
"Kamu dapat informasi dari mana kalau pak Ray kecelakaan?" tanya Riza pada sekertaris nya dari sebrang telpon.
"Tiga hari yang lalu kantor heboh mencari donor untuk beliau pak," jawab sekertaris.
"Siapa yang kamu maksud kecelakaan?" sahut Bela yang tak sengaja mendengar percakapan Riza di telpon.
"Ray kecelakaan," jawab Riza.
"Inalilahi wainnailaihi rojiun, Bahasa keadaannya sekali?" tanya Bela yang tampak panik.
"Entahlah aku juga belum tau, hanya saja tadi sekertarisku bilang, kalau Bu Santi sempat kebingungan mencari pendonor untuk Ray," ucap Riza.
"Lalu bagaimana? apa Mami mendapatkan pendonor untuk Ray?" tanya Bela dengan mata berkaca-kaca tak kuasa menahan kesedihan.
"Dapat sih, dari karyawan yang bekerja di sana." jawab Riza.
"Alhamdulillah," gumam Bela menghela nafas lega.
"Apa kamu mau melihat keadaan Pak Ray? Aku bisa mengantar kamu ke sana?" tanya Riza.
"Tidak perlu, Aku tidak akan ke sana," jawab Bela.
"Bela, yang aku lihat kamu masih sangat mencintai Pak Ray, lalu untuk apa kamu terus membohongi diri kamu sendiri?" ujar Riza.
"Aku memang masih mencintai Ray dan mungkin seumur hidupku, Aku hanya akan mencintainya saja," ucap Bela.
"Lalu untuk apa kalian harus menyiksa diri kalian seperti ini? Jika kalian saling mencintai, kenapa kalian tidak kembali bersatu saja, apalagi ada Raynan diantara kalian," ucap Riza dengan nada tinggi.
"Aku dan Ray tidak akan pernah bisa kembali bersama, tembok besar yang menjadi penghalang hubungan kami tidak akan bisa runtuh." jawab Bela.
"Aku memang tidak tau, kesalahan apa yang kamu lakukan, sampai Mami nya pak Ray begitu membenci kamu, tapi menurutku tidak ada kesalahan yang tidak bisa di maafkan, apalagi jika orang itu sudah bertaubat." ucap Riza.
"Mungkin ini adalah takdir yang harus kami jalani. Aku lebih memilih seperti ini, dari pada harus melihat Ray bingung antara aku atau Mami. cukup aku mencintai Ray dengan caraku sendiri," ucap Bela.
"Aku sudah tidak tau lagi harus berkata apa sama kamu, Bel." ucap Riza.
"Bela, Papi rasa apa yang Riza katakan benar. Dari awal semua kesalahan Papi, tapi sekarang kamu yang harus menanggung akibat dari perbuatan Papi," sahut Pak Bobby.
"Pi, jangan pernah berkata seperti itu. Ini bukan sepenuhnya salah Papi. memang ini sudah menjadi takdir Bela. Kita ambil hikmahnya saja, Pi. Jika kejadian ini tidak terjadi, jika Bela tidak menikah dengan Ray, jika kita tidak melakukan kesalahan itu, mungkin saat ini kita masih menjadi orang yang tidak pernah mengenal Alloh."
"Kita harus melalui semua ini, mungkin karena Alloh ingin menyelamatkan kita dan memberitahu ada Alloh yang selama ini kita lupakan," ucap Bela.
"Bela, Papi tidak menyangka kamu begitu bijaksana sekarang," ucap Pak Bobby.
"Biar bagaimana Bela tetep bersyukur karena Alloh masih memberi kita hidayah, Pi." ucap Bela.
"Kamu benar Bela. Lalu bagaimana dengan Ray? Apa kamu tega membiarkan Ray seperti itu? Papi tau, Ray sangat mencintai kamu," ucap Pak Bobby.
Perasaan bersalah Pak Bobby selalu menyelimuti hatinya. Melihat anak dan cucunya harus terpisah dari orang yang mereka sayang akibat ketamakan nya di masa lalu.
