
Jika memang ada peradaban lain di Lengan Orion selain di Tata Surya, Fan Chen tidak tahu alasan mengapa mereka menyerang Bumi. Tapi jika ingin menebak dengan berani, dia akan berspekulasi bahwa alasan mengapa Era Kedua dihancurkan adalah untuk mengumpulkan budak atau bahkan sumber makanan, atau manusia dijadikan sebagai sumber energi dengan cara mengurungnya di dalam tempat gelap yang tertutup, kedap suara di dalam benda seperti tong.
Adapun bagaimana cara mendapatkan energi, mungkin dengan memanfaatkan ketakutan, kemarahan, putus asa, benci dan lainnya dari emosi manusia. Mengubah semua emosi menjadi energi dengan cara menggunakan alat khusus.
Apakah mungkin? Tidak ada yang tahu, dan jangan berpikiran secara logika dalam teknologi di luar Tata Surya.
Fan Chen menghela napas, dia keluar dari Ruang Pemantauan Luar Angkasa dan menuju Rumah Sakit untuk menemui Katerina. Dia sendiri tidak tahu mengapa, tapi sekarang, setiap kali dia merasa tidak nyaman, dia akan selalu datang ke tempat Katerina.
Tapi saat dia tiba di Rumah Sakit Bawah Tanah, dia melihat sudah ada Fan Xiaoyu yang berdiri di sana, bahkan Yun Mingyue juga ada.
Fan Chen tertegun untuk beberapa saat, barulah dia melangkah dan memeluk Yun Mingyue. "Ibu, aku lelah, peluk aku."
Yun Mingyue yang duduk di sofa, menunduk mengusap kepala Fan Chen yang membenamkan wajah di perutnya. "Ada masalah apa? Ceritakan pada Ibu."
Fan Chen menggosokkan wajahnya di perut Yun Mingyue. "Nanti saja, saat ini aku ingin Ibu mengusap kepalaku."
Yun Mingyue tersenyum hangat, dia sangat senang saat putranya masih manja seperti dulu. Setiap hari, biasanya dia yang meminta pelukan untuk mengisi kekosongan karena kehilangan Fan Hongwu, tapi sekarang, dia yang menenangkan Fan Chen.
Fan Xiaoyu duduk di samping Yun Mingyue, dia mengusap kepala kakaknya dengan lembut dan berkata, "Malam ini, mau Yu'er temani Kakak tidur? Yu'er bisa memeluk Kakak, sama seperti saat Kakak mimpi buruk dulu."
Fan Chen mendongak, dia merenung, lalu mengangguk. "Baik, tidur bersama Kakak malam ini."
Dia kembali memeluk pinggang Yun Mingyue seraya kepala dan punggungnya yang diusap, dia menikmatinya, hingga tanpa sadar tertidur.
Melihat kakaknya tertidur, Fan Xiaoyu menatap ibunya. "Sepertinya tadi ada pertemuan penting, dan karena pertemuan ini Kakak jadi seperti ini. Apa Ibu tidak penasaran? Haruskah Yu'er datang dan menanyakannya pada mereka di ruang pertemuan?"
Yun Mingyue menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak perlu, tunggu kakakmu bangun. Seburuk apa pun berita yang diterima, kita harus menerimanya, dan jangan tanya ke lain, kita tunggu saja dia bangun."
Fan Xiaoyu mengangguk, lalu dia mendongak melihat Katerina yang duduk di seberang, menyesap teh dengan perlahan. "Apa kau tahu apa yang dibicarakan di ruang pertemuan?"
Katerina mendongak, menggelengkan kepalanya. "Meski saya adalah sekretaris Kapten, tapi pertemuan hari ini hanya Ilmuwan Xu Chen dan ilmuwan lain yang meneliti tentang luar angkasa dan kedirgantaraan, saya tidak memiliki akses untuk ikut serta dalam pertemuan. Bahkan informasi di sana dibatasi."
"Tapi ..." Katerina menengadah melihat langit-langit ruangan. "Mungkin pertemuan ini membahas tentang Bulan Merah."
"Bulan Merah ..." Yun Mingyue bergumam, meski dia tidak baik ke permukaan, dia mendengar kabar mengenai Bulan di langit berubah warna menjadi merah. "Sepertinya, masa-masa damai akan segera berakhir."
"Damai?" Fan Xiaoyu menoleh dengan kepala dimiringkan. "Tidak ada kedamaian setelah Bencana Pertama, beberapa hari terakhir, binatang mutan dan zombie lebih aktif."
Yun Mingyue mencubit pipi putrinya dan berkata, "Itu hanya kata-kata kiasan, jika dibandingkan beberapa hari ke depan, masa sekarang dan masa lalu masih bisa dianggap masa damai."
Fan Xiaoyu mengangguk, memahaminya. Jika dipikir secara demikian, memang masa-masa sekarang adalah masa damai, tapi tidak untuk beberapa saat ke depan. Tapi dia percaya, dia percaya bahwa akan ada masa di mana tidak ada lagi monster di seluruh muka bumi.
...***...
