
Percakapan Ray dan Mita terdengar hingga kamar, Bela yang awalnya tidur tanpa sengaja mendengar suaminya yang sedang bercanda dengan Mita.
Dan entah kenapa hati Bela tiba-tiba merasa sedih.
"Kenapa aku bersedih seperti ini? Padahal Ray hanya bercanda dengan sahabat lamanya. Bagaimana dengan Ray selama ini? Dua tahun aku meninggalkan dia dan berselingkuh dengan laki-laki lain. Mungkin apa yang aku rasakan saat ini belum sebanding dengan apa yang Ray rasakan selama ini. Astaghfirullah, ya Alloh, ampunilah segala dosa-dosaku," Gumam Bela.
Klek
Suara pintu terbuka, Bela segera memejamkan matanya kembali. Tak ingin Ray melihat kalau dirinya yang sedang bersedih.
Ray melihat Bela yang masih tertidur, merebahkan tubuhnya disamping Bela dan mencium kening Bela lembut penuh kasih sayang.
"Good night istriku." bisik Ray
Setelah merasa kalau Ray sudah tidur, Bela kembali membuka matanya. Tanpa disadari, air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah.
Perasaan sangat bersalah kembali menyelimuti.
"Kenapa menangis?" tanya Ray yang tiba-tiba membuka matanya.
"Maaf kalau aku sudah membangunkan kamu, Ray," jawab Bela.
"Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Ray seraya menatap mata Bela.
"Tidak, Ray. Bela menangis hanya karena bahagia. Bahagia karena Ray mau menerima Bela dengan segala kekurangan Bela. Jujur Bela merasa tidak pantas untuk Ray, " ucap Bela.
"Istriku, lupakan masa lalu. Kita mulai semua dari awal!" ucap Ray.
"Ray, seandainya suatu saat nanti ada wanita yang bisa membuatmu bahagia. Aku rela jika kamu ingin menikah lagi." ucap Bela
"Humbb... Kamu ini, bicara apa Bel?" Ray mengatupkan bibirnya menahan tawa.
"Kok malah ketawa sih Ray?" Bela menatap Ray .
"Hahaha.. kamu itu, kenapa jadi aneh gini sih bicaranya? Sepertinya kecelakaan itu juga membuat pikiran kamu bermasalah Bel, " Ray tertawa seraya menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Aku tidak sedang bercanda Ray. Aku serius!" tegas Bela.
"Sama, aku juga tidak bercanda. Sepertinya kamu butuh konsultasi ke Dokter. Untuk melihat apakah ada yang salah dengan otak kamu setelah kecelakaan itu," canda Ray.
"Ray" ucap Bela memanyunkan bibirnya.
"Bercanda kok sayang, maafin ya! Sini peluk dulu!" ucap Ray seraya memeluk Bela.
Malam ini Bela tertidur dalam pelukan hangat suaminya. Hingga suara adzan mulai terdengar di telinga mereka dan membangunkan keduanya.
Ray dengan sabar membantu Bela untuk mengambil air wudhu dan kini mereka sholat subuh berjamaah.
"Pagi mbak Bela, mas Ray, " tanya Mita yang baru keluar dari dapur dan membawakan secangkir kopi untuk Ray.
"Pagi" jawab Ray singkat.
"Ini kopi untuk mas Ray." Mita memberikan secangkir kopi
"Ini kopi untuk saya?" tanya Ray seraya menerima kopi dari tangan Mita.
"Iya, ini untuk kamu Ray. Mas Ray maksud saya," ucap Mita.
"Terimakasih, Mit. Kamu sudah membuatkan kopi untuk suami saya. Tapi lain kali, biar bik Siti saja yang membuatkan kopi untuk suami saya, tidak usah repot-repot. Lagipula membuat kopi kan bukan tugas kamu, tugas kamu hanya merawat keperluan saya," ucap Bela.
"Tidak apa-apa kok mbak, saya sama sekali tidak repot! kebetulan saya juga membuat kopi untuk diri saya sendiri, jadi sekalian. Apa mbak Bela juga mau? Saya bikinin kopi untuk mbak Bela?" tanya Mita.
"Tidak usah, saya tidak minum kopi. Terimakasih," jawab Bela singkat
"Mas kita ke taman yuk, aku ingin menghirup udara pagi di sana. Pasti sejuk sambil lihat ikan dikolam." ajak Bala
"Baiklah, ayo kita kesana." Ray kembali meletakkan kopi di meja.
