Gigolo Ku Seorang Mafia

Gigolo Ku Seorang Mafia
Bab 71 : Malam pertama pernikahan.


Brian dengan lembut mengangkat tubuh mungil Clarissa menuju salah satu kamar di kapal pesiar itu. Kamar yang khusus Brian sediakan untuk dirinya dan juga Clarissa yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


"Apa harus?" Tanya Clarissa sambil melihat Brian.


"Tentu harus, ini malam pertama kita." Jawab Brian.


"Tapi kita sering melakukan hal itu." Jawab Clarissa.


"Beda lagi sayang, waktu itu kita belum menikah. Dan sekarang kita sudah menikah, dan malam pertama adalah kewajiban setiap pengantin." Jawab Brian.


"Tapi bagaimana dengan anak-anak, mereka pasti mencari kita berdua." Ucap Clarissa.


"Tenang saja, aku sudah mengurus nya." Jawab Brian sambil membelai wajah Clarissa.


"Tapi..." Sebelum melanjutkan kata-katanya mulut mungil Clarissa sudah di sambar oleh bibir Brian.


Kali ini Clarissa hanya bisa diam sambil mengikuti permainan Brian, "Hentikan.." Ucap Clarissa yang merasakan ada gerakan di area bawah miliknya.


"Kau tak boleh menolak permintaan dari suami mu Clarissa.." Ucap Brian yang sudah tidak sabar ingin menelanjangi tubuh Clarissa.


Tanpa banyak permainan Brian langsung melepaskan semua pakaian milik Clarissa, "Hari ini dan seterusnya kau adalah milik ku." Ucap Brian sambil menerjang tubuh polos milik Clarissa.


Malam itu menjadi malam yang sangat panas untuk Clarissa dan juga Brian, tanpa mereka tahu jika ketiga anaknya tengah mencari keberadaan Brian dan juga Clarissa.


"Mommy.. Aku ingin ke Mommy.. Hiks, hiks, hiks..." Ucap Jesselyn sambil menangis.


Para pengawal Brian bingung harus melakukan apa. "Saya mohon, nona muda tenang dulu. Kami akan mencari keberadaan Tuan dan Nyonya." Ucap pengawal tersebut.


"Daddy.. Mommy..." Jesselyn terus saja menangis Sangat kencang sampai membuat beberapa orang mendekat dan melihat gadis kecil yang tengah menangis itu.


Jerry dan Jeremy tak bisa melakukan apa-apa karena jika adiknya sudah menangis tak ada yang bisa menenangkan nya sampai orang yang ingin Jesselyn temui datang ke hadapannya.


Di dalam kamar masih terdengar suara ******* merdu dari mulut mungil Clarissa.


"Brian.. Itu, handphone mu berdering.." Ucap Clarissa sambil menahan ******* yang keluar dari mulut.


Selanjutnya terdengar suara dering telpon milik Clarissa.


"Ah.. Brian, sudah dulu. Handphone ku, ber... dering..." Ucap Clarissa.


"Biarkan saja, lagi pula tidak akan penting... Aku tak ingin menghentikan ini terlebih dahulu sebelum aku terpuaskan.." Ucap Brian sambil terus melakukan kewajiban.


Clarissa hanya bisa menuruti apa yang dia katakan Brian, dan lagi Clarissa pun sangat menikmati sentuhan yang Brian berikan kepadanya.


Di lain tempat...


Anak buah Brian sudah sangat panik karena telpon mereka tidak di angkat oleh bos nya itu.


"Bagaimana ini, Tuan tidak menjawab telpon. Apa dia kenapa-kenapa." Ucap Seorang pengawal pada rekannya.


"Tidak mungkin, tapi sekarang yang jadi masalah adalah tangisan nona muda. Jika tuan tahu nona muda menangis kita pasti akan kena masalah.." jawab rekannya yang lain.


"Bagaimana? apa Mommy dan Daddy mengangkat telpon nya?" Tanya Jesselyn dengan mata penuh harap.


"Maaf non muda, Tuan besar dan Nyonya tidak mengangkat panggilan dari saya." Jawab pengawal itu.


Seketika tangisan Jesselyn kembali terdengar kencang, "Hiks.. Hiks.. Hiks... Daddy dan Mommy telah membuang Jesselyn.." Ucap Jesselyn sambil terus menangis.


"Sudah lah Jesselyn, mungkin Mommy dan Daddy sedang berada di suatu tempat dan tengah mengobrol." Ucap Jeremy memberikan pengertian.


"Lalu kenapa mereka tidak membawa juga Jesselyn, Jesselyn juga ingin ikut.." Ucap Jesselyn merengek.


"Sudahlah, sekarang kita nikmati dulu pesta nya. Dan pasti sebentar lagi Daddy dan Mommy akan datang." Ucap Jeremy.


"Kakak janji Mommy dan Daddy akan datang?" Tanya Jesselyn.


"Iya Jesselyn, sekarang kau berhenti menangis. Lihatlah mata mu sekarang sudah bengkak seperti itu." Ucap Jeremy.


"Emmm.." Jesselyn pun segera menghapus air mata miliknya.