Gigolo Ku Seorang Mafia

Gigolo Ku Seorang Mafia
Bab 42 : Pulang ke Indonesia.


Clarissa melihat sekeliling bandara, kini dia sudah sampai di Indonesia bersama dengan ke tiga anaknya.


"Mommy, apa kita akan memesan taksi?" Tanya Jesselyn.


"Enggak sayang, supir pribadi Mommy sudah menjemput." Jawab Clarissa.


"Mommy punya supir pribadi?" Tanya Jerry.


"Tentu karena Mommy adalah orang kaya.." Jawab Clarissa bangga.


"Lalu kenapa di Amerika kita tinggal di rumah yang kecil?" Tanya Jeremy.


"Itu karena rumah Kakek dan Nenek. Nanti kalian akan Mommy ajak ke rumah Mommy." Ucap Clarissa.


Kemudian ada seorang pria dengan setelan jas rapih menghampiri Clarissa. "Nyonya Clarissa.." Panggil nya sambil membungkukkan badan.


"Lama tidak berjumpa, Pak Irham.." Ucap Clarissa.


Pak Irham yang merupakan supir Clarissa pun tersenyum, kemudian dia langsung membawa koper-koper milik Clarissa dan juga ketiga anak nya.


Jerry, Jeremy dan Jesselyn hanya melihat ibunya dengan tatapan penuh tanya.


"Nanti Mommy jelaskan.." Ucap Clarissa yang tahu arti tatapan ketiga anaknya.


Kemudian Clarissa langsung masuk ke dalam mobil Limosin miliknya, ketiga anak Clarissa nampak tercengang melihat kekayaan ibunya.


Sesampainya di Mension milik Clarissa, Clarissa langsung turun dari dalam mobil. Dan di sana dia sudah di sambut hangat oleh para pelayan yang setia menjaga rumah nya selama bertahun-tahun.


"Selamat datang kembali, Nyonya Clarissa. Tuan muda.. Dan Nona muda.." Ucap kepala pelayan.


"Terimakasih, apa kalian sudah menyiapkan kamar untuk ketiga anak ku?" Tanya Clarissa.


"Sudah Nyonya, kami sudah menyiapkan semuanya." Jawab kepala pelayan.


"Bagus, Jerry, Jeremy dan Jesselyn. Kalian ikut dengan Kakek kepala pelayan, Mommy memiliki urusan sebentar." Ucap Clarissa.


"Tapi Mommy.." Ucap Jesselyn yang masih takut.


"Gak papa Mommy, Mommy pergi saja. Jesselyn biar kami berdua yang tangani." Ucap Jeremy.


Clarissa pun tersenyum, kemudian dia langsung masuk kembali ke dalam mobil. Sebenarnya Clarissa sangat lelah dan ingin segera istirahat tapi pekerjaan kantor harus di selesaikan hari ini juga.


Clarissa hanya memijat pelipisnya dia sangat pusing dan juga lelah, dan hari ini ada rapat dengan salah satu perusahaan. Dan Clarissa harap jika klien nya itu tak terlalu susah untuk di ajak bernegosiasi.


"Nyonya kita sudah sampai.." Ucap Pak Irham kepada Clarissa.


"Baik.. Pak Irham pulang saja. karena pasti akan agak lama, nanti jika saya mau pulang saya kan menghubungi Pak Irham." Ucap Clarissa.


"Baik Nyonya.." Jawab Pak Irham.


Kemudian Clarissa pun segera turun dari dalam mobil dia langsung berjalan ke dalam perusahaan miliknya, dia langsung di sambut oleh karyawan di perusahaan.


Clarissa hanya tersenyum, kemudian melangkah pergi menuju ruangan kerja miliknya.


"Nyonya..." Panggil Asisten nya.


"Ah, iya?" Tanya Clarissa yang masih linglung.


"Klien kita sudah berada di ruangan rapat." Ucap Sang Asisten.


"Berapa orang?" Tanya Clarissa.


"Hanya satu orang." Jawab sang asisten.


"Baiklah, saya ke sana sekarang." Jawab Clarissa.


Kemudian Clarissa di antar oleh asisten menuju ruang rapat, tapi Clarissa lupa menanyakan nama perusahaan dari Klien nya.


Sesampainya di ruang rapat, Clarissa langsung masuk sendiri karena Klien itu hanya ingin bertemu dengan Clarissa.


"Selamat siang.. Maaf membuat anda menung...gu..." Ucap Clarissa sambil menatap kaget pria di hadapannya itu.


Brian melihat dingin wanita di depannya itu, wanita yang tiba-tiba menghilang begitu saja dari hidup nya.


"Selamat siang juga, CEO Caterpillar." Jawab Brian dengan nada dingin.


Clarissa hanya tersenyum, dari ucapan dan tatapan Brian. Clarissa bisa menebak jika pria itu mungkin sekarang sudah membencinya dan mungkin juga pria itu sudah memiliki pasangan hidup.


"Baiklah, kita mulai..." Ucap Clarissa mulai membuka dokumen kerja sama dengan perusahaan Brian.


Brian hanya diam sambil melihat Clarissa, Clarissa yang sedang melihat dokumen mereka semua tulisan di dalam dokumen itu tak terbaca satu pun.


Pandangannya sedikit buram, tapi Clarissa berusaha untuk tetap kuat.


Di tengah-tengah negosiasi dan penjelasan. Tak henti-hentinya Clarissa memijat pelipisnya dan sesekali menepuk pipi nya agar tetap dalam kesadaran.


Brian yang melihat tingkah laku Clarissa merasa jika wanita itu sedang tidak sehat, Clarissa pun mulai berasa jika suhu tubuhnya mulai panas.


Tak beberapa lama negosiasi pun selesai, Clarissa dengan ramah mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih, Pak Brian atas kerja sama ini. Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar." Ucap Clarissa.


Brian hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Clarissa pun hendak pergi dan saat dirinya membuka pintu.


Brian langsung memeluk Clarissa dari belakang, dan membawa tubuh mungil Clarissa duduk di salah satu kursi.


Clarissa kini duduk di paha Brian, mereka saling menatap satu sama lain.


Brian pun memegang kening Clarissa, dan benar saja tubuhnya panas.


Clarissa yang sudah sangat pusing hanya bisa diam dengan tubuh yang memeluk Brian.


Kemudian perlahan tatapan Clarissa pun memudar dan Clarissa pun tak sadarkan diri.