Apocalypse: Stronghold System

Apocalypse: Stronghold System
Chapter 113 : Memasuki Laboratorium


Fan Chen melangkah dengan pasti seraya melepaskan tembakan yang langsung membunuh musuh di depannya, dia juga menghindar setiap serangan dengan bantuan Otak Kuantum yang dapat menghitung jalur tembakan sehingga dapat menghindar tepat waktu.


Dia melihat semakin banyak orang yang datang, dan tahu ini tidak akan berakhir sebelum membunuh orang-orang ini. Tanpa membuang banyak waktu, dia melompat melewati pembatas tangga dan langsung terjun bebas.


Saat dia turun, dia mengganti senjatanya dengan M134 dan melepaskan tembakan bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada musuh untuk membalas serangan.


Bam!


Dia berhasil mendarat dengan mulus setelah turun dari ketinggian 100 meter tanpa mengalami sedikit pun luka.


Da da da! Da da da!


Baru saja Fan Chen datang, dia sudah disambut dengan berondongan peluru yang tak terhitung jumlahnya. Dia segera berguling untuk menghindari tembakan, lalu bersandar di balik dinding. Untuk area tangga sendiri sudah berhasil diamankan, tapi bagian lorong di belakangnya, masih dijaga ketat oleh personel militer.


Ya! Fan Chen menduga mereka semua berasal dari militer, dia sendiri sudah tidak asing tentang suatu negara yang mengembangkan proyek tertentu. Bahkan ada salah satu negara adidaya yang membentuk tentara bayaran liar, mendukung tentara ini dengan bantuan modal: entah itu uang ataupun persenjataan.


Tentara bayaran ini akan menyusup ke perbatasan negara untuk menjalankan misi, dan bahkan saat tentara bayaran tertangkap, negara akan berpaling, mengatakan bahwa tentara bayaran ini tidak ada sangkut pautnya dengan mereka apabila tentara bayaran membuka mulut.


Fan Chen kembali mengganti senjatanya dengan Glock Meyer 22 dan pisau standar militer. Dia mengulurkan kepalanya, tiba-tiba terdengar suara logam saat proyektil peluru mengenai dahinya, membuatnya sedikit terkejut.


Asap sedikit mengepul di dahi Fan Chen saat bagian kulit silikon berlubang dan sedikit terbakar.


"Hahahaha! Mati!"


Fan Chen berguling lagi dan mendarat dengan berlutut satu kaki, dia mengangkat pistolnya lalu melepaskan tembakan.


Melihat ini, 18 tentara yang menjaga terdiam tanpa bisa berkata-kata. Bahkan meski mereka sudah dilatih dan bisa dianggap elit, tapi melihat pemandangan di depan mereka, mereka tidak bisa tidak panik. Yang Terbangun? Mereka tahu itu, tapi sampai saat ini, tidak ada Yang Terbangun yang dapat menahan tembakan peluru.


Fan Chen melemparkan pisau militer ke salah satu orang tepat di dahinya, dan menembak yang berdiri di sisi lain. Kemudian dia berlari, membawa pistol di kedua tangannya.


Ketika sudah sampai di depan dua orang yang baru dibunuhnya dan melihat ada yang bersiap menembak, dia menginjak kakinya sekuat tenaga di lantai dan melompat tinggi melewati beberapa barisan dengan posisi kepala di bawah.


Dia berputar di udara seraya melepaskan tembakan bertubi-tubi, dan ketika dia mendarat, dia menyempatkan diri untuk bergaya sebelum melepaskan tembakan ke belakang melalui celah antara tangan dan pinggangnya.


"Aku sangat hebat, tapi jika memakai tubuh manusia, mana mungkin aku berani melakukan ini meski memiliki seribu nyawa."


Fan Chen berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya dan kembali melangkah sampai menemukan ada pertigaan di depannya. Dia mengambil langkah, lalu kembali mundur.


Bang!


Dentuman terdengar beberapa detik setelah Fan Chen mengambil langkah mundur, dia tahu ada yang berjaga-jaga di samping kanannya membawa sniper.


Fan Chen mundur beberapa langkah, mengeluarkan DX-5 Ravager Laser dan mengarahkannya ke dinding di depannya. Dinding ini sendiri bukan terbuat dari tanah, tapi logam tipis, sehingga cocok saat menggunakan senjata laser.


Dia melihat penembak jitu itu sedang berjaga-jaga di depan ruangan tebal yang dia bahkan tidak dapat menembusnya, dia tidak tahu apa yang ada di sana, tapi pastinya tempat itu sangat penting.


Dia menarik pelatuknya, sinar putih melesat dari moncong senjata laser, menembus logam dengan mudahnya seperti menusuk tahu dengan jari.


Penembak jitu yang berjaga sendiri tidak tahu apa-apa, bahkan setelah jatuh di lantai, dia tidak mengerti bagaimana dia mati.


"Xiaochu, apa kau bisa mendengarku?"


“Xiaochu bisa mendengarnya, Master.”


