
Kelompok mereka kembali melalui jalan memutar agar tidak langsung memberi tahu di mana letak markas sebenarnya. Walaupun lebih lambat, tapi ini lebih baik untuk menghilangkan jejak dari zombie berlevel tinggi.
Fan Chen, Akademisi Song, Song Meiya dan Hu Ming terlihat gugup setelah melihat Zombie tingkat Kelima. Tapi untuk yang lain, mereka biasa-biasa saja, seolah emosi mereka benar-benar mati.
Fan Chen sudah tidak heran dengan mereka yang tidak memiliki emosi, bagaimanapun dalam perang, emosi tidak bisa diharapkan. Jika emosi terganggu, hanya kehancuran yang akan didapat.
"Kita sudah pergi sejauh sepuluh kilometer ke timur laut, dan kita sudah menjauh dari Mingyue Defense. Sekarang, kita bisa kembali."
Fu Shen mendengar perintah, dia memutar setir kemudi dan berbalik menuju Mingyue Defense melalui jalur yang sudah dipilih oleh Fan Chen.
Cougar HE melaju dengan kecepatan penuh dan akan selalu melepaskan tembakan granat berpeluncur roket dari waktu ke waktu untuk membuka jalan lebih cepat, entah untuk menghancurkan bebatuan yang menghalangi, pohon tumbang maupun zombie.
Song Meiya memeluk tubuhnya sendiri yang gemetaran. Itu adalah pengalaman buruk ketika melihat bentuk asli dari zombie yang bersembunyi di dalam reruntuhan.
Fan Chen mengatur napasnya untuk tetap tenang. Sebagai seorang pemimpin, tidak baik jika dia ikut gugup di saat-saat seperti ini.
"Kapten, kita sudah jauh dari target. Pusat Komando telah mengirim pesan singkat yang tidak terlalu menggunakan banyak sinyal, mereka mengatakan kalau zombie tetap tinggal di tempat."
Fan Chen menghela napasnya dan memakai Kacamata Pintar. Ada pesan titik-titik yang harus diuraikan terlebih dahulu sebelum memahami apa isi pesannya.
"Kita benar-benar kekurangan tenaga." Fan Chen memijat tulang hidung di antara kedua matanya. "Shift prajurit akan berubah mulai hari ini. Biasanya sehari hanya berjaga-jaga selama delapan jam, mungkin sekarang enam belas jam belum termasuk latihan normal. Selain berjaga seperti biasa, aku ingin kalian bergabung dalam unit pabrik untuk mempercepat rencana pembangunan Fusi Nuklir Berat Terkendali. Apakah ada yang keberatan?"
"""Siap! Tidak keberatan!"""
"Fusi Nuklir Berat Terkendali?!" Jelas, Akademisi Song terkejut dengan ini.
Fan Chen tahu alasan keterkejutan Akademisi Song, bagaimanapun China tertinggal 30 tahun dalam hal teknologi dari Negara Barat. Tapi mau bagaimana lagi, China pernah mengalami masalah kelaparan, di mana memiliki jumlah penduduk terbanyak pada masa itu, dan kualitas ketahanan pangan sangat rendah, hasil panen tidak mencukupi.
Yuan Longping, berhasil mengembangkan padi hibrida yang bisa meningkatkan hasil panen sebesar 20%. Jika ketahanan pangan tidak bisa diatasi, mungkin sampai sekarang China masih tertinggal dalam hal teknologi.
Pada saat itu, pemerintah dihadapkan pada dua pilihan: memilih masyarakat, atau teknologi. Tapi akhirnya, pemerintah menyerah dalam teknologi, dan akhirnya semua dana diarahkan pada pertanian untuk meningkatkan kualitas pangan.
"Bahkan meski kita tertinggal dalam teknologi, tapi ingat, kita pernah memimpin teknologi." Fan Chen menghela napas, dan kembali berkata, "Kemudian, meski kita tertinggal, kita tidak kekurangan bakat. Huawei, mampu mengembangkan jaringan 5G, dan akhirnya diberi sanksi karena teknologinya terlalu maju, mereka memberi sanksi agar kita tetap tertinggal ..."
"Tapi kesampingkan tentang sanksi dari luar, kita memiliki masalah lain. Meski pemerintah selalu mendukung anak muda yang ingin membuka usaha dalam bidang teknologi, tapi ada kendala lain, yaitu koneksi dan status. Ambil contoh, mahasiswa pascasarjana di laboratorium berhasil membuat penemuan, tapi temuan apa pun akan diakui oleh dosen pembimbing, yang mana ini mengubur potensi mahasiswa ini, dan akhirnya, banyak mahasiswa berbakat pergi ke negara lain. Bukan hanya karena lingkungan yang lebih baik, tapi karena gaji yang lebih besar."
Akademisi Song terdiam dengan mulut terbuka dan tidak bisa berkata apa-apa. Karena dia sendiri pernah mengalami hal yang serupa saat masih menjadi mahasiswa, dia menemukan gen dari salah satu binatang, dia melalukan regulasi ekspresi gen dan mengembangkan gen yang mampu menahan tumor agar tidak berkembang dan menggerogoti tumor itu sampai benar-benar menghilang.
Tapi hasilnya, tesis yang dibuatnya dan data-data laboratorium diakui oleh dosen, dan pembimbingnya yang tidak pernah hadir terkenal karena mengirim laporan itu ke majalah ilmiah.
Akademisi Song tiba-tiba mengerutkan keningnya saat mengetahui sesuatu. "Jadi, maksudnya, di tempatmu ada bakat yang mengetahui tentang Fusi Nuklir Berat Terkendali? Ini bukan hanya teori, tapi teknologi yang benar-benar matang dan hanya perlu membangunnya?"
