Apocalypse: Stronghold System

Apocalypse: Stronghold System
Chapter 043 : Fan Chen Terluka


Fan Chen tidak berhenti melangkah saat menembak, dan ini sangat berbahaya karena tembakan datang dari mana-mana. Kemudian dia berguling untuk menghindari tembakan yang datang, tapi belum sampai di sana, granat tangan meledak di belakangnya, membuatnya terlempar ke depan.


Fan Chen berdiri, terengah-engah. Dia melihat sekitar, tempat ini penuh kekacauan di mana mayat berserakan, tapi untungnya tidak ada yang terbunuh di kelompoknya.


Walaupun hanya Prajurit Dasar, mereka semua tetaplah elit.


"Ack!" Fan Chen mundur selangkah saat terkena tembakan peluru yang mengenai bahu kirinya.


"Aaahhh!" Fan Chen mengangkat senjata dengan satu tangan, melepaskan tembakan secara membabi buta.


Kemudian dia berlari dengan tertatih-tatih menuju vila, dia ingin mengeluarkan peluru yang masuk ke dalam bahu kirinya. Itu terasa panas dan menyakitkan, dia harus cepat-cepat mengambil tindakan, tapi dia tahu, tidak ada dokter yang dibawanya di dalam tim.


"Lindungi Kapten!" Fu Shen berteriak saat mengikuti Fan Chen sambil membunuh musuh-musuh yang tertutup oleh asap tebal.


Fu Shen melangkah maju melewati Fan Chen, mengangkat tangannya untuk menangkap serangan musuh menggunakan pipa besi. Setelah menangkap tangan musuh, dia menembak paha lawan, lalu menendang kepalanya menggunakan paha.


"Bagi tim menjadi dua. Cougar HE No. 03 tunggu di luar, sisanya masuk bersama!"


"Kapten!" Fu Shen membantu Fan Chen berjalan dengan merangkulnya. Saat sampai di depan pintu, dia menendang sekuat tenaga, membuat pintu terlempar.


Fan Chen terengah-engah, tidak hanya merasakan sakit di bahu, tapi juga punggungnya yang sangat menyakitkan saat terkena ledakan granat. Paha kanannya tidak bisa dibilang baik, saat terlempar tadi, pahanya membentur batu runcing, dan ada bagian yang tertinggal di dalamnya.


Fan Chen mengangkat tangan kirinya dengan gemetar. "Atas ... bawa aku ke atas, bawa aku ke tempat ... mereka."


Fu Shen mengangguk, dia memerintahkan yang lain untuk berdiri di depan dan belakang, melindungi Fan Chen yang berada di tengah-tengah.


Fan Chen menggertakkan giginya. Dia tidak berharap akan seperti ini, sampai terluka meski dia memiliki keuntungan karena Kacamata Pintar. Dari sini, dia menyadari, bahkan meski memiliki Keterampilan Pasif: Penembak Jitu, tapi jika tidak memiliki pengalaman murni, itu semua sia-sia.


Setelah kembali nanti, dia akan berlatih sungguh-sungguh di bawah bimbingan Yun Mingyue.


"Apakah ... kalian menyisakan beberapa dari mereka yang hidup?"


"Ya ..." Fu Shen mengangguk dan berkata, "Sesuai dengan perintah Kapten, kami menyisakan dua orang yang hidup. Tidak ada korban di pihak kami, tapi Prajurit Dasar terkena tembakan di beberapa tempat, tapi tidak sampai membuat nyawa terancam."


Fan Chen menganggukkan kepalanya, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia terus menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya, dia mengatur napas untuk menahan rasa sakit.


Sampai di lantai tiga, Fu Shen meminta yang lain untuk membuka pintu, tapi harus berhati-hati.


Pintu terbuka, lalu moncong pistol langsung diarahkan ke kepala prajurit yang berdiri di depan. Namun prajurit tidak takut, langsung mengarahkan senjata api ke arah Akademisi Song.


Prajurit lain mengambil tindakan yang sama, mengangkat senjata dan bersiap-siap untuk menembak.


"Kau adalah pengawalnya, turunkan, atau kalian semua mati." Fu Shen mengangkat pistol ke arah pria paruh baya.


Pria paruh baya gemetar, bukan karena takut, tapi karena ketidakberdayaan.


"Hu Ming, turunkan, aku merasa mereka bukan dari Kelompok Elang Hitam."


Hu Ming terdiam, tangannya masih terangkat, tapi kemudian dia menghela napas dan menjatuhkan senjatanya.


Fu Shen memerintahkan bawahan untuk menyimpan senjata, lalu membawa Fan Chen menuju Akademisi Song dengan hati-hati, takut membuat Fan Chen lebih terluka.


Fan Chen mengangkat tangan kanannya, melepaskan Kacamata Pintar. "Apakah kau Akademisi Song? Professor Ekologi? Professor yang meneliti DNA dari Binatang Mutan untuk ... membuat Cairan Evolusi untuk Yang Terbangun?"


Hu Ming tertegun dengan mata melebar.


Akademisi Song menahan Hu Ming agar tidak bertindak gegabah dengan lambaian tangannya. Dia menatap Fan Chen, lalu mengangguk. "Ya, tapi Cairan Evolusi selalu gagal, efek samping terlalu besar. Yang terkecil adalah berubahnya anggota tubuh, dan yang terparah adalah kematian."


