Gigolo Ku Seorang Mafia

Gigolo Ku Seorang Mafia
Bab 63 : Apa kalian saling mencintai?


Nyonya Rindi menatap heran dua orang di depannya itu.


"Apa kalian saling mencintai?" Tanya Nyonya Rindi kepada Clarissa dan juga Brian.


Clarissa dan Brian pun hanya bisa diam, Clarissa tak tahu apakah dia mencintai Brian atau tidak.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa menjadi bisu seperti ini?" Tanya Nyonya Rindi.


Brian dan Clarissa sama-sama ingin memiliki, ingin tetap bersama selamanya, dan ingin menjaga satu sama lain. Tapi mereka masih bingung apakah hal itu di namakan Cinta.


"Baiklah, lupakan tentang Cinta. Apa kalian tak pernah memikirkan kepentingan anak-anak hasil hubungan kalian itu? Mereka tak memiliki status di mata hukum." Ucap Nyonya Rindi.


"Aku pasti akan memberikan status untuk ketiga anak ku.." Jawab Brian.


"Kapan?" Tanya Nyonya Rindi.


"Setelah musuh-musuh ku hancur, saat itu juga aku akan mengumumkan kepada dunia jika mereka bertiga adalah anak ku." Jawab Brian.


Clarissa terdiam, ucapan Brian seakan-akan serius.


"Lalu bagaimana dengan Nona Clarissa? Apa setelah musuh mu hancur kau akan menikahi nya?" Tanya Nyonya Rindi.


"Tentu.." Jawab Brian dengan nada serius.


Clarissa hanya tersenyum hambar, karena dia yakin jika Brian sampai menikahi nya bukan karena mencintai dirinya tapi karena tanggung jawabnya kepada ketiga anak nya.


Nyonya Rindi pun terdiam, dia tak pernah melihat anaknya seserius itu saat mengatakan hal seperti ini.


"Baiklah, karena aku masih memiliki urusan kalian bisa keluar dari ruangan ini." Usir Nyonya Rindi.


Mendengar hal itu Clarissa langsung beranjak dari tempat duduknya begitu juga dengan Brian.


Setelah keluar dari ruangan, Clarissa hanya diam. Mungkin ini saat nya untuk menjaga jarak dengan Brian, Brian memang ayah dari anak-anak nya tapi Brian bukanlah kekasih nya.


"Ada apa dengan mu?" Tanya Brian yang melihat Clarissa hanya diam tak seperti biasanya.


"Tidak ada." Jawab Clarissa.


Kemudian Clarissa langsung berjalan mendahului Brian menuju tempat anak-anak nya berada.


Setelah di antar oleh seorang pelayan, Clarissa langsung berjalan menghampiri anak-anak nya yang tengah bermain dengan banyak mainan.


"Mommy, ada apa?" Tanya Jesselyn saat melihat raut wajah Mommy.


"Mommy gak papa kok." Jawab Clarissa.


"Jangan bilang jika Daddy yang menyakiti Mommy Clarissa.." Ucap Jerry.


"Enggak, Daddy mana mungkin berani menyakiti Mommy." Jawab Brian.


"Ayo kita pulang.." Ajak Clarissa.


"Apa Mommy marah karena Jesselyn pergi tanpa bilang?" Tanya Jesselyn.


Kemudian Clarissa membelai wajah putri nya itu. "Mommy gak marah kok, Mommy cuman khawatir jika kalian kenapa-kenapa." Jawab Clarissa lembut.


"Tapi Mommy, Jesselyn masih ingin liburan di Bali." Pinta Jesselyn.


"Baiklah, lagi pula Mommy belum sempat mengajak kalian pergi liburan." Jawab Clarissa.


Kemudian Clarissa langsung mengajak ketiga anak nya untuk pulang ke penginapan, selama di perjalanan Clarissa hanya dia mematung tanpa berbicara sepatah kata pun.


Brian yang melihat hal itu merasa heran mungkin dia harus berbicara berdua dengan Clarissa.


Sesampainya di penginapan, Clarissa langsung berjalan menuju salah satu kamar yang dia pilih untuk menjadi kamar tidurnya.


Ketiga anaknya merasa heran dan juga khawatir dengan keadaan Mommy nya yang seperti itu.


Di dalam kamar...


Clarissa tengah berbaring sambil memeluk guling miliknya, butiran air mata mulai keluar dari tempatnya.


Entah kenapa hati Clarissa terasa sakit, tapi jika harus di pikir lagi untuk apa Clarissa sakit hati jika Brian tak mencintai nya.


Bukankah hubungan mereka hanya sebatas hubungan saling memenuhi kebutuhan masing-masing.


"Apa yang kau lakukan Clarissa, kenapa kau harus menangis.." Maki Clarissa kepada dirinya sendiri.


Tapi bukannya berhenti menangis Clarissa malah semakin menangis dengan kencang.


Kemudian Clarissa melihat ke luar jendela, rupanya di luar tengah hujan deras.


"Bahkan langit pun ikut menangis melihat ku menangis.." Ucap Clarissa sambil terus melihat air hujan.


Clarissa juga menginginkan kisah cinta yang indah seperti orang lain, Clarissa juga menginginkan seorang pria yang mencintai nya apa ada nya, melindungi dan menyayanginya dengan tulis.


Clarissa juga menginginkan itu.


Tapi takdir berkata lain, mungkin ini belum waktunya Clarissa mendapat semua itu.


Kemudian tiba-tiba pintu terbuka.


Nampak Brian berada di belakang Clarissa, Clarissa pun langsung memandang Brian dengan mata yang masih menyisakan butiran-butiran air mata.


Kini mereka saling memandang satu sama dengan untuk waktu yang cukup lama.