
"Suara siapa itu?" Ucap Brian sambil mengisyaratkan agar anak buahnya berhenti.
Kemudian Brian mengikuti suara tangis seorang wanita, di lihat nya seorang wanita tengah duduk di lantai dengan kaki telanjang.
"Clarissa..." Panggil Brian yang melihat Clarissa berada di ujung lorong.
Clarissa yang mendengar suara seseorang yang tak asing baginya pun langsung menoleh, di depannya ternyata sudah berdiri Brian bersama anak buahnya.
"Brian..." Panggil Clarissa dengan kesal dan nada yang hendak menangis.
Kemudian Brian langsung berjalan ke arah Clarissa, tapi dengan cepat Clarissa langsung menyuruh Brian berhenti.
"Stop... Jangan mendekat.." Teriak Clarissa.
"Ada apa?" Tanya Brian.
"Di sana ada banyak bom tempel, jika kau menginjak nya kau bisa mati.." Ucap Clarissa.
Brian hanya tersenyum, kemudian dia melihat ke arah Deri, Tania, Bima dan Arjuna mereka hanya tersenyum sambil menggaruk-garukkan kepalanya.
Brian dengan santai berjalan karena dia memakai kacamata khusu jadi dia tahu dimana letak bom tempel itu.
"Kau? Bagaimana bisa melewati nya dengan mudah?" Tanya Clarissa.
"Itu tak penting, yang terpenting sekarang adalah mengeluarkan mu dari sini." Ucap Brian sambil memangku tubuh mungil Clarissa
Kemudian Clarissa memeluk tubuh Brian, setelah itu Brian dan anak buahnya pun langsung keluar dari gedung itu.
Tak beberapa lama terdengar suara ledakan dan untungnya Brian sudah keluar dari gedung itu, "Kemana yang lain?" Tanya Maria yang melihat rekan nya yang bertugas di luar gedung belum juga datang.
"Entahlah..." Jawab Bima.
Terlihat Aruh, jiyad dan Viktor tengah berlari sambil membawa Joni, Roni dan Chintia di punggung mereka.
"Ada apa ini?" Tanya Maria panik begitu juga dengan Bima.
"Kami tak tahu, saat kami datang mereka sudah tewas tertembak." Jawab Viktor.
Brian pun terdiam sambil melihat jasad anak buahnya, amarahnya seketika langsung memuncak. Sementara Clarissa hanya bisa diam sambil menutup mulut nya tak percaya.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Maria dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kita pulang.." Jawab Brian dengan tatapan dingin sambil menurunkan Clarissa dari pangkuannya.
"Ayo Nona Clarissa.." Ajak Maria.
Kemudian Clarissa melihat ke belakang, nampak Brian hanya diam dan tak bergeming. Clarissa pun segera di bawa pulang oleh Maria dan juga Tania.
Sementara anak buah yang lain langsung membawa jasad ketiga rekannya ke dalam mobil.
"Bagaimana dengan Brian? Dia tidak pulang." Tanya Clarissa.
"Melampiaskan amarahnya?" Tanya Clarissa.
"Iya.." Jawab Maria sambil menyalakan mesin mobil.
"Kita tidak bisa meninggalkan Brian.." Ucap Clarissa yang melihat Brian di tinggal sendiri.
"Bos akan menunggu musuh datang... Dan dia akan menghabisi nya sendiri." jawab Maria.
"Tapi bagaimana jika dia mati.." Ucap Clarissa.
"Sebaiknya Nona Clarissa diam saja.." Jawab Maria.
Kemudian Clarissa pun diam sambil melihat ke luar kaca mobil.
Nampak Brian dengan tenang duduk di sebuah batu sambil menunggu musuh datang, ternyata dia telah salah mengambil tindakan.
"Aku akan membalaskan dendam kalian.." Ucap Brian sambil menghirup rokok miliknya.
Nampak beberapa orang datang, mereka adalah anak buah Vino. Dan saat mereka datang betapa kagetnya mereka saat melihat gedung yang merupakan markas mereka hancur.
"Liat di sana.." Tunjuk seorang dari mereka ke arah Brian.
Brian pun tersenyum, dia sudah tak sabar ingin menghabisi semua orang itu.
Dor... dor.. dor...
Terdengar suara tembakan terus menerus, nampak Brian berdiri di antara tumpukan mayat dengan datang yang mengalir dari tangan dan juga tubuh nya.
Nampak Brian berjalan ke arah pria yang masih hidup, "Aku tanya, siapa yang membunuh orang anak buah ku?" Tanya Brian dengan tatapan mengeringkan.
"Aku tak tahu..." Jawabnya.
"Apa kau ingin peluru di senjata ini menembus otak mu.." Ucap Brian.
"Ba..ik... Itu ulah Fransiska." Jawab nya.
"Fransiska?" Tanya Brian.
"I..ya.. Dia kaki tangan Bos Vino..." Jawab pria itu.
Dor....
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Brian tanpa ampun langsung menembak kepala anak buah musuhnya.
Nampak Brian kembali menghirup rokok miliknya, kini dia tahu siapa yang telah membunuh ketiga anak buahnya.
"Akan ku ingat nama mu itu..." Ucap Brian sambil berjalan pergi.