
Kini hari dimana Clarissa akan menjalani pengobatan yang, terlihat wajah Clarissa sudah sangat ceria karena dia bisa memiliki peluang untuk bisa berjalan lagi.
"Aku titip istri ku dulu." Ucap Brian kepada Miranda.
"Oke, tenang saja. Akan ku jaga istri mu dengan baik." Jawab Miranda.
"Kamu serius gak akan ikut?" Tanya Clarissa kepada suami nya itu.
"Iya sayang, tapi setelah selesai pengobatan aku akan menjemputmu." Ucap Brian.
"Memang nya urusan itu sangatlah penting, hingga kamu gak bisa menemani ku terapi?" Tanya Clarissa.
"Iya ini sangat penting, tapi meski aku tak menemani mu. Anak-anak akan ikut menemani mu." Ucap Brian.
"Iya Mommy, Jesselyn akan ikut buat menyemangati Mommy." Ucap Jesselyn antusias.
"Iya Mommy, Jeremy dan Jerry juga akan ikut." Sambung Jeremy.
"Jadi Mommy gak usah takut, apalagi kalau ada aku. Aku akan menjaga Mommy dengan baik." Sambung Jerry.
Clarissa yang melihat ketiga anak nya nampak semangat dan senantiasa memberikan support untuk dirinya pun hanya bisa tersenyum senang.
"Ya udah, makasih yah anak-anak Mommy." Ucap Clarissa.
Kemudian Clarissa langsung naik ke dalam mobil di bantu oleh Brian, tak beberapa lama mobil pun langsung melaju.
"Dadah Daddy...." Ucap Jesselyn sambil melambaikan tangannya.
"Dadah sayang.." Jawab Brian sambil membelai lambaian tangan Jesselyn.
Mobil yang di tumpangi oleh Clarissa pun kini telah menghilang dan tak terlihat lagi, Brian yang melihat kepergian mobil istri pun langsung memudarkan senyuman nya.
"Siapkan mobil, kita berangkat sekarang." Ucap Brian kepada anak buahnya.
"Baik Bos.."
Tak beberapa lama mobil pun siap, Brian langsung masuk ke mobil milik nya dan kini tujuan Brian sekarang adalah markas nya. Karena ada seseorang yang tengah menunggu kedatangan Brian.
Di markas milik Brian.
Brian dengan gagah berjalan menuju salah satu ruangan, di dalam ruangan itu terlihat seorang pria tengah duduk dengan tangan dan kaki yang di ikat dan juga sebuah kain yang menutupi kedua mata nya.
Brian pun langsung memberikan instruksi kepada anak buah nya untuk melepaskan penutup mata pria itu.
"Welcome to my place." Ucap Brian sambil tersenyum.
Alvin pun ingat jika pria itu adalah suami dari Clarissa. "Apa maksud nya ini?" Tanya Alvin.
"Santai saja, Bro.." Ucap Brian.
Kemudian Brian memerintahkan anak buahnya untuk membuka ikatan di tangan dan juga kaki Alvin.
"Maaf atas ke lancangan orang-orang ku yang tidak memperlakukan mu dengan baik." Ucap Brian.
"Apa maksud nya? Kenapa kau menculik ku. Aku tak pernah memiliki urusan dengan mu." Ucap Alvin yang sedikit ketakutan.
"Aku tahu kau pasti memiliki rahasia tentang keluarga itu yang berkaitan dengan Clarissa." Ucap Brian sambil tersenyum misterius.
Alvin pun langsung terdiam, bagaimana pria di hadapannya itu tahu jika dirinya mengetahui rahasia kejahatan keluarga Pak Candra.
"Darimana kau tahu?" Tanya Alvin.
"Tak masalah jika aku tahu darimana pun, tapi aku ingin mengajakmu bekerja sama." Ucap Brian.
"Bekerja sama?" Tanya Alvin.
"Iya, bekerja sama dan kau tahu apa yang akan kau dapat jika menerima tawaran dari ku ini." Ucap Brian.
"Memang nya apa?" tanya Alvin.
"Aku akan memberi mu uang 1 miliar." Ucap Brian.
Alvin yang mendengar hal itu langsung terdiam, uang satu miliar bukanlah jumlah uang yang sedikit.
"Kau bisa memikirkan nya dulu, tapi jika aku menjadi diri mu. Aku pasti tak akan menolak tawaran ini, lagi pula apa yang kau pertahanan dari keluarga itu, keluarga yang telah menghina mu, mencaci maki diri mu dan menganggap mu sebagai seonggok sampah." Ucap Brian dengan sebuah senyuman khas.
"Baik, aku terima tawaran itu." Ucap Alvin tanpa ragu.
"Baiklah, yang kau lakukan hanyalah mengikuti perintah ku. Tapi...." Ucap Brian menggantung kan kata-kata nya.
"Tapi apa?" Tanya Alvin.
"Jika kau mengkhianati ku, maka kepala mu yang akan menjadi bayaran nya." Ucap Brian sambil tersenyum manis.
Tapi senyuman manis itu seperti sebuah senyuman malaikat kematian untuk Alvin.