Fan Chen mengangguk kecil saat melangkah ke tempat di mana penembak jitu berjaga-jaga. Dia melihat pintu logam di depannya yang menutupi seluruh lorong dengan lebar tiga meter dan tinggi lima meter. Untuk ketebalan, dia menduga dua atau tiga meter, dan ada gelombang elektromagnetik yang mengganggunya, gelombang ini tidak mengganggu dalam komunikasi, tapi dalam penglihatan, seolah ada garis-garis tipis yang menghalangi apa yang ada di depannya.


"Apa kau tahu apa yang ada di dalam?" Fan Chen menyentuh dinding di depannya.


“Master, di dalamnya adalah laboratorium di mana peneliti gila ini menangkap dan mengurung manusia untuk mengembangkan Kecerdasan Buatan. Saat ini, mereka terburu-buru untuk keluar dari tempat ini, tapi Xiaochu sudah mengurung mereka di sana. Yang tahu tentang internet, hanya peneliti di dalam, orang-orang di luar tidak mengetahuinya sama sekali.”


“Tempat ini dibuat khusus untuk memblokir suara di luar, para peneliti tidak ingin ada yang menganggu mereka, karena itulah ada banyak lapisan isolasi suara di dalam pintu di depan Master.”


Fan Chen terdiam, dia tidak tahu apa peneliti ini pintar atau bodoh sampai menambahkan fungsi semacam ini. Bahkan mereka sampai terkunci di dalam dan tidak ada jalan keluar sama sekali.


"Buka pintu ini untukku."


“Baik, Master.”


...***...


—5 Menit yang Lalu, Laboratorium Kecerdasan Buatan—


Ada beberapa peniliti yang sedang memandangi komputer di atas meja, mata mereka merah karena kekurangan waktu tidur, dan saat ini sedang berusaha keras untuk memulihkan sistem dengan bantuan Ilmuwan Komputer.


"Sial! Apa kalian tidak bisa melakukannya?!" Salah seorang di belakang berteriak, dia adalah pria paruh baya yang mengenakan seragam kamuflase, banyak mendali yang berada di saku dada kirinya, dan ada pangkat tiga bintang di pundaknya.


Dia benar-benar marah, dua jam lalu, tiba-tiba komputer terhubung dengan jaringan internet. Awalnya dia menduga bahwa negara berhasil memulihkan internet dengan meluncurkan roket ke Orbit Rendah Bumi, tapi saat itu, bawahannya mengatakan bahwa peluncuran roket ditunda sampai musim dingin berakhir.


Pada saat itu, dia tahu ada yang salah, kemudian tiba-tiba kinerja semua komputer meningkat pesat.


Ilmuwan Komputer mengatakan bahwa semua data telah diambil, dan pada saat mereka ingin melacaknya, tiba-tiba jaringan terputus.


Yang lebih parah, objek penelitian mereka berhasil memberi sinyal ke seluruh dunia.


Abraham mengepalkan tangannya, dia memandangi wanita yang berada di dalam pod tabung kaca dengan cairan nutrisi berwarna hijau.


Wanita itu tidak mengenakan pakaian apa pun, tangan, kaki dan pinggangnya diikat oleh sabuk yang kuat. Kepalanya tertutup oleh helm yang terhubung dengan belasan label. Tubuhnya yang putih sempurna, mendapat banyak luka lebam, memar, maupun goresan.


Semua siksaan telah dialami hanya untuk merangsang gelombang otak.


Percobaan ini sudah dikerjakan dari awal Bencana Pertama, dan sampai saat ini, sudah menewaskan 386 objek percobaan dari seluruh dunia yang ada di Ohio.


Semua objek tewas karena otaknya mati setelah beberapa siksaan dan sengatan listrik bertegangan tinggi dari helm, dan helm tidak sempat menangkap sinyal otak.


Sampai mereka mengambil orang-orang dari Negara China, mereka menemukan bahwa orang-orang dari negara ini memiliki ketahanan tertentu. Gen yang dibawa juga sangat menarik, seolah lebih unggul daripada orang-orang di negara lain. Tapi saat memikirkan negara dengan sejarah 5.000 tahun, mau tidak mau, mereka harus mengakuinya.


Adapun siapa wanita yang ada di dalam pod tabung kaca sekarang ini, dia adalah putri dari salah satu pengusaha kaya di Negara China yang berlibur bersama teman-temannya di Negara Elang Botak.


"Pemimpin, kami tidak bisa membukanya, semua akses kami di ..."


Abraham sangat marah ketika mendengar ilmuwan yang berbicara setengah-setengah. "Di apa?!"


Ilmuwan itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah belakang Abraham.


Abraham mengikuti arah yang ditunjuk, tiba-tiba membelalakkan matanya saat melihat pintu tebal yang terangkat.


Saat pintu logam itu menghilang di langit-langit ruangan, Abraham melihat ada pemuda yang berdiri di sana, mengarahkan senjata padanya.


"Halo kalian orang-orang Elang Botak."


Bang!


...


***


*Bersambung...