Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 38


Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Niko, Ray berpikir kenapa Bela sepertinya bukan tanpa alasan menanyakan pandangan islam tentang cemburu.


Tapi Ray, juga tidak mengerti. Jika memang Bela cemburu, dengan siapa Bela cemburu?


Begitu banyak pertanyaan di otak Ray, namun Ray merasa, tidak ada alasan bagi Bela untuk cemburu pada dirinya.


"Bel," panggil Ray.


"Ah, iya. Ada apa Ray?" jawab Bela .


"Kamu, benar tidak sedang cemburu kan?" tanya Ray.


Bela tersenyum dan memegang tangan Ray "Tidak Ray,"


"Syukurlah, aku sudah berpikir dari tadi. Apa aku secara tidak sengaja pernah menyinggung kamu atau menyakiti kamu, sampai kamu punya pikiran seperti itu. Bel, aku mencintaimu karena Alloh. InsyaAlloh, aku tidak akan menghianati kamu," ucap Ray mencium tangan Bela dan meletakkan tangan Bela di pipinya seraya tangan kanan memegang setir mobilnya.


"Ray, tadi Papi telpon. Katanya Papi akan pulang ke Indonesia. Apa aku boleh bertemu dengan Papi?" tanya Bela.


"Papi hari ini pulang? kenapa tidak bilang dari tadi? Dan kenapa kamu tanya seperti itu? Apa kamu pikir, aku tidak akan mengijinkan kamu bertemu dengan Papi?" Ray melihat Bela dan kembali fokus dengan jalan.


"Bukan begitu Ray, tapi kan kemana pun, seorang istri pergi katanya harus dengan ijin dari suami, karena itu, Bela akan membiasakan ijin dulu sama kamu sebelum mengambil keputusan, apapun itu. Termasuk bertemu dengan Papi."


"Bela tau, kalau kamu dan Mami mungkin akan keberatan jika Papi datang ke rumah. aku paham dan aku juga tidak marah, karena kami memang pantas menerima semua ini. Tidak akan mudah, memaafkan kesalahan yang kami lakukan." ucap Bela dengan mata berkaca-kaca.


"Bel, aku minta maaf, atas sikap Mami sama kamu. Aku harap kamu jangan masukan hati. Mami hanya butuh waktu. Kamu sabar ya!" ucap Ray


"Ray, kamu tidak perlu minta maaf. Kamu dan Mami tidak salah, Bela dan Papi pantas menerima semua ini. ujar Bela.


"Bel, aku tau hati kamu juga terluka. Tapi yakinlah, semua pasti akan indah pada waktunya. Asal kita yakin dengan ketetapan Alloh, semua pasti akan indah. Kita percayakan semua pada Alloh!" ucay Ray.


"Iya, Ray. Bela mengerti, jujur semenjak mengenal Alloh, hati Bela jadi lebih tenang dan lebih bisa iklas dalam menjalani takdir. Karena Bela yakin, bukan tanpa maksud semua ujian yang Alloh berikan untuk kita. melainkan rasa sayangnya Alloh pada umatNya." ujar Bela.


"MasyaAlloh, aku senang dengan perubahan yang ada pada diri kamu sekarang, semoga selalu istiqomah ya sayang!" ujar Ray.


"Oiya, Papi kira-kira sampai sini jam berapa?" tanya Ray.


"Harusnya sebentar lagi sampai," jawab Bela.


"Bagaimana kalau kita jemput Papi ke airport?"


"Hah, kamu yakin? dengan apa yang kamu katakan?" tanya Bela membuka mulutnya tak percaya.


"Iya, yakin. Ada yang aneh memangnya? kenapa ekspresi kamu seperti itu?" tanya Ray mengerutkan dahinya.


"Ini Papi aku. Apa kamu yakin? mau menjemput Papi, aku. ke airport?" kembali Bela bertanya.


"Iya, tentu saja aku tadi. Itu Papi kamu, berarti itu, juga Papi aku kan?" ucap Ray tersenyum melihat Bela.


"Ray? Apa, apa kamu sudah tidak marah sama Papi? terakhir bertemu di Singapura, sepertinya kamu sangat marah sama Papi," tanya Bela ragu-ragu.


"Sayang, aku tidak marah sama Papi. saat itupun aku juga tidak marah, aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya aku ambil. Biar bagaimana, Papi adalah Papi kamu, itu berarti Papi juga, Papi aku, yang harus aku hormati." jawab Ray.


***


Airport.


"Papi!" teriak Bela melambaikan tangan.


Pak Bobby berjalan dengan cepat dan segera memeluk Bela.


