
"Pagi Mi," ucap Ray mencium pipi Bu Santi.
"Pagi sayang, sudah mau ke kantor?" tanya Bu Santi.
"Iya, Mi. Alhamdulillah perusahaan sekarang semakin baik." ucap Ray.
"Besok Mami mau mulai bekerja Ray, dari pada di rumah, Mami justru teringat dengan Papi terus," ucap Bu Santi.
"Mami mau bekerja? Apa Mami yakin?" tanya Ray.
"Ya, Mami kan bukan orang cacat yang bisa menyusahkan kamu Ray, tentu saja Mami yakin. Mami harus bekerja biar tidak jadi beban untuk kamu," ucap Bu Santi
Tentu saja bukan tanpa sebab Bu Santi bicara seperti itu, itu dilakukan karena di sana ada Bela.
Bela hanya diam tak menanggapi meskipun, dirinya tau, arah pembicaraan mertuanya ke mana.
"Mi," ucap Brian ke arah Bu Santi.
"Sayang, makan yang banyak ya. Nanti habis terapi, aku jemput ke Rumah sakit," ucap Ray mengalihkan pembicaraan seraya mengambilkan lauk dan meletakkan di piring Bela.
"Ray, kamu itu harus fokus sama diri kamu sendiri dan perusahaan. Bela bukan anak kecil yang kemana-mana harus kamu kawal kan? sudah ada perawat sama sopir, tidak perlu kamu juga kan yang harus menjaganya?" sindir Bu Santi.
"Iya Ray, Mami benar. Kamu tidak usah jemput aku! Aku bisa sendiri kok, sudah ada Mita juga, kamu tidak perlu cemas," ucap Ray tersenyum.
"Tidak apa-apa sayang, aku memang ingin jemput kamu karena aku tidak bisa lama-lama jauh dari kamu," timpal Ray.
"Tidak usah pura-pura di depan Mami, dua tahun tidak bertemu saja tidak apa-apa, sok mau bilang tidak bisa pisah hanya dalam hitungan jam. Siapa yang akan percaya?" ucap Bu Santi ketus.
"Mi, tolong Mi_" ucap Ray terputus karena Bela memegang tangan Ray dan menggelengkan kepala.
"Mami benar, Kamu fokus dengan kerjaan kamu. Biar aku sama Mita saja." ucap Bela tersenyum.
Ray yang tak ingin merusak suasana paginya dengan perdebatan pun segera menyetujui apa yang Bela sampaikan.
Karena saat ini Ray, Ray bukan hanya menjaga perasaan Bela tapi juga harus menjaga perasaan Mami nya.
***
Di rumah sakit, Bela merasa putus asa. Setelah beberapa kali terapi tapi tak ada sedikitpun kemajuan.
"Bu Bela, ibu harus sabar. Karena memang, untuk kasus yang seperti ibu alami ini butuh kesabaran. Walaupun kesempatan itu kecil, tapi mukjizat dari Alloh itu ada. Jadi sekecil apapun kesempatan itu, ibu harus gunakan tanpa putus asa," pungkas Dokter.
"Iya, Apa yang Dokter katakan memang benar. Tapi jujur saja saat ini saya merasa, apa yang saya lakukan percuma. Sepertinya saya memang tidak akan bisa jalan lagi," ucap Bela.
"Bu Bela jangan bicara seperti itu, Bu Bela harus tetap semangat, seperti semangatnyaa Pak Ray, yang selalu optimistis dengan kesembuhan Bu Bela." ujar Dokter.
"Ray?" ucap Bela melihat Dokter.
"Iya, Pak Ray. beliau selalu berkomunikasi dengan kami, untuk memantau perkembangan Bu Bela." ucap Dokter
Bela tidak menyangka kalau Ray benar-benar memperhatikan Bela seperti itu, setelah apa yang Bela lakukan. Semua itu tak membuat dirinya lantas membenci dan balas dendam kepada dirinya.
"Terima kasih ya Dok, InsyaAlloh saya akan tetap semangat sekecil apapun peluangnya. Saya tidak ingin mengecewakan Ray," ucap Bela tersenyum.