—NASA, Negara Elang Botak—
Banyak ilmuwan yang berkumpul memandangi komputer di depan meja masing-masing untuk melihat parameter dan sesekali memandangi monitor lebar di dinding luas di depan mereka.
"Apa yang bisa kita dapatkan dari pemantauan ini?"
Pria tua berambut putih, mengenakan kemeja putih yang nampak rapi, dan walaupun dia sudah tua, tapi kulitnya terlihat masih segar, hanya sedikit kerutan di dahi.
Dia adalah Nelson, Ketua NASA yang baru menjabat dari satu tahun sebelum Bencana Pertama.
Ilmuwan Astrologi yang duduk bersebelahan, melepas mantel yang dikenakan. "Saat kita mengarahkannya ke Bumi, ada beberapa titik buram di berbagai tempat, aku menduga titik buram ini adalah serangkaian satelit buatan untuk menghubungkan seluruh dunia melalui jaringan internet. Adapun pengaruh Bulan Merah, tidak terlalu berpengaruh terhadap manusia, dan militer yang berjaga di sekitar sudah mendapatkan jawabannya. Sinar bulan ini berpengaruh terhadap binatang mutan dan zombie, mereka lebih agresif."
"Teleskop Antariksa ini juga tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan, selain gambar buram yang ditemukan, ada kalanya teleskop ini tidak dapat bergerak dan tetap diam di tempatnya. Tapi kita mendapatkan pemberitahuan, akses yang kita miliki tidak cukup." Ilmuwan Astronomi kembali berkata.
Nelson terdiam beberapa saat, dia melihat monitor besar di depannya. "Apa kita bisa melacak negara mana yang memiliki kendali atas Teleskop Antariksa?"
Pemuda yang duduk di samping Nelson, mengetuk jarinya di atas keyboard dengan cepat, dia sudah melakukannya lebih dari setengah jam dan sampai saat ini belum membuahkan hasil. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak menemukan server mereka, server mereka sangat tersembunyi."
Nelson melipat kedua tangannya di depan dada, merenung sejenak, memikirkan negara mana yang memiliki kekuatan untuk meluncurkan roket. Tiba-tiba, dia memikirkan Negara Xia, tapi dia tertawa dan menggelengkan kepalanya. Negara Elang Botak saja masih kesulitan untuk menerbangkan roket setelah Bencana Pertama, apalagi Negara Xia yang tertinggal dalam hal teknologi.
Jika sebelum Bencana Pertama, itu mungkin, tapi setelah Bencana Pertama, atmosfer terus berubah setiap waktu dan sulit ditebak, apalagi binatang mutan yang sering menyerang.
"Terus kerahkan tenaga, pastikan mencari negara mana yang berhasil meluncurkan satelit lebih dulu dari kita ..." Nelson berbicara, tiba-tiba terdengar suara alarm peringatan dan lampu merah di ruangan berkedip-kedip.
[Peringatan! Peringatan! Peringatan!]
[Mendeteksi penyerangan bertubi-tubi, mengaktifkan mode pertahanan diri!]
[Berhasil menemukan alamat IP...]
[Berhasil mengunci semua komputer...]
[Memulai mode penghancuran diri...]
[10 ... 9 ... 8 ... 7 ...]
Nelson terdiam untuk beberapa saat, dia terlambat bereaksi, dan saat dia sadar, dia berteriak, "Putuskan semua jaringan!"
"Tidak bisa! Akses semua komputer diambil alih!"
Nelson menggertakkan giginya dan berteriak, "Matikan komputer secara paksa!"
"Tombol power sudah ditekan tapi tidak beraksi!"
Nelson tertegun, dia membuka mulutnya, tapi tiba-tiba semua komputer mengeluarkan percikan api karena kelebihan beban kerja, bahkan Superkomputer yang disimpan tidak dapat menanggungnya.
Duarr! Duarr! Duarr!
Ledakan demi ledakan terdengar saat satu per satu komputer terbakar, semua perangkat keras di sini adalah yang terbaik, tapi tidak dapat menahan beban kerja yang terlalu berat. Beban kerja yang biasanya harus menggunakan 300 Komputer Kuantum, tiba-tiba menggunakan Superkomputer untuk menghitungnya, tentu saja kelebihan beban.
Nelson berbalik melarikan diri dari ruangan yang dipenuhi oleh api dan asap. Ketika dia tiga di luar, tubuhnya gemetar dengan emosi yang bercampur: ada kemarahan, gelisah, takut, dan menyesal.
Dia marah karena semua data entah di komputer maupun server telah dihancurkan. Gelisah dan takut karena semua ini adalah tanggung jawabnya, dan tentunya dia akan mendapatkan hukuman berat dari Presiden. Dia menyesal karena memberi perintah di mana dia menginginkan akses penuh dan mengambil alih Teleskop Antariksa, sehingga dia meminta bawahannya untuk menembus sistem pertahankan.
Nelson mundur beberapa langkah, bersandar di dinding dan tubuhnya merosot, terduduk di lantai dengan mata kosong.
...
***
*Bersambung...