Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 51. Gladi resik


Hari ini Mella pergi ke kampus untuk gladi resik wisudanya. Ia tampak kurang bersemangat, pasalnya Hani gagal dalam ujian skripsinya. Mella merasa ia kurang maksimal dalam membantu Hani.


Seandainya saja ia lebih maksimal mungkin saat ini Hani bisa mengikuti Gladi resik bersamanya. Dan yang paling membuatnya sedih hingga saat ini Jun belum ada kabar sama sekali. Apakah dia masih ada atau sudah tiada.


"Jun sebenarnya dimana kamu ? Seandainya aku tau permintaan terakhir ku akan memisahkan kita, maka aku tidak akan pernah mengucapkan permintaan terakhir ku."


"Jun, Lusa aku wisuda. Tapi jangankan kau hadir dalam acara wisuda ku tersebut, kabar darimu saja aku tak menerimanya."


"Dan taukah kau, bahkan Hani tidak bisa wisuda bersama ku. Dan yang paling menyedihkan ia harus pergi keluar kota untuk menghadiri acara di rumah ibu Della."


"Apakah aku memang ditakdirkan untuk sendiri ? Saat lahir aku sendiri, bahkan seluruh keluarga ku pergi meninggalkan aku seorang diri, kau pergi dan kini aku sendiri." monolog Mella.


Mella mengikuti setiap rangkaian acara dengan lesu, namun ia harus bisa fokus agar ia tidak merusak acara wisudanya, atau lebih tepatnya wisuda teman-temannya.


Setelah waktu istirahat Mella duduk dibawah pohon yang tak jauh dari musholla. Ia duduk seorang diri sambil membaca sebuah buku.


Sejak awal Mella memang hobi membaca, sayangnya waktunya sangat tidak mendukung jika ia harus membaca setiap hari.


Tanpa Mella sadari ada seseorang yang memperhatikan dirinya dari kejauhan. Ia adalah Hani dan juga ibu Della.


Mereka sengaja datang untuk memberikan support agar Mella bisa lebih fokus dan mereka berharap agar Mella.lebih tegar saat hari H wisudawan nanti.


"Mella bolehkah ibu duduk di sini ?." tanya ibu Della sambil tersenyum melihat Mella yang masih asik membaca.


"Eh ibu, silakan Bu ! maaf Mella tidak tau jika ibu Della kesini." ucap Mella dengan malu-malu.


"Tidak apa Mella, kami sengaja datang tanpa memberitahu mu sebelumnya." ucap Hani yang langsung duduk di samping Mella.


Hani dan Mella saling berpelukan, memberikan semangat untuk satu sama lainnya. Meskipun sebenarnya Hani sangat iri dengan Mella, anak yang seharusnya masih duduk di bangku SMA kini malah sudah bisa wisuda mendahului dirinya.


"Selamat ya Mella, sebentar lagi akan wisuda tapi maaf aku tidak bisa datang dihari bahagia mu nanti. Tapi aku berjanji saat kau melangsungkan akad nikah aku pasti akan datang." ucap Hani.


"Kau ini, memangnya kapan aku akan akad nikah ?" tanya Mella.


"Ya siapa yang tau nasib seseorang, jodoh itu rahasia Alla." jawab Hani.


"Iya iya, dan kau harus semangat dan aku doakan kau bisa mengikuti wisuda di tahun berikutnya." ucap Mella.


Keduanya kembali berpelukan. Meskipun belum lama mereka saling mengenal tetapi hubungan mereka sangat dekat.


Ibu Della menepuk pundak keduanya beliau jadi terharu dengan kedekatan mereka. Hani keponakannya selama ini selalu pemilih untuk soal teman, tetapi ia sangat dekat dengan Mella.


"Mella maafkan ibu ya, karena ibu tidak bisa datang dihari wisudanya mu nanti. Kebetulan dirumah ibu ada acara." ucap ibu Della.


"Iya Bu, ibu jangan sungkan Mella tidak masalah kok. Yang penting ibu doakan saja yang terbaik untuk Mella." jawab Mella.


