Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 40


"Huh, sandiwara apa lagi ini? Ternya selain jadi penipu kalian ini juga orang-orang yang pandai bersandiwara." Bu Santi merasa muak dengan Pak Bobby dan Bela, karena mereka sudah membuat bisnisnya hancur bahkan suaminya harus mengalami serangan jantung lantaran melihat perusahaan yang di rintis dengan penuh pengorbanan di hancurkan oleh orang yang di percayainya.


"Bu Santi, bencilah saya tapi jangan Bela. Bela hanya mengikuti perintah saya, saya yang bersalah. Saya tau, apapun yang saya lakukan, tidak akan mungkin membuat Pak Yudha kembali. Bu Santi pantas untuk tidak memaafkan saya. Tapi saya mohon, tolong maafkan Bela." ucap Pak Bobby.


"Pi, Papi berdiri. Bela tidak apa-apa Pi," ujar Bela dengan bulir-bulir air mata membasahi pipinya.


"Maafkan Papi, Bela. Papi membuat hidupmu jadi seperti ini, ketamakan Papi membuat hidupmu jadi sengsara. Ini semua salah Papi." ucap Pak Bobby.


"Pi, pulanglah dulu! Bela tidak apa-apa, di sini Bela bahagia. Ray memperlakukan Bela dengan sangat baik," ucap Bela.


"Hah, tentu saja. Ray memperlakukan kamu dengan baik. Itu karena Ray kasihan dengan wanita cacat seperti kamu, kalian tau kan sekarang? bagaimana baiknya Ray? Jika kalian tau diri, harusnya kalian jauhi Ray! jangan bebani Ray dengan mengurus istri cacat seperti ini," ucap Bu Santi menatap Bela sinis dan berlalu.


"Bel, maafkan Papi!" ucap Pak Bobby memegang tangan Bela.


"Tidak pah, jangan menyalahkan diri sendiri terus! Papi, pulanglah dulu! nanti Mami juga baik, saat ini Mami hanya sedang emosi!" bujuk Bela.


"Bela, kamu yakin. Mau tinggal di sini dengan Bu Santi? Karena Papi lihat Bu Santi, masih belum bisa memaafkan kamu?" tanya Pak Bobby.


"Ini rumah suami Bela Pi, kemanapun Ray berada, Bela akan ikut bersamanya. Bela sudah berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Ray!" ucap Bela.


"Alhamdulillah, baiklah Bela. Papi paham, memang seperti itulah seharusnya seorang istri. Papi tau meskipun Bu Santi belum bisa memaafkan kamu, tapi Ray tulus sayang sama kamu. Jadilah istri yang baik, Papi berharap kamu bisa bahagia dengan Ray, dan semoga Bu Santi bisa segera memaafkan kamu dan menerimanya kamu lagi," ucap Pak Bobby.


"Papi," gumam Bela memeluk Papi nya.


"Bel, Papi bahagia dengan perubahan kamu yang sekarang, dan baju ini? Kamu cantik menggunakan baju seperti ini." ucap Pak Bobby tersenyum bahagia, melihat Bela kini sudah mengenakan pakaian tertutup lengkap dengan hijabnya.


Penampilan yang tidak seperti biasnya. Tapi Pak Bobby merasa bahagia dengan perubahan putrinya.


"Bel, Papi akan mengembalikan semua aset yang kita punya pada Bu Santi karena itu mungkin setelah ini, kita tidak akan punya apa-apa lagi," ucap Pak Bobby.


"Iya Pi, Bela hanya ingin kita bisa menjalani kehidupan dengan cara yang baik. InsyaAlloh, Alloh. akan memudahkan niat baik Papi."


****


Di dalam mobil Ray.


"Udah dapat obat yang kamu cari?" tanya Ray melihat Mita saat Mita kembali masuk ke dalam mobil, lantaran ini sudah apotek ke tiga yang mereka datangi. Namun Mita selalu bilang kalau obat yang dicari tidak ada.


Mita menggelengkan kepala dangan lesu "Ray, sebaiknya kamu segera berangkat ke kantor. Biar aku cari sendiri obatnya, " ucap Mita dengan wajah memelas.


"Tidak apa-apa, aku antarkan kamu dulu. Kasihan Ayah kamu, mungkin sudah membutuhkan obat itu," ucap Ray.