"Papi yakin?" tanya Bela.
"Iya sayang, Papi akan pulang dan menyerahkan semua yang sudah kita ambil dari Bu Santi. Mendengar cerita kamu, kalau Ray memperlakukan kamu dengan Baik. Papi tidak sampai hati untuk menikmati semua ini. Sekarang Papi sadar, semua yang kita dapat dari hasil yang tidak benar. Tidak akan membawa kebahagiaan." ucap Pak Bobby dari sebrang telpon.
"Apalagi, dengan keadaan kamu seperti itu. Membuat Papi sadar. Ini semua tidak lah ada artinya, dibanding dengan kebahagiaan kamu." ucap Pak Bobby lagi.
"Terima kasih Pi, Bela sayang sama Papi." Kali ini air mata Bela tak mampu lagi dibendung. Begitu banyak orang yang menyayangi dirinya. Bela merasa sangat bersyukur, walaupun saat ini Alloh, memberikan cobaan dengan kakinya yang lumpuh, tapi di saat yang bersamaan juga Alloh memberikan cinta yang bertubi-tubi.
Sekarang Bela semakin yakin, Alloh tidak akan menutup satu pintu kebaikan melainkan membuka pintu-pintu kebaikan yang lain.
Di setiap ada kejadian di dalam hidup kita, pasti akan ada kebaikan, selama kita mau bersabar dan selama kita yakin, tidaklah Alloh memberi kita ujian melainkan ingin mengangkat derajat kita.
Jangan pernah berburuk sangka dengan takdir yang Alloh berikan. Karena sebaik-baiknya ketetapan adalah yang datangnya dari Alloh.
"Mbak Bela sepertinya sedang bahagia?" tanya Mita setelah Bela mengakhiri panggilan telpon dari Papi nya.
"Iya mbak, Alhamdulillah. Saya memang lagi bahagia, karena sebentar lagi Papi saya kan pulang ke Indonesia," jawab Bela tersenyum.
"Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya Mbak," ucap Mita.
"Iya, Mita. Terima kasih," jawab Bela.
"Aku juga mau mengucapkan terima kasih, karena kamu sudah membantuku selama ini, " ucap Bela.
"Tidak, apa-apa Mbak Bela. itu memang sudah menjadi tugas dan tangung jawab saya sebagai seorang perawat, " jawab Mita tersenyum.
"Tapi kamu itu, bukan sekedar perawat bagi kami. Kamu teman Ray, itu berarti kamu juga teman saya," ucap Bela.
"Mbak Bela, sepertinya masih asing dengan daerah sini. Apa sebelumnya Mbak Bela juga ada di Singapura?" Mita sengaja bertanya meskipun sebenarnya dia sudah mengetahui semuanya.
"Iya, aku dulu di Singapura. Jadi aku kurang paham dengan daerah sini," jawab Bela.
"Kalau Mbak Bela merasa bosen, atau ingin jalan-jalan. Mbak Bela jangan sungkan bilang sama saya, nanti saya temani Mbak Bela untuk jalan-jalan." ujar Mita
Entah apa yang ada dipikirkan Mita, tapi yang jelas. Mita melakukan semua ini bukan tanpa maksud.
"Iya Mit," jawab Bela tersenyum.
"Atau mungkin, sekarang Mbak Bela ingin jalan-jalan dulu. Atau jika Mbak Bela ingin ke kantor Mas Ray mungkin, Mita akan antar Mbak Bela ke sana," tawar Mita.
"Ke kantor Ray? tidak usah Bela. untuk apa saya ke kantor Ray? kamu sendiri lihat keadaan aku bagaimana. Aku tidak ingin membuat Ray malu, dengan keadaanku seperti ini." ucap Bela.
Ada perasaan tidak percaya diri dan takut dirinya akan mempermalukan Ray, jika orang tau. Istrinya lumpuh seperti itu.
"Kenapa malu Mbak? Mita yakin, Mas Ray pasti akan senang, jika dapat kejutan kedatangan Mbak Bela." ucap Mita berusaha membujuk Bela.
"Saya rasa tidak perlu Mit, kita pulang saja." ucap Bela.
^Happy Reading^