Apocalypse: Stronghold System

Apocalypse: Stronghold System
Chapter 121 : Menyerang Kota Kekaisaran (2)


—Kota Kekaisaran Bagian Timur—


Kelompok yang dipimpin oleh Yu Fengsan mendapat masalah untuk menyusup dan menguasai pangkalan militer yang dijaga ketat, ditambah dengan pagar besi seperti jaring yang tebal namun tidak ada tempat untuk bersembunyi.


Yu Fengsan melihat Jia Fefei dan He Peiyu. "Apa kalian sudah pernah membunuh? Di dalam ada ribuan tentara, pertempuran akan pecah, dan kita diharuskan untuk membunuh."


Jia Fefei mengangguk kecil dan berkata, "Aku sudah membunuh zombie, tapi belum untuk manusia. Lalu membunuh tentara, mereka adalah orang yang melindungi negara, untuk membunuh pahlawan negara, itu sedikit sulit. Tapi aku akan berusaha."


He Peiyu tidak bisa tidak setuju dengan pernyataan Jia Fefei, tapi dia harus membunuh untuk menyelesaikan misi, apalagi tentara yang memberontak tidak pantas dianggap sebagai pahlawan, mereka adalah orang yang lebih buruk dari monster.


Yu Fengsan hendak menekankan tentang pemberontakan musuh, tapi tiba-tiba terdengar suara alarm yang kencang. Dia memberi perintah untuk terus mundur masuk ke semak-semak, mengamati apa yang sebenarnya terjadi.


Yu Fengsan mengusap dagunya, memikirkan tentang tindakan tentara di markas. "Kapten pernah bilang kalau Tim Alpha sangat gila, sepertinya mereka membuat kekacauan di tengah kota, seperti menembak tentara, mungkin."


Dia memberi perintah dengan gerakan tangan seraya mundur, masuk lebih dalam ke semak-semak untuk menghindari paparan lampu sorot.


Dia bergegas pergi ke area utara untuk menuju ke tempat yang lebih sepi, dan di sana ada bangunan yang berdekatan dengan pagar. Bangunan ini dapat digunakan sebagai penghalang bagi mereka untuk diam-diam masuk dan menguasai markas.


Tidak butuh lama untuk sampai, mereka tiba di depan bangunan yang terhalang oleh pagar jaring. Bangunan ini terlihat sepi dan ada ventilasi udara di atas kaca, dan melihat dari struktur bangunan, tempat ini adalah toilet umum.


"Xu Lumin."


Xu Lumin mengangguk, dia memegang besi hitam yang biasanya digunakan untuk memotong besi yang mana mengeluarkan api (hasil pembakaran gas dan oksigen), tapi tongkat ini menggunakan sistem plasma dan dayanya diambil dari Arc Reactor.


Xu Lumin menyalakan pemotong plasma; api berwarna biru keputihan muncul dan mulai memanaskan kawat tebal.


Yang lain mengelilingi Xu Lumin seraya mengarahkan senjata ke segala arah, bersiap-siap apabila ada serangan yang datang.


Xu Lumin mematikan pemotongan plasma, lalu mendorong pagar kawat itu perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara. "Sudah."


Yu Fengsan maju lebih dulu, dia tidak menggunakan DX-5 Ravager, melainkan AK-47 yang mana bukan senjata utamanya. Dia berjalan di samping dinding toilet umum, bergerak perlahan agar tidak menimbulkan suara.


"Cepat! Cepat! Kita harus bergegas, ada pembunuh di area selatan!" Salah seorang tentara keluar dari toilet.


Yang lain mengikuti dan menggerutu, "Sial! Bagaimana bisa ada pembunuhan di Kota Kekaisaran?! Penjagaan kita 24 jam, Yang Terbangun juga turut andil dalam menjaga keamanan!"


"Aku tidak tahu, tapi sudah ada empat truk yang terbalik, dan dua pengemudi terbunuh dengan kepala meledak!"


"Sial!— Keuk!"


Yang bergegas lebih awal menoleh ke belakang saat mendengar rekannya yang tersedak kesakitan. Alangkah terkejutnya dia saat melihat temannya yang berjuang saat tubuhnya terangkat dan kakinya menendang-nendang di udara.


"Kalian—" Dia belum sempat berteriak, tiba-tiba merasakan sakit di lehernya. Dia memegang lehernya dengan susah payah, merasakan darah hangat yang mengalir.


Buk...


Tentara itu jatuh ke tanah dengan darah yang mengalir membasahi.


Jia Fefei terengah-engah secara harfiah, dia berlutut di tanah dengan kepala tertunduk. Jika dia berada di tubuh asli, dia sudah pasti mual dan muntah-muntah saat melihat mayat di depannya, apalagi dia yang membunuhnya.


