
"Itu tadi, Ray mau kemana Tan? kenapa sepertinya buru-buru sekali, sampai tidak menyapa saat berpapasan dengan Mita," ucap Mita.
"Entahlah, padahal lagi sakit. Tapi tetap saja tidak mau istirahat," jawab Bu Santi
"Ray, sakit Tan? kenapa tante tidak bilang?" tanya Mita.
"Iya, semalam badannya panas banget. Tapi ya gitu, di suruh istirahat tetep tidak mau," Jawa Bu Santi.
"Kalau sakit kenapa malah perg.dan Mita lihat juga tadi Ray bawa mobil sendiri perginya." ucap Mita cemas.
"Huh.. entahlah, udah tante laran. Tapi tau sendiri kan, Ray itu keras kepalanya seperti apa. Tapi sepertinya kalau tidak salah, Ini ada hubungannya dengan anak kecil yang kemarin masuk rumah sakit itu, Yang membuat Ray sampai meninggalkan rumah kamu begitu saja," ucap Bu Santi.
"Anak kecil? memang siapa anak kecil itu Tan?" tanya Mita.
"Tante sendiri juga tidak tau, apa mungkin anaknya Niko atau Danu? setau tante anak mereka kan dekat banget sama Ray," jawab Bu Santi.
"Biar Mita coba cari tau ya Tan" ucap Mita.
"Bagaimana caranya kamu mencari ta? tante gak punya nomer mereka," ucap Bu Santi.
"Mita akan ke buktiknya Mbak Aisyah. Mita tau kok tempatnya, orang di sana pasti tau, nanti biar Mita susulin Ray ke rumah sakit, takutnya kalau Ray kenapa-kenapa," ujar Mita.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya," ujar Bu Santi.
"Iya tente, Assalamu'alaikum," ucap Mita pamit dan mencium tangan Bu Santi.
"Walaikumsalam," jawab Bu Santi.
Dari kediaman Bu Santi, Mita segera menuju butik Aisyah. Dan di sana Mita bertemu langsung dengan Aisyah yang kebetulan saat ini ada di sana.
"Assalamualaikum, Mbak Aisyah," ucap Mita.
"Walaikumsalam, Kamu perawat yang dulu mengurus Bela kan?" tanya Aisyah.
"Iya, Mbak Aisyah. Saya Mita perawat yang dulu merawat Mbak Bela." jawab Mita.
"Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Aisyah.
"Mbak, saya mau bertanya. Apa anak Mbak Aisyah atau anak Mbak Ulya ada yang sakit?" tanya Mita dengan hati-hati.
"Anak saya? Tidak anak saya baik-baik saja. Kenapa menanyakan hal seperti itu?" tanya Aisyah.
"Kalau anak Mbak Ulya?" tanya Mita lagi.
"Anak kak Ulya, Alhamdulillah sehat. sebenernya ada apa? kenapa menanyakan anak-anak?" tanya Aisyah heran dengan sikap Mita.
"Maaf Mbak, sebenarnya saya sedang mencari Ray. Karena saya telpon tidak di angkat. Dan Tante Santi bilang kemungkinan Ray pergi ke rumah sakit karena kemarin, Ray pun meninggalkan acara lamaran karena harus mendonorkan darahnya untuk anak ini, karena itu saya ke sini, saya pikir itu anak Mbak Aisyah atau Mbak Ulya," ujar Mita.
"Lamaran? Maksudnya Ray kemarin mau lamaran? memang Ray mau melamar siapa?" Tanya Aisyah.
"Sebenarnya kemarin itu hari lamaran kami, tapi Ray pergi bagitu saja," jawab Mita.
"Maksud kamu, Ray mau melamar kamu?" tanya Aisyah.
"Iya Mbak, seharusnya seperti itu," jawab Mita.
"Kalau bukan anak Mbak Aisyah dan Mbak Ulya, lalu anak siapa ya, yang saat ini sedang di khawatirkan Ray? Apa Mbak Aisyah bisa menolong saya untuk mencari tau saat ini Ray ada di rumah sakit mana?" tanya Mita.
"Maaf, bukan saya tidak mau menolong, tapi tidak baik jika saya menghubungi laki-laki lain, sedangkan suami saya tidak ada di sini," jawab Aisyah yang tidak ingin ikut campur masalah orang lain.