***
"Ray, apa kamu tega meninggalkan Mami sendiri di dunia ini? Apa kamu tega membiarkan Mami kesepian. Di dunia ini, cuma kamu yang Mami miliki, Mami tidak punya siapa-siapa selain kamu, sadarlah Ray, bangun untuk Mami sayang," ucap Bu Santi menggenggam dan mencium tangan Ray.
"Assalamu'alaikum," ucap Danu dan Niko.
"Walaikumsalam, Danu, Niko kalian ada di sini," tanya Bu Santi.
"Iya, tante. Bagaimana keadaan Ray?" tanya Danu.
"Seperti yang kalian lihat, sampai sekarang Ray Belum juga bangun." jawab Bu Santi.
"Lalu apa kata Dokter, Tante?" tanya Niko.
"Dokter bilang semua stabil, seharusnya Ray sudah bangun. Tapi entah kenapa sampai saat ini Ray belum juga sadarkan diri. Seperti tidak ada keinginan dari dirinya untuk kembali," ucap Bu Santi dengan mata berkaca-kaca.
"Dokter juga mengatakan, alam bawah sadar Ray seolah menolak untuk sadar. Entahlah kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Ray, karena saat ini tidak ada lagi yang Dokter bisa lakukan, kecuali hanya menunggu." ucap Bu Santi lagi.
"Tante, maaf jika tante menganggap saya ikut campur dalam urusan keluarga tante, tapi jujur saya prihatin dengan apa yang Ray alami, tante. Ray tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Terkadang dia hanya bisa mencurahkan isi hatinya pada kami, tapi tidak tau harus berbuat apa, di sisi lain Ray sangat menyayangi tante, Ray juga tidak mau menjadi anak durhaka. Tapi di sisi lain, Ray juga tidak bisa melepas wanita yang dia cintai." ucap Danu.
"Benar tante, mungkin saat ini Ray sudah tidak memiliki semangat hidup lantaran bingung harus berbuat apa? Ada anak yang membutuhkan dia, tapi ada Mami yang tidak bisa dia abaikan. Ray bercerai dengan Bela bukan karena Ray sudah tidak mencintai Bela, tapi itu di lakukan karena rasa sayang Ray pada Bela. Ray tidak ingin istrinya berdosa karena pergi tanpa ijin suami dan Ray tidak ingin menghalangi kebahagiaan Bela, karena Ray pikir Bela mungkin ingin bersama dengan laki-laki lain, tapi ternyata itu tidak benar. Bela pergi demi tante dan Ray." tambah Niko
"Jadi maksud kalian, Tante yang menghalangi kebahagiaan Ray?" tanya Bu Santi.
"Tante, bukan maksud kami menghakimi. Tapi Ray hanya ingin menjalankan kehidupan normal bersama dengan anak dan istrinya. Seperti normalnya sebuah keluarga," jawab Danu.
"Apa yang tante lakukan semata-mata hanya untuk kebahagiaan Ray," kilah Bu Santi.
"Tante salah, yang membuat Ray bahagia. Jika tante mau memaafkan Bela dan membiarkan Ray hidup bahagia bersama dengan keluarga kecil. Ray hanya ingin tante membuka hati untuk bisa memaafkan Bela," sahut Niko.
"Kalian bisa berkata seperti itu, karena kalian tidak tau bagaimana sakitnya saat tante harus kehilangan suami tante, itu semua karena Bela." ucap Bu Santi dengan mata berkaca-kaca.
"Kami paham apa yang tante rasakan. Tapi tante juga harus bisa menerima jika sesungguhnya kematian adalah takdir yang tidak bisa di hindari.
Karena ajal, adalah salah satu takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Bahkan sebelum manusia tersebut dilahirkan." ucap Danu
"Tante, hilangkan dendam di hati tante. Buka lembaran baru dengan bahagia. Ikhlaskan Om Yudha, Danu yakin. Om Yudha pasti tidak ingin melihat tante dan Ray terus bersebrangan seperti ini," ucap Danu
^Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang. dukungan kalian sangat berarti bagi thor🙏