
Nyonya Rindi terlihat tengah duduk di sambil melihat majalah, kedua putri kembar nya pun datang.
"Mama.." Panggil Keysa dan Keyla yang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.
"Kalian udah datang, Mama tungguin dari kemarin." Ucap Nyonya Rindi kepada kedua putri nya yang sudah tumbuh menjadi gadis remaja.
"Biasa Mama, kepala sekolah tidak mengizinkan kami untuk izin. Jadi kami harus menunggu sampai liburan datang." Jawab Keyla.
"Tak apa, lebih baik kalian istirahat. Perjalan dari Jakarta ke Bali pasti sangat melelahkan." Ucap Nyonya Rindi kepada kedua putri nya.
"Mama ku dengar Kakak ada di Bali, dan dia bersama dengan seorang wanita dan anak kecil, apa itu benar?" Tanya Keysa.
"Iya benar.." Jawab Nyonya Rindi sambil meminum teh miliknya.
"What? Jadi apa anak Kakak laki-laki atau perempuan?" Tanya Keyla penasaran.
"Kakak mu memiliki 3 anak, 2 laki-laki dan satu perempuan." Jawab Nyonya Rindi.
"Wow... Lalu dimana mereka? Dan apa Kakak sudah memiliki ikatan pernikahan?" Tanya Keysa.
"Belum.." Jawab Nyonya Rindi.
"What? Berarti mereka adalah anak di luar nikah." Ucap Keysa.
"Tapi bagaimana bisa mereka tidak menikah dan sudah memiliki seorang anak, Kakak memang sungguh sangat keterlaluan." Ucap Keyla.
"Benar sekali, kita harus memberi pelajaran kepada kakak tua itu." Jawab Keysa.
"Benar sekali, sekarang kakak tua itu dimana?" Tanya Keyla.
"Kakak mu ada di Villa miliknya.." Jawab Nyonya Rindi.
"Villa milik kakak? Ku kira Villa itu sudah di jual oleh kakak." Ucap Keysa.
"Iya memang sudah di jual, tapi kemarin dia membeli lagi Villa itu." Jawab Nyonya Rindi.
"Apa Kakak sengaja membeli Villa itu untuk wanita nya?" Tanya Keyla.
"Bisa saja, aku jadi penasaran bagaimana wajah dari wanita kakak. Apa dia cantik?" Tanya Keysa.
"Tapi yang jelas pasti lebih Cantik Mama kita.." Ucap Keyla sambil memeluk Nyonya Rindi.
"Kalian bisa aja, sana cepat istirahat." Ucap Nyonya Rindi kepada kedua putrinya.
"Oke, Mommy..." Jawab Keyla dan Keysa.
Sudah 10 tahun berlalu sejak kematian suaminya, kini hidup Nyonya Rindi merasa sedikit hampa tanpa kehadiran suami tercintanya itu.
"Aku kangen kamu Sayang..." Gumam Nyonya Rindi sambil melihat sebuah foto di galeri ponselnya.
Mendiang ayah Brin merupakan mafia seperti Brian, Daniel Airlangga Surya. Merupakan nama dari mendiang ayah Brian, karena hidupnya yang berkecimpung di dunia Mafia sehingga banyak orang yang menjadi musuhnya.
Dan kematian nya merupakan momen yang paling tak bisa di lupakan oleh Nyonya Rindi, karena suaminya mati setelah di jebak oleh teman-temannya yang bekerja sama dengan pihak musuh.
Mengingat apa yang terjadi terhadap suaminya Nyonya Rindi seketika langsung meneteskan air mata, jika dia bisa memilih dia ingin hidup bersama dengan suaminya dalam keadaan yang berbeda.
"Jika saja kau masih hidup, mungkin sekarang hidup ku akan lebih baik.." Gumam Nyonya Rindi dengan mata yang masih menatap sendu foto mendiang suaminya.
Nyonya Rindi pun teringat akan banyaknya ancaman kepada dirinya saat dulu masih berpacaran dengan mendiang ayah Brian.
Bahkan sampai setelah mereka menikah pun masih banyak orang yang ingin mencelakai Nyonya Rindi karena mereka tahu kelemahan Daniel adalah istrinya sendiri.
Dan dari sanalah Nyonya Rindi sadar jika dia tak ingin menjadi beban suaminya, dengan latihan yang di berikan suaminya Nyonya Rindi mampu mengalahkan banyak musuh dan semua orang menjulukinya Queen Mafia.
Nyonya Rindi masih ingat bagaimana ekspresi wajah suaminya saat Brian dulu lahir, pria itu dengan senang menjaga dirinya 24 jam.
Begitu juga saat Keyla dan Keysa lahir, mendingan suaminya dengan senang selalu menjaga dirinya dan ketiga anak mereka.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan di pintu, Nyonya Rindi pun segera sadar dari lamunannya.
"Masuk.." Ucap Nyonya Rindi.
Nampak seorang pria paruh baya menghampiri Nyonya Rindi.
"Ada apa?" Tanya Nyonya Rindi.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Nyonya.." Jawab pria tua itu.
"Siapa?" Tanya Nyonya Rindi.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya, kemudian Nyonya Rindi pun langsung menyuruh bawahannya untuk mempersilahkan orang itu masuk.
Nampak seorang pria yang berumur 21 tahun masuk ke ruangan Nyonya Rindi.
Nyonya Rindi menatap intens pria muda di hadapannya itu.
"Senang bertemu dengan anda Nyonya Rindi atau saya harus panggil Ibu..."