"Baiklah saya mengerti, maaf sudah mengganggu waktu Mbak Aisyah," ucap Mita yang sepertinya tau kalau Aisyah sengaja tidak mau menolong dirinya.
"Assalamu'alaikum, " ucap Mita meninggalkan butik Aisyah.
"Walaikumsalam," jawab Aisyah.
***
Ray mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan sesampai di rumah sakit, Ray berjalan cepat menuju ruangan Raynan, kali ini dirinya sudah tidak bisa lagi untuk menunggu dan mengetahui ada hubungan apa antara dirinya dan Raynan.
Sesampainya di depan pintu ruang perawatan Raynan, dari luar, Ray melihat Riza sedang memasangkan selimut untuk Bela yang sedang tertidur di samping ranjang Raynan.
Ray yang hendak membuka pintu, mengurungkan niatnya dan memilih untuk menunggu Bela di luar .
Ray menunggu Bela di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat Raynan.
"Apa Riza tau siapa ayah kandung Raynan? Jadi selama ini Bela meninggalkan aku dan hidup bersama dengan Riza? Pantas saja orangku tidak ada yang menemukan jejak Bela, karena Bela hidup di desa dan memilih untuk mengurus perkebunan." gumam Ray dan mencoba memikirkan kejadian lima tahun yang lalu saat Bela pergi meninggal dirinya.
"Pak Ray, Anda ada di sini? kenapa tidak masuk?" tanya Riza terkejut saat melihat ada Ray di depan ruang Raynan.
"Tadinya, saya ingin masuk. Tapi takut mengganggu istirahat Bela. Sepertinya dia kelelahan," jawab Ray.
"Iya, Pak Ray. Bela semalaman memang tidak tidur karena takut dengan kondisi Raynan. meskipun Dokter sudah mengatakan kalau Raynan dalam kondisi stabil, tetap saja sebagai seorang ibu, hatinya tidak bisa tenang karena sampai saat ini Raynan belum juga membuka matanya." jawab Riza.
"Oiya, apa Pak Ray sebelumnya kenal baik dengan Bela?" tanya Riza.
"Apa Bela tidak pernah menceritakan tentang saya?" Ray balik bertanya.
"Tidak pernah, Pak Ray. Bela itu sangat tertutup dengan masa lalunya. sejak saya mengenal Bela. Bela itu wanita yang cukup pendiam dan tidak banyak bicara," jelas Riza.
"Apa sudah lama, Pak Riza bersama dengan Bela?" tanya Ray.
"Mungkin hampir lima tahun," jawab Riza.
"Jadi begitu pergi meninggalkan aku, kamu langsung bersama dengan Riza, Bel? Atau kamu lakukan itu untuk Raynan? batin Ray, karena saat ini di otaknya begitu banyak pertanyaan yang mengambang.
"Pak Ray, kenapa diam?" tanya Riza yang melihat Ray terdiam dan tampak berpikir.
"Ah, iya. Maaf Pak Riza. Bukan saya mau ikut campur, tapi kemarin Pak Riza mengatakan kalau Raynan bukan anak kandung Pak Riza, apa sejak awal Pak Riza sudah tau kalau Raynan bukan anak kandung bapak atau Pak Riza juga baru mengetahuinya?" tanya Ray berusaha mencari jawaban atas keresahan hatinya.
"Tantu saya tau sejak awal, Saya ini sejak kecil hidup tanpa sosok seorang ayah. karena ayah saya meninggal dunia saat saya masih sangat kecil. karena itu saya tidak ingin Raynan merasakan apa yang saya rasakan, hidup tanpa sosok seorang ayah tidaklah mudah untuk anak kecil Pak Ray," jelas Riza.
"Jadi benar, Bela menikah dengan Riza karena tidak ingin Raynan lahir tanpa seorang Ayah. tapi bukankah kami bercerai setelah dua tahun kepergian Bela, tapi tadi Riza mengatakan mereka bersama sudah lima tahun. Apa mereka bersama dulu baru menikah setelah perceraian itu? tapi jika benar Raynan anak saya, kenapa Bela justru pergi saat itu?" batin Ray dengan pemikirannya sendiri.
^Happy Raeding^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang, dukungan kalian sangat berarti bagi thor🙏Terima kasih 🥰😘