Mereka kemudian melanjutkan perbincangannya di apartemen Mella. Sekaligus mereka mengadakan makan malam bersama sebagai ungkapan rasa syukur Mella atas kelulusannya.


Meskipun hanya bertiga tetapi mereka membuat makanan yang cukup banyak, Mella ingin sedikit berbagi kepada para petugas keamanan dan juga tetangganya.


Meskipun baru tinggal di situ, Mella dikenal banyak orang karena kebaikan dan juga kesopanannya. Mereka ikut berbahagia karena Mella bisa segera lulus lebih cepat daripada umumnya.


"Mella kami pamit ya, ingat jangan bersedih tetap tersenyum apapun yang terjadi." ucap Hani.


"Oke siap nona Hani." jawab Mella.


"Mella ibu pamit ya, jaga diri baik-baik." ucap Ibu Della.


"Iya Bu, terimakasih untuk semuanya. Dan berhati-hatilah dijalan." ucap Mella.


Hani dan ibu Della berganti memeluk Mella kemudian mereka pergi meninggalkan Mella. Sementara Mella kembali masuk dan merapikan rumah sebelum beristirahat.


Setelah selesai Mella merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Ia membuka beberapa media sosialnya dan juga membuka berita yang ada di internet.


Dalam berita itu ada sepasang suami istri yang meninggal dunia karena bunuh diri setelah Mella baca ternyata itu adalah orang tua Chika.


Mereka terjerat kasus korupsi kemudian mengakhiri hidupnya karena malu dengan kenyataan pahit yang mereka alami.


Mella jadi teringat, saat kepala sekolah diberikan sejumlah uang agar bersedia mengeluarkan Mella dari sekolah itu.


Tapi sebelum hal itu terjadi Mella lebih memilih pindah ke kota L ini. Melanjutkan sekolahnya yang bahkan ia bisa mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan.


"Kasihan Chika, pasti ia sangat terpukul dengan kejadian ini." ucap Mella.


"Tapi bagaimana dengan kabar Chika ? mengapa dalam berita ini tidak ada kabar tentang Chika ? Semoga saja Chika baik-baik saja."


"Seandainya masih ada Jun pasti aku bisa mengetahui kondisi Chika." ucap Mella.


Kejahatan yang orang tuanya lakukan pasti akan memberikan dampak kepada sang anak. Meskipun anak tidak ikut melakukan kejahatan itu.


Mella kembali teringat akan kondisinya, bahkan keluarganya tidak mau mengakuinya sebagai saudara dan bahkan tega menelantarkannya di jalanan.


Ia teringat bagaimana perlakuan para tetangga dan juga saudaranya setelah mengetahui apa yang dialami oleh sang ayah.


Apalagi saat mereka melihat sendiri hukuman mati yang diterima oleh sang ayah dan juga ibu serta sang kakak.


Mella ibarat seonggok kotoran yang harus mereka buang atau mereka hindari. Sungguh sangat miris pola pikir masyarakat disekitarnya.


Ia kembali teringat dengan Jun, selama ini Jun selalu membantunya dalam banyak hal termasuk selalu memberikan informasi apapun yang ingin Mella ketahui.


"Jun aku sangat merindukanmu. Datanglah Jun." ucap Mella lagi.


Seandainya ada Jun, pasti Mella akan memintanya untuk menemui Chika, ia tidak tega dengan kondisi Chika saat ini.


Pasti ia sangat sedih dan terpukul dengan kejadian yang menimpa orang tuanya. Bahkan Mella tidak tau bagaimana orang-orang yang dulu dekat dengan Chika.


Apakah mereka masih selalu menyayangi Chika atau sebaliknya. Mella kemudian mencoba mencari nomor yang bisa dihubungi untuk mengetahui kondisi Chika.


Namun tak ada nomor yang bisa ia hubungi, semua nomor yang ada di ponselnya adalah nomor baru. Sementara nomor yang lama sudah ia hapus, sebelum ia pergi meninggalkan kota itu.