Yu Fengsan menjatuhkan tentara yang sudah tidak lagi berjuang, tentara itu mati kehabisan napas dan matanya masih terbelalak. Dia menepuk pundak Jia Fefei. "Kau harus terbiasa, di masa depan, mungkin kau harus membunuh lebih banyak manusia. Ingat, meski Mingyue Defense terus berkembang setiap waktu dan kuat, tapi pastinya akan ada masalah apabila ada yang mengetahui tentang Mingyue Defense dan ingin mengambil semua di dalamnya ..."


"Jika benar-benar ada orang bodoh yang mengobarkan perang, dan kau tidak berani bertindak, satu-satunya keluargamu akan berada dalam bahaya." Yu Fengsan kembali berdiri, dia memberi tanda untuk membersihkan mayat.


Jia Fefei mencengkeram tangannya, menggenggam sebongkah tanah. Ya! Dia benar! Semakin kuat, maka semakin banyak musuh! Jika ada kejadian yang sama seperti Yu Shin, Wu Xuan, Shi Gongzi dan Mao Xhuangong, dan perang pecah di Mingyue Defense, mungkin aku akan mengalami kematian yang sama jika aku ragu-ragu.


Jia Fefei berdiri, dia memegang M4 Carbine dengan tegas tanpa ada getaran gugup seperti sebelumnya. "Aku mengerti, Kapten."


Yu Fengsan tersenyum, dia melambaikan tangannya dan menyebarkan semua anggota menjadi empat regu.


Misi regu ini untuk menyelinap masuk ke kantor administrasi untuk mencari bukti pemberontakan Jenderal Fan, sehingga apabila ada kekacauan di Kota Kekaisaran, bukti ini dapat diperlihatkan. Walaupun ini dapat mendapat dua reaksi berbeda: tidak percaya lagi pada militer dan tidak memiliki rasa aman, ataupun mendukung militer untuk memimpin Kota Kekaisaran, apalagi dari keluarga pihak tentara.


...***...


—Kota Kekaisaran Bagian Tenggara—


Area ini bisa dianggap sangat berbeda dari bagian barat, selatan maupun timur. Tempat ini tidak memiliki banyak bangunan yang berdekatan, setidaknya 500 meter dari area padat penduduk, ada lahan kosong yang sengaja di biarkan. Lahan ini memiliki luas 100 ha, dan di tengah-tengahnya ada mansion yang dikelilingi oleh tembok setinggi delapan meter dengan luas 25 ha.


Area ini adalah tempat di mana Keluarga Fan yang asli berkuasa, dan karena Jenderal Fan, tidak ada yang berani membangun rumah di sekitar area ini.


Bahkan untuk mendekati area ini, setelah keluar dari area padat penduduk, ada banyak personel tentara yang berjaga dan memeriksa identitas setiap orang yang ingin melangkah masuk.


Tapi, pada saat ini, ada 12 orang yang mengenakan seragam kamuflase berwarna hitam sedang bergabung dengan kegelapan malam.


Orang-orang ini adalah tim yang dipimpin oleh Yang Menghu untuk mengamankan Keluarga Fan, ini adalah misi yang sulit karena baku tembak tidak dapat dihindarkan.


Yang Menghu bersembunyi di menara pengamatan, di belakangnya ada tentara berseragam hijau yang sudah dibunuhnya.


"Kalian bersiap-siap, setelah aku membunuh semua tentara yang berada di pos, aku ingin kalian bergegas."


"""Siap, Laksanakan!"""


Yang Menghu mengangkat DX-5 Ravager, dia melakukan perhitungan singkat sebelum menarik pelatuk.


Proyektil peluru melesat membelah udara dingin di malam hari, udara terdistorsi saat tekanan yang kuat menyebar dan menguapkan kepingan salju di sekitarnya.


Zraash!


Peluru menembus helm tentara dan menghancurkan setengah kepalanya.


Semua orang yang berjaga-jaga di pos, terdiam beberapa saat ketika melihat teman bicara mereka sudah terbunuh.


"Sera—"


Bang!


Tembakan lain datang, membunuh tentara yang berteriak, barulah suara gelegar seperti petir yang menyambar itu terdengar. Itu adalah suara tembakan pertama.


"Menara pengamat—"


Yang Menghu mengganti magazen setelah berhasil membersihkan tentara yang berjaga. "Pos sudah dibersihkan, kalian masuk. Aku akan menjaga kalian dari atas, bunuh semua tentara, jangan biarkan satu pun yang hidup. Untuk Keluarga Fan, lumpuhkan, dan tunggu perintah dari Jenderal Mingyue."


"""Ya!"""


Sebelas orang keluar dari gang kecil, mereka semua mengambil mobil yang digunakan untuk menghalangi jalan, dan membawanya.


Yang Menghu mengamati dari atas, dia melihat ada kendaraan tempur lapis baja yang datang dari arah utara. "Sepertinya musuh sempat memberi informasi, tapi banyak atau tidaknya, tidak ada perbedaan."


Yang Menghu meletakkan DX-5 Ravager di samping kiri, lalu mengambil Sniper Separatist yang bersandar di dinding samping kanannya. "Kekasihku, mari kita beri tahu mereka betapa kuatnya dirimu."


...


***


*Bersambung...