
Brian kini tengah duduk, di depannya ada seorang dokter yang tengah bersimpuh.
"Jadi kau sudah melakukan tugas mu?" Tanya Brian.
"Iya, Tuan. Sa..ya sudah melakukan apa yang anda suruh." Jawab nya.
"Bagus.. Baiklah, sebagai apa yang ku janjikan kepada mu." Ucap Brian.
Kemudian Brian langsung menyuruh anak buahnya untuk memberikan segepok uang kepada dokter tersebut.
"Terimakasih, Tuan." Jawabnya kegirangan karena telah mendapatkan uang banyak.
"Tapi ingat, ini hanya antara kau dan aku. Jika sampai kau buka mulut, maka pistol ini akan melubangi langsung Kepala mu." Ucap Brian sambil menodongkan pistol miliknya ke kepala dokter tersebut.
"Baik, saya tak akan buka mulut. Dan tak akan ada orang yang tahu." Jawab nya.
"Bagus, kalau begitu pergi lah." Ucap Brian.
Kemudian Dokter tersebut pun langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan Brian, kemudian Roki langsung buka suara prihal apa yang di lakukan oleh Brian.
"Apa Nyonya tak akan marah?" Tanya Roki.
"Yah... Entahlah." Jawab Brian.
"Tapi kenapa bos membunuh wanita itu, sementara Nyonya ingin menyelamatkan nya." Ucap Brian.
"Emm... Clarissa yang ingin menyelamatkan nya. Tapi aku tidak, dan aku tak ingin istri ku bersedih dan merasa bersalah kepada wanita itu. Maka lebih baik musnahkan saja." Ucap Brian.
Bagi Brian membunuh wanita lemah seperti Sofia bukanlah hal yang sulit.
"Lalu bagaimana jika Nyonya tahu, Bos yang membunuh sodara nya?" Tanya Roki lagi.
Brian pun langsung melihat ke arah Roki sambil mengerutkan kening nya. "Kau lama-lama semakin bawel, tenang saja. Clarissa tak akan tahu kok, lagi pula dia akan tahu darimana." Ucap Brian.
"Baiklah, saya hanya tak ingin rumah tangga Bos dan Nyonya menjadi renggang hanya gara-gara hal seperti ini." Ucap Roki.
"Iya.. Iya... Dimana Erwin?" Tanya Brian.
"Dia sedang cuti." Jawab nya.
"Cuti?" Tanya Brian heran karena tak biasanya pria itu mengambil cuti.
"Iya, ku dengar dia sedang dekat dengan seorang wanita. Lalu mengambil cuti." Jawab Roki.
"Oh.. Lalu kau?" Tanya Brian.
"Lalu kau kapan mencari wanita? Hah? Apa kau ingin menjadi perjaka tua?" Tanya Brian.
"Belum saat nya." Jawab Roki.
"Oh... Aku memilih sebuah rencana untuk masa depan ku." Ucap Brian.
"Rencana?" Tanya Roki.
"Iya, aku akan berhenti dari dunia mafia." Jawab Brian.
"Berhenti? Lalu kami bagaimana?" Tanya Roki yang kaget dengan ucapan Brian.
"Kalian? Bukannya ada kau dan Erwin. Lagi pula kalian bisa menggantikan ku." Ucap Brian.
"Kami tidak bisa, tapi kenapa anda mengatakan hal seperti itu." Ucap Roki.
"Iya, aku ingin hidup damai bersama dengan keluarga ku di pedesaan." Jawab Brian karena dari dulu dia ingin tinggal di pedesaan yang damai.
"Dan tentu nya, hidup keluarga ku akan jauh lebih aman jika aku tak lagi menjadi seorang mafia." Jawab Brian.
"Tapi Bos... Kau harus pikirkan lagi, kita membangun organisasi ini dengan susah payah. Mendiang Tuan besar pun membangun organisasi ini dengan susah payah, apa kau ingin membiarkan hasil kerja keras kita semua sia-sia seperti ini." Ucap Roki.
"Roki... Memang sekarang kau mengatakan itu kepada ku, tapi suatu saat mungkin kau akan mengerti kenapa aku berencana seperti ini." Ucap Brian.
Setelah mengatakan hal itu, Brian pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Dan meninggalkan Roki yang masih terdiam dengan wajah tak mengerti.
Keesokan harinya...
Clarissa dan Brian tengah berada di rumah sakit, nampak mata Clarissa berkaca-kaca karena tadi pagi dia di telpon oleh pihak rumah sakit yang mengatakan jika Sofia telah meninggal dunia.
"Bagaimana bisa Sofia meninggal secara mendadak seperti itu." Ucap Clarissa sedih.
"Ini sudah takdir nya, Clarissa. Lagi pula pada awalnya kondisi Sofia memang sangat parah." Jawab Brian.
Kemudian Brian berusaha menenangkan istri nya itu, dan hari itu juga pemakaman Sofia pun di gelar. Dia di makan kan di samping ibunya Rani.
Dan saat pemakaman, terlihat Clarissa menatap sedih saudarinya yang kini sudah berada di dalam tanah.
"Sudah, jangan sedih lagi karena masih ada aku dan anak-anak yang akan mendampingi mu." Ucap Brian.
Clarissa yang mendengar ucapan Brian pun tersenyum, kemudian Brian langsung mendorong kursi roda Clarissa dan meninggalkan pemakaman tersebut.