
4 Hari berlalu.
Kematian Rani telah di ketahui oleh pihak kepolisian, dan kini Sofia berada di rumah sakit dengan keadaan yang sangat memperihatinkan.
Clarissa yang mendapatkan telpon dari pihak rumah sakit pun langsung bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan Sofia.
Nampak wanita itu hanya bisa berbaring di atas ranjang tanpa bisa menggerakkan badannya sedikit pun.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Clarissa kepada Brian.
"Menurut hasil penyelidikan polisi, Candra telah membunuh istrinya dan kabur ke luar kota." Ucap Brian.
"Lalu, kenapa Sofia bisa menjadi seperti ini?" Tanya Clarissa heran karena setahunya Sofia tak pernah menderita penyakit apapun.
"Entahlah.." Jawab Brian meski di dalam hatinya berkata lain.
Kemudian dokter pun keluar dari ruang rawat Sofia, Clarissa dengan cepat menanyakan kondisi Sofia saat ini.
"Kondisi pasien sangat parah, dan kemungkinan besar dia akan menjadi seperti itu selamanya." Jawab dokter tersebut.
Mendengar hal itu Clarissa terdiam, ada rasa puas di hatinya karena orang yang telah menyakiti dirinya telah mendapatkan karma nya. Tapi ada rasa tak tega di hati Clarissa, karena bagaimanapun mereka dulu pernah dekat saat waktu kecil layak nya seorang kakak beradik.
"Clarissa, ada apa denganmu?" Tanya Brian yang melihat Clarissa terdiam.
"Tak ada." Jawab Clarissa.
Setelah menjawab pertanyaan Brian dengan singkat, Clarissa kembali terdiam. Kemudian dia menghela nafas panjang dan langsung melihat ke arah Brian.
"Kita harus memberikan pengobatan untuk Sofia, jika dia tetap tidak sembuh. Setidaknya kita bantu untuk mengurus nya." Ucap Clarissa.
"Apa aku tak salah dengar?" Tanya Brian sedikit heran.
"Iya, kau tak salah dengar." Jawab Clarissa.
"Tapi Clarissa, wanita itu. Apa kau tak salah ingin membantu nya?" Tanya Brian yang sedikit tak suka karena wanita itu adalah penyebab dari musibah yang menimpa Clarissa.
"Iya aku tahu, dia sudah berbuat jahat. Tapi mau bagaimana pun dia tetap saudara ku." Jawab Clarissa.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepada mu, dan mungkin ucapan ku ini akan membuat mu berpikir 2 kali." Ucap Brian.
"Mengatakan apa?" Tanya Clarissa.
Kemudian Brian langsung menyetarakan tinggi badan nya dengan Clarissa. "Kau tahu siapa yang telah membuat mu cacat seperti sekarang ini?" Tanya Brian.
"Aku tak tahu." Jawab Clarissa.
"Wanita itu dan keluarga nya, mereka adalah orang yang telah membuat mu cacat. Ah, dan mereka di bantu oleh Lesly.." Jawab Brian.
Clarissa pun terdiam, dia menatap lekat-lekat mata Brian untuk mencari kebohongan. Tapi tak ada kebohongan sedikit pun dari ucapan Brian.
"Jadi Paman, Bibi dan Sofia yang telah membuat ku seperti ini?" Tanya Clarissa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya mereka yang telah membuat mu seperti ini, dan aku tak ingin kau membantu orang seperti mereka." Ucap Brian.
"Dan apa kau yang telah membuat Sofia menjadi seperti itu?" Tanya Clarissa.
Brian pun terdiam, "Aku tak perlu menjawab nya, karena kau pasti sudah tahu jawabannya." Ucap Brian.
Mendengar jawaban Brian, Clarissa pun terdiam. Entah kenapa hati nya sangat sakit, jika mengingat apa yang sekarang terjadi kepada nya.
Dia kehilangan kemampuan untuk bisa berjalan, dan hal itu membuat nya depresi untuk beberapa Minggu.
"Clarissa, kau tak apa?" Tanya Brian yang melihat Clarissa seperti kesulitan bernafas.
"Aku.. Baik.." Jawab Clarissa.
Melihat keadaan Clarissa, Brian langsung mendorong kursi roda Clarissa dan memanggil kan satu orang dokter untuk memeriksa keadaan Clarissa.
Setelah di periksa, dokter mengatakan jika Clarissa mengalami shock yang bisa membuat nya kesulitan bernapas.
Brian yang mendengar penjelasan dari Dokter pun merasa bersalah karena telah mengatakan yang sebenarnya kepada Clarissa.