Hikmah Cinta Kita

Hikmah Cinta Kita
CH 63


"Raynan, Maafkan Daddy yang selama ini tidak pernah mengetahui keberadaanmu, Daddy berharap suatu saat kamu bisa memaafkan dan menerima Daddy mu yang tidak berguna ini. Daddy menyesal tidak bisa menemukan mommy kamu, seandainya Daddy bisa menemukan mommy kamu lebih cepat, kita tidak akan terpisah seperti ini, maafkan Daddy sayang! maafkan Daddy," ucap Ray terisak memegang tangan mungil Raynan yang masih terbaring.


Disaat dirinya sedang terisak tiba-tiba saja, Ray merasakan sentuhan tangan mungil yang menyeka air matanya.


"Raynan, Sejak kapan kamu sadar sayang?" tanya Ray panik lantaran secara tidak sengaja sudah mengatakan tentang dirinya pada Raynan. Bukan Ray tidak ingin jujur dan mengakui yang sesungguhnya hanya saja Ray dan Bela sepakat untuk merahasiakan semua ini dari Raynan untuk menjaga kondisi Raynan.


"Apa benar Om Ray Daddy aku? kalau Om Ray Daddy aku, lalu bagaimana dengan Daddy Riza?" Tanya Raynan menatap Ray.


"Raynan, maafkan Om Ray. Sudah membuat kamu bingung sayang. Jangan pikirkan apa yang Om Katakan ya! yang terpenting sekarang Raynan harus cepat sembuh," ucap Ray menggenggam tangan mungil Raynan.


"Sebenarnya kemarin, aku juga mendengar saat Mommy berbicara dengan tante dan Om yang datang kemarin, hanya saja. Raynan tidak mau mommy sedih jika Raynan menanyakan ini sama mommy," ucap Raynan yang sepertinya mulai mengerti dengan kondisi yang sebenarnya.


Klek..


Pintu terbuka.


"Ray, kamu ada di sini?" tanya Bela.


"Raynan. kamu sudah bangun nak? maaf ya, tadi mommy keluar sebentar karena mommy pikir Raynan sudah tidur," ucap Bela mencium kening Raynan.


"Iya mom, Raynan di temani Daddy," ucap Raynan.


"Daddy? Maksud Raynan? Daddy siapa? Daddy kan tidak ada di sini?" tanya Bela melihat sekeliling.


"Mom, Raynan tau, Om Ray juga Daddy aku kan? meskipun Raynan tidak mengerti kenapa Raynan punya dua Daddy, tapi Raynan senang kok, punya dua Daddy," ucap Raynan tersenyum dan menatap Ray


Mendengar Raynan begitu bijaksana dan mau memanggilnya Daddy, hati Ray merasakan begitu sakit dan bersalah. Bagaimana bisa dirinya tidak tau tentang keberadaan anaknya.


"Maafkan Daddy, Sayang. Maafkan Daddy! Maafkan Daddy yang tidak pernah tau keberadaanmu, maafkan Daddy!" tangis Ray pecah dan mencium tangan mungil Raynan.


"Daddy jangan menangis," ucap Raynan menyeka air mata Ray.


"Daddy salah sayang! Daddy salah, Maafkan Daddy!" tangis Ray semakin terisak.


Bela yang melihatnya pun tak kuasa menahan air mata, Sekarang Bela sadar, apa yang di lakukan bukan hanya membuat dirinya sendiri yang menderita tapi juga Ray dan Raynan.


Niat hati ingin membuat Bu Santi dan Ray bahagia dengan kepergiannya, tapi siapa sangka justru apa yang dilakukan hanya membuat luka baru untuk anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.


"Raynan, maafkan mommy juga ya nak! mommy yang bersalah, Mommy yang sudah memisahkan kalian berdua, maafkan mommy sayang!" ucap Bela terisak.


"Mommy, Daddy. Jangan menangis!" ucap Raynan melihat Ray dan Bela secara bergantian.


Raynan mungkin belum begitu mengerti dengan situasi saat ini, namun Raynan merasakannya perasaannya cinta dan tulus dari Mommy dan Daddy nya.