Fan Chen terkejut, tapi dia menahannya, tidak memperlihatkan keterkejutannya.


Fu Shen menyentuh telinga, dia berkomunikasi dengan orang di luar untuk mengambil peralatan di dalam kabin.


Peralatan ini sengaja ditinggal Fan Chen di setiap Cougar HE untuk keadaan darurat di mana Fan Chen tidak bisa mengeluarkan barang-barang di depan umum, atau saat dia sedang di tempat lain dan anggota tertentu terluka.


Akademisi Song menatap Fan Chen, mengerutkan keningnya. "Apakah kita pernah bertemu?"


"Tidak." Fan Chen menggelengkan kepalanya. "Tapi mungkin Anda pernah bertemu dengan ibuku, dan mungkin ibuku memperlihatkan fotoku. Tapi, siapa yang tahu."


Akademisi Song mengerutkan keningnya lebih dalam. Dia selalu berada di Beijing, jarang sekali bertemu dengan orang lain, bahkan dia tidak tahu tentang kematian putra dan menantunya. "Siapa ibumu?"


"Yun Mingyue." Fan Chen tidak takut untuk mengatakan ini. Jika memang ada masalah, tahan saja mereka, tapi dia merasa itu tidak perlu, karena dia tahu, Akademisi Song memiliki musuh yang sama, Keluarga Fan.


Mendengar itu, Akademisi Song tertegun. Dia tahu Yun Mingyue, orang penting di militer, bahkan saat sudah pensiun, namanya masih dihormati. Namun, hanya sedikit orang yang tahu identitas asli Yun Mingyue.


Akademisi Song membuka mulutnya hendak berbicara, tapi terdengar suara dari pintu.


"Kapten! Saya sudah membawanya."


Prajurit berjalan ke samping Fan Chen, meletakkannya di lantai, lalu melangkah mundur setelah memberi hormat.


Fu Shen membantu Fan Chen duduk di lantai dengan bersandar pada tepian tempat tidur. Lalu dia membuka koper, memperlihatkan peralatan medis yang terbilang lengkap untuk operasi sederhana, kemudian dia menatap Song Meiya yang bersembunyi di belakang Akademisi Song. "Kau, lakukan operasi. Keluarkan peluru di bahu Kapten dan batu di pahanya."


Song Meiya gemetar ketakutan ketika melihat semua prajurit dengan perlengkapan yang lengkap. Tapi saat dia menatap kakeknya, kakeknya tersenyum meyakinkan.


Song Meiya menarik napas dalam-dalam, mengangguk dan mengambil tindakan. Dia memakai sarung tangan medis, mengambil alkohol, jarum suntik dan lainnya. "Tolong lepaskan pakaiannya."


Fan Chen melepaskan pakaiannya dengan lambat, dan merobek celananya yang sudah basah karena darah.


Song Meiya melihat tubuh Fan Chen yang berotot, lalu mengerutkan keningnya saat melihat luka lebam yang samar-samar di bagian samping rusuk. Tapi dia tidak memikirkan itu, ada luka yang lebih penting.


Song Meiya menyuntikkan anestesi di dekat luka tembak.


Fan Chen menggertakkan giginya karena rasa sakit yang menyiksa.


Setelah anestesi berhasil diberikan, Song Meiya menjahit pembuluh darah, kemudian mengambil gunting kecil untuk memperlebar luka dan hati-hati agar tidak mengenai pembuluh darah. Cukup sulit untuk mengambil peluru karena berada di antara tulang.


Ketika peluru sudah diambil, Song Meiya memasang selang untuk mengeluarkan darah, membersihkan kotoran dengan alkohol dan menjahitnya. Dia juga memberikan vaksin tetanus agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Karena operasi yang menyulitkan sudah selesai, Song Meiya menyelesaikan pembersihan luka di bagian paha dengan setengah waktu lebih cepat.


Song Meiya menghela napas setelah menyelesaikan operasi. Tapi dia kembali menatap luka lebam di samping rusuk Fan Chen. "Bisakah kau berbalik? Sepertinya punggungmu terluka cukup parah."


Fan Chen berbalik, memperlihatkan punggungnya yang merah karena lebam dan sedikit berair karena panas akibat ledakan granat. "Ambil botol kecil di sana, oleskan salep di punggungku. Itu bisa menghilangkan luka semacam ini dengan cepat."


Mendengar itu, Akademisi Song penasaran. Dia mengamati Song Meiya yang membuka botol, lalu mengoleskan salep di punggung Fan Chen.


Akademisi Song mengamatinya, lalu membuka matanya lebar-lebar saat melihat perubahan di punggung Fan Chen. Luka lebam yang sangat parah, terlihat memudar dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Bengkak yang berair terlihat mengempis, lalu warna kulitnya kembali normal.


Fan Chen melihat pundaknya yang dibalut perban, lalu tersenyum. Dia beruntung, bukan hanya karena peluru berhasil dikeluarkan, tapi juga menemukan dokter bedah. Dengan belajar di bawah bimbingan Katerina, harusnya bisa menjadi lebih baik dan bisa dibawa ke medan perang.


...


***


*Bersambung...