"Alhamdulillah, Bela baik. ini semua berkat Ray Pi, Ray merawat Bela dengan sangat baik," ucap Bela melihat Ray dan tersendiri, begitu juga sebaliknya.


"Assalamu'alaikum Pi," udah Ray mencium tangan Pak Bobby.


"Wa- Walaikumsalam," jawab pak Bobby gugup.


"Apa kabar Pi?" tanya Ray.


"Ba-baik, Papi baik. Ray, Papi mau mengucapkan terima kasih. Kamu sudah merawat Bela dengan baik. Papi lega melihat Bela, kembali ceria seperti ini," ucap Pak Bobby.


"Tidak perlu berterima kasih Pi. Karena apa yang Ray lakukan, memang hal yang sudah seharusnya Ray lakukan." jawab Ray.


"Ray, Papi malu sama kamu. Bahkan Papi tidak pernah menyangka, kamu akan mengijinkan Papi bertemu dengan Bela. Apa lagi sampai harus menjemput Papi ke sini, " ucap Pak Bobby.


"Sudah menjadi tugas kami sebagai seorang anak, untuk berbakti pada orang tua Pi," jawab Ray.


"Kita langsung pulang sekarang?" tanya Ray.


"Baiklah, " Jawab Pak Bobby


Di dalam mobil, Diam-diam. Pak Bobby mempertahankan Bela dan Ray yang duduk di kursi kemudi. Sangat terlihat raut kebahagiaan di wajah Bela. yang seolah tak bisa berhenti menatap wajah suaminya.


Pak Bobby merasa senang dan hatinya lega. Karena,


Ray benar-benar memperlakukan Bela dengan sangat baik. Tidak seperti apa yang ada di dalam pikirannya selama ini.


"Kita mau langsung pulang, atau mungkin mau cari makan dulu?" tanya Ray.


"Bagaimana kalau kita pergi makan malam dulu saja, baru setelah makan, kalian antarin Papi ke hotel." ucap Pak Bobby.


"Papi, malam ini mau menginap di hotel?" tanya Ray.


"Iya, malam ini, Papi tidur di hotel saja. Besok baru pulang ke rumah. Biar kalian juga tidak terlalu jauh nganternya. Sudah terlalu malam juga," ucap Pak Bobby.


"Apa, Papi tidak mau menginap di rumah, Ray saja?" tanya Ray.


"Sebaiknya tidak sekarang Ray, tujuan Papi datang ke Indonesia, selain untuk Bela, memang Papi ada niatan bertemu dengan Mami kamu! hanya saja, mungkin tidak malam ini, " jelas Pak Bobby.


"Iya Pi. Ray, mengerti." Ray paham dengan alasan mertuanya kenapa lebih memilih. untuk tinggal di hotel.


Di tempat makan, Pak Bobby berkali-kali mengatakan maaf kepada Ray, Pak Bobby menyesali perbuatannya di masa lalu.


"Ray, sudah memaafkan semuanya Pi, yang penting sekarang, Papi dan Bela bisa belajar dari semua kesalahan di masa lalu dan Ray harap, itu semua menjadikan pelajaran ke depan. Hidup di dunia ini ini terlalu singkat, hanya untuk mengejar dunia yang fana ini. Sebanyak apapun harta yang kita miliki di dunia ini, setinggi apapun jabatan dan kedudukan yang kita miliki di dunia ini, semuanya akan kita tinggalkan."


"Apa yang kamu katakan semuanya benar Ray, dulu Papi tidak pernah berpikir sejauh itu, Papi pikir harta yang banyak dan kedudukan yang tinggi, itu yang akan membuat kita bahagia di dunia ini. Tapi nyatanya hidup Papi hamba, " ucap pak Bobby.


"Alloh tidak melarang umatNya untuk menjadi orang kaya,"


Di zaman Rasulullah SAW, meskipun beliau hidup sederhana namun beliau adalah termasuk pemimpin imperium terbesar saat itu,  dan memiliki kekayaan yang luar biasa karena beliau pandai berdagang. Selain itu 10 sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga, sembilan diantaranya adalah orang yang luar biasa kaya yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Bukan sebuah kebetulan pula dalam Al-Qur’an terdapat ayat paling panjang yang menjelaskan tentang perekonomian (Al-Baqarah 282).


Dalam ajaran islam, seorang muslim diajarkan bahwa memberi adalah lebih baik daripada menerima, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yaitu “ Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah,” imbuhnya.


"Jadilah orang yang kaya harta dan juga kaya hati, perhatian juga sumber-sumbernya. Pastikan, sumber kekayaan yang kita dapatkan itu berasal dari sumber yang halal," ucap Ray lagi seraya tersenyum.


^Happy Reading^


^A