Setelah Raynan tertidur, Ray mengajak Bela untuk berbicara di luar.


Keduanya duduk di bangku taman rumah sakit.


"Maafkan aku," ucap Bela singkat.


"Apa hanya maaf, yang ingin kamu sampaikan setelah lima tahun pergi, bahkan menyembunyikan anak kita?" tanya Ray.


"Maafkan aku Ray!" jawab Bela terisak.


"Aku sudah sering mendengar kamu berkata maaf, Bela." ucap Ray datar.


"Aku akui, aku salah. Aku berdosa pada kamu dan Raynan. Tapi aku pergi juga untuk kebaikan kamu Ray," ucap Bela terisak.


"Kebaikan? kebaikan macam apa yang saat ini kamu bicarakan?" ucap Ray.


"Ray, kamu taukan? Melihatku hanya akan membuat Mami menderita karena mengingat penyebab kematian Papi, aku tidak ingin membuat Mami menderita, aku juga tidak bisa melihat kamu selalu dilema memilih antara membela aku atau Mami," terang Bela.


"Bel, berapa kali aku katakan! cukup lihat aku, cukup dengarkan aku! hanya itu yang aku minta dari kamu, dari awal kita tau Mami belum bisa menerima kamu, tapi bukan berarti, kamu bisa seenaknya pergi meninggalkan luka dihatiku seperti ini. Apalagi mengetahui keberadaan Raynan, sakit hatiku Bel, sakit karena aku merasa bersalah tidak pernah ada untuk anakku, sakit karena ternyata aku ini seorang suami dan ayah yang sangat tidak berguna," ucap Ray menahan emosi.


"Ray.. aku.. aku.. maafkan aku, Ray." ucap Bela tergagap, kini dirinya merasa bersalah dan apa yang Ray katakan memang benar, Bela bersalah karena memisahkan anak dari ayahnya.


"Maafkan, aku Ray. aku hanya ingin membuat kamu dan Mami bisa hidup dengan baik tanpa harus ada perdebatan lagi karena aku," ucap Bela menyesal.


"Apa menurut kamu, setelah kamu pergi. aku benar-benar bisa hidup dengan baik seperti apa yang tadi kamu katakan?" tanya Ray menatap Bela.


"Apa tidak pernah terlintas sedikitpun di hati kamu untuk pulang dan memberitahu aku tentang keberadaan anak kita? Apa selamanya kamu berencana ingin menyembunyikan semua ini?" tanya Ray lagi.


"Kamu benar Ray, aku memang berencana untuk selamanya menjalani hidup sendiri bersama Raynan. Karena aku pikir_" ucap Bela terputus.


"Kamu pikir apa?" tanya Ray menatap Bela tajam.


"Karena.. karena, aku pikir kamu sudah menikah dengan Mita dan aku tidak ingin kehadiranku dan Raynan akan mempengaruhi hidup kalian, karena itu aku berencana selamanya menyembunyikan ini semua dari kamu," jelas Bela.


"Astaghfirullah hal adzim, bukankah kamu yang pergi meninggalkan aku? bagaimana bisa kamu seegois ini dan berpikir aku seburuk itu, bukankah justru kamu yang selama ini hidup baik dengan laki-laki lain?" ucap Ray.


"Maksud kamu Riza? Ray, aku dan Riza tidak pernah ada apa-apa, Raynan memanggilnya Daddy karena tidak ingin Raynan besar tanpa merasakan kehadiran sosok seorang ayah," ucap Bela.


"Bukankah kamu sendiri yang membuat Raynan kehilangan ayahnya. Padahal ayahnya masih hidup dan sangat menyayanginya." ucap Ray kesal.


"Benar, Ray. Apa yang kamu katakan benar. Aku adalah orang jahat yang mungkin selamnya akan menjadi orang jahat, aku bahkan tidak tau bagaimana caranya menjadi orang baik,"


Ray terdiam, hanya bulir-bulir kristal yang saat ini menggenangi sudut matanya.


"Bela, aku tau maksud kamu mungkin baik, tapi seharusnya tidak perlu harus mengorbankan banyak hati seperti ini," ucap Ray.


^Happy Reading^