"Tidak diminum dulu kopinya mas Ray? Nanti keburu dingin kopinya malah tidak enak lho, " ucap Mita.
"Nanti saja, saya minumnya. Setelah pulang dari taman," jawab Ray seraya mendorong kursi roda Bela.
"Assalamu'alaikum, apa Ray dan Bela ada di rumah?" tanya Niko yang pagi ini datang bersama Ulya dan Fatin.
"Walaikumsalam. Mas Ray dan mbak Bela tidak ada dirumah, lagi jalan-jalan ditaman," jawab Mita yang sedang berada di halaman.
"Oow.. ya, sudah biar kami tunggu saja," ucap Niko.
"Silahkan duduk dulu. " Mita menunjuk kursi yang ada diteras.
"Terima kasih," jawab Ulya berjalan menuju teras.
"Pah, Om Ray mana? Fatin mau ketemu Om Ray," rengek Fatin
"Tunggu dulu sayang, Om Ray sedang keluar, " bujuk Niko.
"Nah, itu. Om Ray datang, " ucap Ulya menunjuk Niko dan Bela yang baru memasuki gerbang.
Niko tersenyum dan melambaikan tangan.
"Om Ray, " teriak Fatin berlari dan memeluk Ray.
"Fatin sayang, Om Ray kangen banget sama Fatin. Fatin kangen sama Om Ray tidak?" tanya Ray seraya memeluk Fatin.
"Kangen Om," jawab Fatin menganggukkan kepalanya.
"Ehem.. Mulai deh, Papa tersisih kalau ada Om Ray, " ucap Niko berdeham dan membuat semua tertawa.
Mita keluar membawakan minuman untuk Niko dan Bela.
"Kenapa kamu yang membawakan minuman Mit? Bik Siti dimana?" tanya Bela.
"Tidak apa-apa mbak Bela, Bik Siti sedang sibuk buat sarapan, jadi saya bantu Bik Siti buat bikin minuman untuk teman mas Ray." jawab Mita.
"Ini, perawat yang merawat kamu Bel?" tanya Niko.
"Iya, ini perawat yang ditugaskan pihak rumah sakit untuk merawat saya," jawab Bela.
"Kok kayak gak asing ya?" ucap Niko kembali berpikir.
"Sama sepertinya kita sudah pernah bertemu, Oo.. Mita ingat, kamu teman Ray dari SMP Bina Bangsa kan?" ucap Mita seraya mengingat-ingat.
"Iya, tapi bagaimana kamu tau?" Niko yang masih belum ingat
"Kita dulu pernah bertemu, waktu Mita mencari mas Ray saat bolos sekolah dan ternyata sedang main PS, kita ketemu disana," jawab Mita mengingatkan.
"Oow.. iya, Sekarang aku ingat. Pantas saja rasanya tidak asing," ucap Niko.
Sementara Niko, Ray dan Mita sedang berbincang masa lalu diteras. Kini Bela sedang belajar mengaji dengan Ulya.
Bela tampak serius dalam belajar. Walaupun sesekali akan mencuri pandang kearah luar.
Tidak bisa dipungkiri, semakin hari harinya semakin resah, lantaran Mita. Tapi mengganti perawat lain juga tidak mungkin, Bela tidak ingin Ray tau, kalau dirinya sedang cemburu.
"Ada apa Bel?" tanya Ulya lantaran melihat Bela yang seperti tidak tenang.
"Tidak, tidak ada apa-apa kok, " jawab Bela.
Ulya melihat kearah luar dan sekarang paham, apa yang menjadi keresahan hati Bela.
"Jangan berpikir terlalu banyak Bel, Ray itu laki-laki yang setia, " ucap Ulya tersenyum.
"Eh.. um.. kenapa? maksudku, aku tidak cemburu kok, aku hanya, aku hanya... " Bela salah tingkah.
Ulya tersenyum melihat tingkah Bela yang salah tingkah.
"Aku, sudah lama kenal dengan Ray. karena Ray dan Mas Niko bersahabat dan Ray sering main ke rumah bermain sama Fatin. Jadi aku tau Ray laki-laki seperti apa, Bela tidak perlu khawatir," ucap Ulya menghibur Bela agar tidak cemburu.
^Happy Reading^