Fan Chen mengangguk dan menjawab, "Tapi meski memiliki teknologi matang, bukan berarti tidak ada kesalahan."
"Ya ..." Akademisi Song mengangguk setuju. "Harus melakukan beberapa tes, dan ini berbahaya karena yang dites kali ini adalah nuklir."
"Kapten, kita hampir sampai."
Song Meiya mendongak, dia menoleh ke belakang melihat melalui jendela kecil. Lingkungan yang dilihatnya tidak jauh berbeda, tapi dia merasa tempat ini hanya ada sedikit bahaya.
"Bersiap-siap, setelah masuk, turunkan aku gerbang. Setelah itu kalian kembali ke barak sementara untuk beristirahat." Fan Chen tahu kalau sudah ada yang menunggunya di gerbang, karena itu dia meminta untuk turun daripada ikut pergi ke pusat.
Tidak lama kemudian, Cougar HE sudah sampai di depan gerbang.
Gerbang terbuka dengan lancar tanpa menimbulkan suara derak logam.
Cougar HE masuk, kemudian gerbang tertutup kembali.
Fan Chen turun dari mobil, dia langsung disambut oleh Yun Mingyue, Fan Xiaoyu dan Katerina.
"Kakak!" Fan Xiaoyu datang memeluk Fan Chen. Air matanya mengalir dan tubuhnya gemetar.
Fan Chen terdiam, lalu tersenyum dan membalas pelukan Fan Xiaoyu. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
Akademisi Song dan Song Meiya turun dari mobil.
Yun Mingyue mengerutkan keningnya. "Paman Song? Aku benar-benar tidak menyangka kita akan bertemu lagi." Ia melangkah, tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Akademisi Song tersenyum, dia mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Yun Mingyue. "Nak Mingyue masih terlihat muda, masih sama seperti dua puluh tahun lalu."
Fan Xiaoyu melepaskan diri dari pelukan Fan Chen, dia memiringkan kepalanya, menatap Song Meiya yang berdiri di kanan belakang Akademisi Song. Dia menghampirinya, lalu membungkuk. "Anda pasti dokter yang Kakak bilang. Terima kasih karena telah menyelamatkan Kakak."
"Ah!" Song Meiya tersentak ketika tiba-tiba ada yang membungkuk di depannya. "Ti- Tidak, ak- aku tidak banyak membantu."
Fan Chen tersenyum tipis, lalu tiba-tiba dia merasa ada yang menarik tubuhnya. Dia melihat Katerina yang menariknya, melepaskan rompi anti peluru dan semua atasannya.
Katerina berdiri di depan Fan Chen, memakai sarung tangan steril, menyentuh luka kering untuk memeriksa kondisi luka. "Lukanya tertutup dengan baik, dan meski menggunakan Cairan Penyembuh, ini semua tidak dapat dicapai apabila jahitannya tidak rapi. Pembuluh darah disambung dengan sempurna, tidak ada masalah dengan tulang, dan aliran darah tetap mengalir seperti tidak pernah ada luka di sini. Semuanya baik-baik saja." Ia mengangguk berkali-kali sambil melepas sarung tangan medis.
Song Meiya mendengar ini, dia meminta maaf pada Fan Xiaoyu, lalu datang menghampiri Katerina. "Maaf mengganggu dan tiba-tiba, tapi bisakah aku belajar di bawah bimbingan dr. Katerina? Aku ingin mempelajari salep yang bisa menghilangkan bekas luka."
Katerina terdiam sambil melihat Song Meiya dari atas ke bawah, lalu saat dia melihat ke arah dada, dia menghela napas. "Tentu, kau bisa datang besok ke rumah sakit. Hanya ada aku di sana, di sana ada laboratorium tersendiri."
Song Meiya mengepalkan tangannya dan memaksakan diri untuk tetap tersenyum saat melihat Katerina yang menatap ke arah dadanya. "Terima kasih."
Yun Mingyue yang sudah berbicara singkat dengan Akademisi Song, mendatangi Fan Chen. "Apakah ada yang ingin Chen'er katakan?"
"Ya ..." Fan Chen menganggukkan kepalanya dan berkata, "Ada banyak, termasuk Jenderal Fan. Informasi ini aku dapatkan dari Akademisi Song yang datang dari Kota Kekaisaran. Jadi, aku rasa kita tidak perlu terlalu berhubungan dengan Kota Kekaisaran, setidaknya tidak sampai Jenderal Fan jatuh."
Yun Mingyue terdiam, lalu menganggukkan kepalanya. Dia mengulurkan tangannya menepuk pundak Fan Chen. "Ibu ingin memelukmu, tapi ini di depan umum, Ibu takut kalau Chen'er malu karena dilihat banyak orang."
Fan Chen tersenyum, dia membuka tangannya dan mengambil inisiatif untuk memeluk ibunya. "Untuk apa malu? Meski aku sudah dewasa, bukankah Ibu selalu mengatakan kalau aku adalah bayi kecil Ibu?"
Yun Mingyue tertawa kecil. "Ya, bayi kecil Ibu."
"Ngomong-ngomong, ada yang ingin Ibu bicarakan. Ini tentang luka di pundakmu." Yun Mingyue mencubit pinggang Fan Chen.
Fan Chen merintih, keringat dingin membasahi dahinya. Dia tahu setelah ini, dia mungkin tidak bisa keluar dengan bebas, dan ... mungkin dia harus menyiapkan telinganya, karena sebentar lagi, dia harus menerima ceramah, mungkin akan berlangsung selama berjam-jam.
...
***
*Bersambung...