
"Kamu, apa kamu sudah di kantor?" tanya Bela gugup.
Bela tidak ingin, Ray tau kalau dirinya merasa cemburu dengan kedekatannya dan Mita.
"Iya, ini baru sampai. Ada apa?" tanya Ray.
"Tidak Ray, Tidak ada apa-apa, hanya mau memberitahu kalau tadi Papi dari sini." ucap Bela walaupun sebenarnya Bela juga ingin memastikan kalau saat ini, Ray. sudah tidak bersama dengan Mita.
"Bel, Mami pasti tadi marah sama Papi lagi ya? Kamu yang sabar ya Bel, seiring berjalannya waktu InsyaAlloh, Mami pasti bisa memaafkan Papi dan kamu," ucap Ray menghibur hati Bela.
"Iya Ray, aku paham kok. Aku juga tidak menyalahkan Mami. Ini memang kesalahan kami dan kami pantas di perlakuan seperti ini."
Bela menyadari sepenuhnya. Jika Bu Santi seperti ini hanya karena efek dari kesalahan yang pernah diperbuatnya. Jadi Bela tidak pernah menyalahkan Bu Santi sedikitpun.
"Oya, tadi kamu jadi antar Mita ke rumah?" tanya Bela.
"Iya, jadi. Tadi agak lama karena harus muter-muter nyari obat ayahnya agak sulit. beberapa apotek yang kami datangi tidak ada obat yang dicari." jelas Ray yang belum menyadari kalau istrinya cemburu.
"Oow.. ya sudah, aku tutup dulu ya. Aku mau istirahat. Assalamu'alaikum," ucap Bela segera menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari Ray.
"Walaikumsalam," ucap Ray dan melihat ponselnya ketika menyadari Bela sudah mengakhiri panggilannya.
"Tumben langsung di matikan?" gumam Ray yang menyadari Bela tak seperti biasanya.
Tok..! tok..! tok..!
"Masuk..!"
"Pak, Ray. Maaf anda sudah di tunggu di ruang meeting," ucap sekertaris Ray.
"Baiklah, saya akan segera ke sana," jawab Ray meletakkan kembali ponselnya di meja dan keinginannya untuk menghubungi Bela di urungkan lantaran harus segera menghadiri meeting.
Selama meeting, Ray. Fokus mendengarkan paparan dari tim pemasaran. Karena sebentar lagi perusahaan Ray akan meluncurkan produk baru.
"Okay, kita pakai saja konsep yang ini!" ucap Ray setelah pihak pemasaran selesai memaparkan hasil dari presentasi produk yang akan segera di luncurkan.
"Bagaimana dengan pihak produksi? Apa ada kendala? tanya Ray.
"Tidak ada Pak, semua berjalan dengan sesuai rencana. Produk InsyaAlloh akan diluncurkan sesuai dengan jadwal peluncuran" jalas bagian produksi.
"Okay, berarti semua sudah fix. Tinggal persiapan peluncuran produk. Saya harap semua bisa bekerja keras hingga peluncuran produk kita ini, bisa berjalan dengan sukses. Terima kasih juga atas kerja keras kalian. Jika peluncuran produk baru kita berhasil, bulan depan semua karyawan akan mendapatkan bonus tambahan dari saya." ucap Ray sebelum mengakhiri meeting dan di sambut dengan tepuk tangan dari seluruh karyawan yang ada di ruang meeting tersebut.
Semua menyambut bahagia, Karena Ray memang pimpinan yang loyal kedapa karyawan. Ray juga sering memberikan bonus tambahan untuk para karyawan di saat produknya berhasil terjual di pasaran.
Tak heran, banyak karyawan yang menyukai cara Ray memimpin. Karyawan juga merasakan kesedihan saat mengetahui Ray di tinggalkan oleh istrinya.
***
Dengan susah payah Bele menyeduh teh untuk mertuanya dan mengantarkan teh tersebut ke teras depan, di mana Bu Santi sedang duduk di teras sambil mendengarkan kajian dari youtube.
"Mi, ini teh buat Mami. Bela sendiri yang bikin," ucap Bela menyodorkan tehnya.
Bu Santi hanya diam tak merespon.
"Mi, saya taruk meja ya!" ucap Bela
Pyar..!
