Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 8. Taman yang indah


Mella bangkit kemudian mengulurkan tangannya hendak memberikan bantuan kepada Chika, namun Chika menolaknya dengan memalingkan wajahnya.


Chika berdiri tanpa memperdulikan Mella dihadapannya. Ia sangat membenci Mella karena Mella selalu beruntung dibandingkan dirinya.


Padahal saat ini seharusnya Mella sangat terpuruk sehingga hal itu bisa ia gunakan untuk membalaskan sakit hatinya selama ini. namun lagi-lagi keberuntungan selalu berpihak kepada Mella.


Chika berlalu meninggalkan Mella dengan perasaan yang semakin kacau, marah jelas saja ia semakin marah, malu ? tentu saja ia sebenarnya sangat malu dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Sementara Mella melanjutkan langkahnya pulang kembali ke rumah barunya. Setelah sampai dirumah, Mella segera membersihkan diri dan segera menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Di Atas sajadah ia menangis, mengadukan semua yang ia alami. Ia menumpahkan kerinduannya kepada seluruh keluarganya yang telah pergi lebih dahulu meninggalkan dirinya seorang diri.


Setelah puas mengadu kepada sang pencipta, Mella melangkah ke dapur dan menikmati makan siangnya dengan Jin sang masih setia menemaninya.


"Nona, apakah kau baik-baik saja ?." tanya Jun dengan khawatir.


Ia melihat wajah Mella dengan mata yang sembab, masih terlihat sisa-sisa air mata yang entah berapa banyak Mella tumpahkan.


"Aku baik Jun, aku hanya rindu kepada ayah, ibu dan juga kakakku. Aku hanya mengadukan nasib yang aku alami." jawab Mella dengan jujur.


"Nona kau jangan bersedih seperti itu, yakinlah semua ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan untuk Nona."


"Percayalah bahwa Tuhan adalah penulis takdir yang terbaik. Jalan cerita setiap hambanya akan tertulis dengan sebaik-baiknya." ucap Jin mencoba menguatkan Mella.


"Kau benar Jun." jawab Mella dengan kembali meneteskan air matanya.


Dengan lembut, Jun mengusap air mata yang menetes disudut mata Mella.


'Mengapa hatiku terasa sangat sakit dan perih, melihat gadis ini menangis ?.' batin Jun.


"Nona, jangan bersedih aku akan selalu ada untukmu." ucap Jin dengan tulus.


"Terimakasih Jin, seandainya aku tidak bertemu dengan mu, entah apa yang akan aku alami. Dimana pun aku berada, aku selalu menjadi bahan hinaan."


"Padahal ayahku tidak bersalah, bahkan disini kami adalah korban kejahatan. Kami bukan pelaku kejahatan seperti yang diberitakan itu." ucap Mella.


"Nona, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah bahwa kebenaran akan menampakkan dirinya. Saat itu tiba, semua orang akan mengetahui bahwa Nona tidak bersalah seperti yang selama ini mereka tuduhkan." ucap Jun.


Mella tersenyum menatap wajah Jun. Ia merasa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan jin sebaik Jun.


Entah apa yang terjadi hari ini, seandainya tidak ada Jun pasti ia menjadi bulan-bulanan Chika dan kawan-kawannya.


Dengan bantuan dari Jun, semua hal yang Chika lakukan untuk mencelakai Mella, berbalik arah dan menimpa dirinya.


"Nona mengapa kau melihat ku seperti itu ? apakah kau baru menyadari bahwa aku sangat tampan ?." tanya Jun dengan sangat percaya diri.


"Kau memang yang terbaik Jun." jawab Mella jujur.


Jun menjadi salah tingkah mendengar ucapan Mella yang singkat itu. Bahkan hatinya berbunga-bunga mendengar kejujuran Mella.


'Apa yang terjadi ? mengapa hatiku jadi seperti ini hanya karena ucapan Mella.' batin Jun.


Keduanya saling diam membisu dengan pikiran mereka masing-masing. Keduanya larut dengan pikiran dimana sebenarnya saling terkait.


'Seandainya Jun adalah manusia, alangkah bahagianya hidupku ini. Dia tampan dan sangat baik.' batin Mella.