"Apa tidak apa-apa? takutnya kamu akan terlambat ke kantor," ucap Mita


"Tidak apa-apa," jawab Ray tersenyum."


Ray memang tulus membntu Mita, karena Mita adalah teman sekolahnya dan merasa kalau saat ini, Mita memang membutuhkan bantuannya.


Setelah berputar-putar, Ini adalah apotek ke 7 yang mereka datangi.


"Bagaimana?" tanya Ray menunggu jawaban dari Mita.


"Alhamdulillah, dapat Ray." jawab Mita tersenyum menunjukkan kantong plastik berisi obat untuk ayahnya.


"Alhamdulillah, ayo aku antarkan kamu pulang. Ayah kamu pasti sudah menunggu," ucap Ray.


"Ah, iya. Ayah kamu, sebenarnya sakit apa?" tanya Ray.


"Ayah, ada masalah di jantungnya, jadi memang tidak bisa lepas dari obat, tapi memang obatnya agak susah cari di sini. Ini salahku sih, biasanya sebelum waktunya habis aku akan persiapan membelinya lebih awal, tapi akhir-akhir ini karena jarang pulang ke rumah, aku jadi lupa ngecek obat Ayah," jelas Mita


"Atau, biar aku bilang pihak rumah sakit untuk mengganti perawat yang lain saja. Biar kamu bisa fokus dengan Ayah kamu. Papi ku, meninggal karena serangan jantung karena itu, aku tidak mau kalau sampai kamu lalai dalam menjaga Ayah kamu," ucap Ray


"Tidak, tidak. Tidak perlu di ganti. Biar aku saja yang jaga Mbak Bela. lagian aku butuh uang untuk membeli obat Ayah. Jika aku di ganti, penghasilanku akan berkurang," jawab Mita.


"Mita, kamu itu anak yang baik, Ayah kamu pasti seneng. Punya anak seperti kamu," ucap Ray.


"Ini rumah kamu kan?" ucap Ray berhenti di depan rumah Mita.


"Ternyata kamu, masih ingat rumah ku Ray?" Mita tersenyum.


"Ya, ingatlah. Kan dulu aku sering main ke sini," Jawab Ray.


"Apa kamu tidak mau mampir dulu?" ucap Mita berharap Ray akan mampir ke rumahnya.


"Tidak sekarang sepertinya, aku harus segera kembali ke kantor," jawab Ray.


"Ya, sudah. Terima kasih Ray. Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Mita.


"Tidak apa-apa, kalau kamu butuh apa-apa. Jangan sungkan bilang saja sama aku," ucap Ray.


"Hu'um, Assalamu'alaikum," ucap Mita tersenyum dan membuka pintu mobil.


"Walaikumsalam," jawab Ray.


***


Sementara di rumah Bela mentap jendela dengan tatapan kosong, Bela mengingat kejadian di mana Papi nya rela, menurunkan harga dirinya untuk dapat pengampunan dari Bu Santi, yang merupakan mertuanya.


Dan di sisi lain, Bela juga mengerti kalau samapai Bu Santi tidak bisa memaafkan dirinya dan juga Pak Bobby.


Kesalahan mereka memang tidak termaafkan.


Bela juga tiba-tiba teringat dengan ucapan Bu Santi, yang mengatakan Mita dan Ray pasangan yang serasi.


"Apa maksud Mami berkata seperti itu? Apa mungkin, Mami berharap Ray dan Mita_"


"Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan. Tidak mungkin, tidak mungkin Mami berharap seperti itu," gumam Bela dengan segala pemikirannya sendiri.


Bela mengambil ponselnya dan menghubungi Ray.


"Assalamu'alaikum, Ray, "


"Walaikumsalam Bel, ada apa?" tanya Ray dari sebrang telpon.


"Kamu, apa kamu sudah di kantor?" tanya Bela gugup.


Bela tidak ingin, Ray tau kalau dirinya merasa cemburu dengan kedekatannya dan Mita.


"Iya, ini baru sampai. Ada apa?" tanya Ray.


"Tidak Ray, Tidak ada apa-apa, hanya mau memberitahu kalau tadi Papi dari sini." ucap Bela walaupun sebenarnya Bela juga ingin memastikan kalau saat ini, Ray. sudah tidak bersama dengan Mita.


^ Happy Reading ^


Jangan lupa, like, komen dan Vote ya. Dukungan dari kalian sangat berarti bagi thor. terimakasih 🙏🥰😘