulang dari Kantor Ray, Riza menghubungi Ibunya dan mengatakan kalau mungkin mulai saat ini, dirinya akan lebih sering pulang ke rumah, karena bisnis membuat kopi dan teh dalam kemasan akan segera di produksi langsung di sana. Riza juga akan mendirikan Pabrik pembuatan Kopi dan tehnya di desanya. untuk menjaga kwalitas teh dan kopinya.


"Ray," panggil Mita saat Ray akan masuk ke dalam mobilnya.


"Mita, ada perlu apa di sini?" jawab Ray merasa heran Mita berada di kantornya.


"Boleh aku ikut ke dalam mobil kamu? Ada yang mau aku bicarakan," ucap Mita.


"Bicara soal apa?" tanya Ray mengerutkan dahinya.


"Aku ikut kamu dulu ya? tolong beri aku kesempatan bicara," ucap Mita sedikit memelas.


"Okay, masuklah!" ucap Ray masuk ke dalam mobil.


Mita segara membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil.


"Ray, kamu masih marah sama aku?" tanya Mita melihat Ray.


"Menurut kamu?" ucap Ray tetep fokus pada jalan.


"Ray, tolong jangan seperti ini. Okay, aku akui aku mencintai kamu, tapi sumpah Ray! kepergian Mbak Bela tidak ada hubungannya dengan ku, aku tidak pernah mengatakan apa-apa sama Mbak Bela, aku menyimpan rapat rasa ini dalam hatiku, aku memang mencintai kamu tapi aku tidak ada maksud untuk memiliki kamu, melihatmu dari jauh saja aku sudah bahagia," ucap Mita.


"Benarkah?" ucap Ray tersenyum menyeringai.


"Ray, apa kamu pikir aku wanita seperti itu? Aku memang mencintai kamu, tapi aku juga tidak mungkin memaksakan sesuatu yang bukan milikku, apalagi masalah perasaan. Aku tau, bagimu aku tidak berarti apa-apa, kebersamaan kita waktu itu juga tidak artinya apa-apa untuk kamu, karena itu aku sadar diri. Masalah gaun, aku benar-benar tidak tau apa-apa Ray,"


"Seandainya aku tau, gaun itu khusus kamu pesan untuk Bela, aku tidak akan mau menuruti tante Santi untuk memakai gaun itu, aku ini hanya mengikuti apa yang tante minta, itu saja Ray!" jelas Mita


Ray, nampak mempercayai apa yang Mita katakan. Dan tidak ada kemarahan lagi di wajahnya.


Setelah mengantarkan Mita pulang, Ray kembali ke rumah. Hubungannya dengan Bu Santi tampak baik tapi terasa begitu jauh, Ray hanya pulang untuk mand, ganti pakaian dan pergi lagi. Selalu seperti itu selama beberapa bulan terakhir.


"Ray, Mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Bu Santi saat Ray akan pergi lagi.


"Apa maksud Mami?" Ray menghentikan langkahnya.


"Mau bersikap seperti ini sama Mami sampai kapan? Apa sampai Mami meninggal, menyusul Papi kamu?" ucap Bu Santi dengan nada tinggi.


"Astaghfirullah, Mami kenapa bicara seperti itu?" ucap Ray.


"Kamu yang kenapa? Mami tau, kamu menyalahkan Mami karena kepergian Bela. Tapi seharus kamu juga bisa berpikir, kalau memang Bela sudah berubah, dia tidak akan pergi dari rumah tanpa ijin dari suami, sebesar apapun permasalahan dalam rumah tangga, bukankah seharusnya seorang istri tidak boleh meninggalkan rumah?" ucap Bu Santi.


"Apa Mami lupa? Kepergian Bela semata-mata untuk membahagiakan Mami, karena Mami akan sedih kembali setiap kali melihat Bela. Itu kan yang Mami katakan?"


"Ray, kamu satu-satunya yang Mami miliki di dunia ini, apa kamu tidak tau bagaimana perasaan Mami? Mami ini sudah berusaha memaafkan dan menerima Bela. Mami sudah berusaha melupakan kepergian Papi yang tiba-tiba, tapi Mami tidak bisa Ray, hati Mami sakit," ucap Bu Santi terisak


Melihat Bu Santi menangis, sebagai seorang anak. Ray segera memeluk dan memenangkan Bu Santi.


"Maafkan Ray Mi, maafkan Ray," ucap Ray memeluk Bu Santi, merasa bersalah lantaran sudah membuat Mami nya menangis.


^Happy Reading^


Jangan lupa like, coment dan Vote, dukungan kalian sangat berarti bagi thor, Terima kasih😘💕 🙏