"Aku belum tau Jun. Aku masih sangat kehilangan, aku seperti dalam sebuah persimpangan jalan, sehingga aku bingung harus menempuh jalan yang mana." jawab Mella.


"Bagaimana jika hari ini kita jalan-jalan ke suatu tempat yang pasti belum pernah nona lihat." ucap Jun memberi saran.


"Pergi jalan-jalan ?" tanya Mella sambil berfikir tentang ide yang diberikan oleh Jun.


"Ya kita jalan-jalan melepaskan kepenatan pikiran yang kita agar lebih rileks." sambung Jun.


"Ide yang bagus ! kalau begitu aku akan segera bersiap-siap dan membereskan semua ini dulu." jawab Mella dengan penuh semangat.


Jun tersenyum saat melihat sebuah senyuman terukir di wajah cantik Mella. Gadis yatim piatu yang telah menolongnya tanpa sengaja itu.


Seandainya mereka berasal dari alam yang sama, pasti semua akan menjadi jauh lebih baik. Karena mereka tidak terbatas oleh dunia yang berbeda.


'Mengapa pikiran ini terlintas di benakku ? Aku jadi gila sejak bertemu dengan Mella.' batin Jun.


Tak lama kemudian, Mella telah muncul kembali dihadapan Jun. Dengan penampilan yang sederhana namun tidak mengurangi kecantikan Mella yang terkesan begitu alami.


Jun menatap wajah gadis yang selalu bersamanya beberapa hari ini dan seorang gadis yang selalu membuat hatinya berdebar-debar.


"Aku sudah siap, let's go." ucap Mella dengan penuh semangat.


Jun berdiri dan keduanya berjalan beriringan, setelah sampai di teras Mella berhenti dan menatap kearah Jun.


"Kita akan jalan-jalan menyusuri jalanan ?." tanya Mella.


"Mengapa nona bertanya seperti itu ?." tanya Jun.


"Ya kita tidak mempunyai sebuah kendaraan apapun. Lalu bagaimana dengan rencana kita untuk jalan-jalan dan kemana tujuan kita ?." jawab Mella.


"Kalau masalah itu nona jangan khawatir, dalam sekejap mata aku bisa membawa nona kemanapun nona inginkan tanpa membutuhkan kendaraan seperti yang nona maksud." jawab Jun.


"Kalau begitu, tunggu apalagi. Bawalah aku kesebuah tempat yang sangat indah dengan penuh kebahagiaan." jawab Mella.


Langsung saja, Jun membawa Mella kesebuah taman yang sangat indah. Taman yang berada di dalam dunia jin. Sebuah taman dengan segala keindahannya layaknya dalam dunia fantasi dalam negri dongeng.


Mella membelalakkan matanya melihat pemandangan yang sangat luar biasa itu. Ini adalah pertama kalinya Mella melihat sebuah tempat yang sangat indah itu.


Keduanya berlari-lari kecil dan saling kejar-kejaran. Mereka menikmatinya dengan penuh kebahagiaan. Membuat Mella melupakan sejenak derita dan nestapanya.


Ia tinggalkan semua duka itu untuk sementara. Kini keduanya layaknya sepasang kekasih. Berlari-lari kecil dan saling bergandengan tangan.


Bahkan Jun memberikan sekuntum bunga mawar putih untuk Mella, bunga yang indah dan sangat wangi.


'Sebenarnya aku ingin memberi mu bunga mawar merah itu, tapi aku tidak mempunyai keberanian yang cukup' batin Jun.


"Jun, tempatnya ini sungguh luar biasa, aku sangat menyukai tempat ini." ucap Mella sambil duduk di sebuah ayunan.


"Apakah kau menyukainya ?." tanya Jun sambil mulai mengayun dengan pelan agar tidak membuat Mella ketakutan.


"Jun, taman ini berada di mana ? aku sama sekali belum pernah melihatnya." tanya Mella sambil mendongak kearah Jun yang berada di belakangnya.


"Taman ini ada di hatiku. Ea !." jawab Jun sambil tersenyum menatap Mella.