Gelas jatuh dan menyiram kaki Bu Santi.
"Ma-maafkan Bela Mi, Bela tidak sengaja!" ucap Bela ketakutan.
"Nyonya, nyonya tidak apa-apa? tanya Bik Siti berlari dari dapur ketika mendengar suara gelas pecah.
"Lihat kaki saya melempuh seperti ini? Apa sih yang kamu bisa selain menyusahkan orang?" teriak Bu Santi pada Bela.
Bela berusaha mengambang pecahan gelas di lantai dan segera di cegah oleh bik Siti.
"Biar bibik saja non!" ucap Bik Siti.
"Lihat, sekarang semua orang jadi repot gara-gara kamu!" sahut Bu Santi
"Tante, tente kenapa?" tanya Mita berlari menghampiri ketika melihat Bu Santi kepanasan.
"Bela menyiram kaki tante dengan teh panas," ucap Bu Santi
"Tidak, Bela tidak sengaja melakukannya." timpal Bela.
"Tidak sengaja kamu bilang? sudah tau, kamu itu cacat pakai bawakan teh panas segala, apa namanya kalau bukan sengaja ingin mencelakai saya?" ucap Bu Santi dengan nada tinggi.
"Mi, maafkan Bela," ucap Bela terisak.
"Tente, sebaiknya kita segera obati kaki tante dulu, takutnya nanti semakin melempuh dan akan meninggalkan bekas luka," ucap Mita memapah Bu Santi masuk ke dalam rumah.
"Non Bela, yang sabar ya Non. Mungkin ini ujian kesabaran untuk Non Bela." ucap Bik Siti seraya membersihkan pecahan gelas.
"Tapi saya benar-benar tidak sengaja Bik, saya tidak bermaksud untuk mencelakai Mami," terang Bela.
"Iya, Non. Bibik percaya. Tidak mungkin Non Bela melakukannya dengan sengaja. Bibik tau, kali ini. Non Bela sudah benar-benar berubah. Tapi mungkin saat ini Bu Santi masih butuh waktu untuk bisa memaafkan Non Bela. Yang sabar ya Non," ucap Bik Siti
****
"Tante, sebenarnya bagaimana ceritanya? Kenapa kaki tente bisa tersiram air panas seperti ini?" tanya Mita seraya mengoleskan cream luka bakar pada kaki Bu Santi.
"Entahlah, Bela itu memang menyusahkan. Kesal banget tante, kalau ingat dia. Benar-benar menyusahkan," keluh Bu Santi.
"Samapai separah ini lho Tan, sebaliknya kita ke dokter kulit. Mita takut kalau samapai ada bekas luka nantinya," ucap Mita.
"Iya, besok Tante akan ke Dokter. Oiya, bagaimana keadaan ayah kamu?" tanya Bu Santi.
"Alhamdulilah, ayah baik tante. Ayah juga titip. salam untuk tante dan juga Ray. Ayah tidak menyangka kalau ternyata Mita kerja di sini." ucap Mita
Ayah Mita memang dulu lumayan deket dengan Ray, karena Ray sering berkunjung ke sana setiap pulang sekolah.
"Ayah kamu apa dulu juga dekat dengan Ray?" tanya Bu Santi.
"Iya, Tante. dulu kan Ray sering main ke rumah setiap pulang sekolah. Ray juga sering makan siang di rumah. Katanya masakan Bunda enak, jadi setiap pulang sekolah, Ray akan ke rumah untuk makan siang," ujar Mita
"Hah.. Kasian Ray, kalau ingat masa itu. Tante rasanya sedih, mungkin saat itu Ray, sangat merindukan masakan rumahan. Masakan seorang ibu, karena itu, tidak heran kalau Ray minta makan ke rumah kamu. Karena sebagai seorang ibu, tante tidak pernah ada waktu untuk sekedar masak," ucap Bu Santi.
"Tante ucapkan terima kasih ya Mit, karena saat Ray sedang merindukan sebuah rumah, keluarga kamu memberikan perasaan rumah itu, untuk Ray," ucap Bu Santi tersenyum.
"Sama-sama tante. Tante tidak perlu berterima kasih, karena Ray dan Mita kan memang berteman, lagian itu juga sudah sangat lama tante," ucap Mita.
^Happy Reading^