
Terdengar suara tangisan menggema di ruang tamu, para pelayan bingung bagaimana menghibur Jesselyn.
"Mommy.... Hiks, hiks, hiks..." Jesselyn terus saja menangis karena Clarissa belum pulang selama 2 hari.
"Nona muda, tenang saja. Karena pasti Nyonya akan segera pulang.." Ucap seorang pelayan berusaha menenangkan Jesselyn.
Bukannya tenang tangisan Jesselyn malah semakin kencang, kedua kakaknya hanya melihat tanpa ingin membantu meredakan tangisan adik nya itu.
Para pelayan berusaha untuk menghubungi ponsel Clarissa tapi ponselnya tak aktif, dan di kantor pun semua karyawan mengatakan jika Clarissa di bawa ke rumah sakit tapi setelah di cari di banyak rumah sakit terdekat mereka tak menemukan pasien bernama Clarissa.
"Mommy... Jesselyn ingin ke Mommy..." Ucap Jesselyn sambil terus menangis.
"Sudah lah Jesselyn, tangisan mu itu membuat telinga ku sakit." Ucap Jeremy memarahi ibunya.
"Benar apa yang di ucapkan Kakak, kau lihat mata mu sudah sebesar bola karena terus saja menangis." Sambung Jerry.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Kakak jahat.. Kalian tidak sayang sama Mommy..." Ucap Jesselyn sambil terus menangis.
"Lagi pula Mommy sudah besar, siapa yang ingin menculik Mommy." Ucap Jeremy.
"Hiks.. Hiks.. Hiks... Monmmy... Kakak Jerry dan Jeremy jahat..... Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Jerry dan Jeremy hanya bisa menutup kedua telinganya karena suara tangisan Jesselyn yang sangat kencang.
"Nona muda, kami akan melakukan pencarian terhadap Nyonya.. Saya mohon anda menghentikan tangisan anda." Ucap Kelapa pelayan.
"Tapi.. Jesselyn takut Mommy kenapa-kenapa." Ucap Jesselyn.
"Tenang saja Nona muda, saya yakin Nyonya pasti akan baik-baik saja karena dia adalah wanita yang kuat dan tangguh." Ucap Kepala pelayan menenangkan Jesselyn.
"Iya dengar apa kata Kakek kepala pelayan, percuma kau tangisi Mommy. Tangisan mu itu tak akan ada artinya.." Ucap Jeremy.
Jesselyn yang mendengar ucapan tajam kakak pertama nya itu pun langsung berlari dan memeluk salah satu pelayan wanita.
"Kak pelayan... Kak Jeremy jahat.." Adu Jesselyn.
Pelayan itu pun hanya tersenyum. "Nona muda, bagaimana jika sambil menunggu Nyonya besar pulang. Kita pergi ke mall untuk berbelanja." Usul pelayan tersebut.
"Belanja?" Tanya Jesselyn dengan mata yang berbinar-binar.
Jeremy dan Jerry hanya menatap malas ke arah adiknya itu, jika sudah mendengar kata belanja pasti Jesselyn akan lupa akan segalanya.
"Iya Nona muda..." Jawab Pelayan itu.
"Ayo.. Ayo.. Ayo.. Kita belanja sekarang. Jesselyn ingin belanja mainan yang banyak.. Tapi..."
"Apa Mommy akan marah jika Jesselyn belanja?" Tanya Jesselyn dengan wajah polos nya.
"Pasti tidak akan marah.. Lagi pula Nyonya memiliki banyak uang.." Jawab pelayan itu.
"Mommy memiliki banyak uang? Tapi kenapa Mommy tidak pernah mengatakan jika dirinya memiliki banyak uang?" Tanya Jesselyn.
Pelayan itu hanya tersenyum bingung. "Bagaimana Kalau sekarang kita belanja nya sekarang?" Ajak pelayan itu.
"Ayo.." Jawab Jesselyn senang.
"Tuan muda apa kalian juga akan ikut?" Tanya Kepala pelayan.
"Tidak.." Jawab mereka serempak.
Sementara itu...
Clarissa tengah tertidur pula setelah melakukan aktivitas yang sangat melelahkan bersama dengan Brian.
Sementara Brian hanya duduk sambil menghirup rokok miliknya, sekarang Brian sangat puas.
Mata Brian melihat ke arah pakaian Clarissa yang berserakan, pakaian nya sudah tak layak pakai.
Kemudian Brian langsung bersiap-siap untuk pergi ke Mall membeli kan pakaian untuk Clarissa.
Meski dirinya bisa memerintahkan bawahannya untuk membeli pakaian baru untuk Clarissa, tapi Brian ingin membeli pakaian Clarissa secara langsung.
Setelah selesai bersiap Brian langsung keluar dari kamar dan mengunci kamar itu dari luar, tak lupa dia juga menyimpan makanan dan minuman untuk Clarissa.
Sesampainya di Mall, Brian langsung di kawal oleh beberapa pengawal yang bersiap di setiap juru Mall karena mereka takut terjadi penyerangan dadakan terhadap Brian.
Dan tak lupa di saku jas Brian pun terdapat sebuah pistol untuk berjaga-jaga.
Jesselyn yang berada di Mall tak henti-hentinya membeli banyak mainan yang dia suka, dan juga tak lupa kelakuan nya yang selalu menyebut siapa pun sebagai Daddy.
"Daddy..." Panggil Jesselyn kepada penjaga toko mainan.
Pelayan Clarissa pun langsung menarik Jesselyn dan meminta maaf atas ulah Jesselyn. Tak hanya satu atau dua orang yang Jesselyn sebut Daddy.
Setiap bertemu pria tampan Jesselyn akan menyebut nya sebagai Daddy.
Dan pelayan yang menemani Jesselyn hanya bisa menahan malu sambil terus meminta maaf.