Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 19. Rapat


Sementara di tempat Jendral Pranoto, kini sedang diadakan sebuah rapat kecil untuk menangani sidang berikutnya. Mereka harus bisa memenangkan kasusnya, apapun caranya.


"Jendral kita harus membeli saksi yang bersedia menjelaskan bahwa anda tidak bersalah tetapi memang pak Harun yang bersalah." usul sang pengacara.


"Aku berfikir demikian, tapi siapa orangnya ?." jawab sang Jendral.


"Keluarga bapak Harun sendiri dan juga teman dekatnya." jawab si pengacara itu dengan penuh keyakinan.


Jendral Pranoto terdiam sejenak, kemudian mengangguk sebagai tanda bahwa ia juga setuju dengan usul pengacara tersebut.


"Besok temui saudara pak Harun, beri ia imbalan yang besar agar mau bersaksi bahwa bom bunuh diri yang dilakukan oleh pak Harun, sudah direncakan sejak lama."


"Katakan juga kepada mereka, selama mereka mau bekerjasama maka keamanan mereka akan aku jamin, tepi jika sebaliknya tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan membereskan mereka." ucap Jendral Pranoto terhadap orang kepercayaannya.


"Kau tenang saja bos, serahkan tugas ini kepada kami." jawabnya dengan sombong.


"Bagus, lalu bagaimana perkembangan dan pergerakan dari gadis bau kencur itu ?." tanyanya lagi.


"Sejauh ini Mella tidak terlihat melakukan aktivitas diluar. Ia lebih banyak berada didalam rumahnya dan tidak terlihat seorangpun yang menemuinya."


"Sejak kejadian waktu itu, ia dijauhi oleh keluarganya dan juga teman-temannya. Dan Polisi yang bernama Della itu kini tengah sibuk mengurus masalahnya sendiri." jawab orang kepercayaannya Jendral Pranoto itu secara singkat.


Jika setiap saat Mella berada didalam rumahnya lalu dari mana ia mendapatkan begitu banyak bukti dan saksi ? siapa sebenarnya yang berada dibalik gadis itu ?.


Aku harus segera mengetahuinya sebelum semuanya terlambat. Orang yang membantu Mella pastilah bukan orang sembarangan. Buktinya ia bisa mengetahui banyak hal tentang diriku.


Atau sebenarnya ada salah satu musuhku yang berada dibalik gadis itu ? Jika begitu aku harus berhati-hati.


"Coba cari tau siapa orang yang berada dibalik gadis itu, aku curiga salah satu musuh ku yang membantunya."


"Entah itu teman seprofesi ku atau musuh Bisnisku. Yang pasti segera cari tau informasi itu secepatnya. Kerahkan orang-orang mu baik yang ada di dunia hitam atau sebaliknya." perintah Jendral Pranoto.


"Anda benar ! orang yang membantu gadis kecil itu pastilah orang yang selama ini menjadi rival anda." ucap pengacara.


"Hal itu terbukti, gadis itu bisa mengetahui segala hal yang anda lakukan. Bahkan ia mendapatkan video didalam ruang persidangan itu."


Pengacara itu terdiam sejenak sambil berfikir bagaimana bisa Mella mendapatkan rekaman seperti itu ? padahal mereka sedang berada di dalam ruang sidang.


Apakah ada orang yang memang menginginkan agar Jendral Pranoto lengser ? Tapi tidak ada satu orangpun yang rival-rivalnya ada atau menghadiri proses sidang saat itu." batin sang pengacara mencobanya menganalisis keadaan.


Sama halnya dengan yang dipikirkan oleh Jendral Pranoto. Ia juga sedang memikirkan setiap kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Ia mencoba mengingat setiap orang yang hadir dalam persidangan itu, namun semua yang hadir adalah pendukungnya. Atau ada yang menjadi musuh dalam selimut ?. Pikirannya mulai terbang kemana-mana mencoba menerka setiap kemungkinan.


"Atau jangan-jangan ada musuh dalam selimut yang berada di antara kita ?." ucap Jendral Pranoto dan pengacara tersebut secara bersamaan.


Membuat anak buah dan orang-orang kepercayaannya saling pandang satu sama lainnya. Mereka mencoba mencerna apa yang bos mereka ucapkan.


"Dan utus seorang wanita agar menjadi art dirumah gadis itu, agar kita bisa mendengarkan dan tau apa saja yang terjadi di rumah itu." usul si pengacara.


"Darimana ia bisa membayar seorang art ?" celetuk Jendral Pranoto.


"Kalau Maslah itu jangan kau pikirkan, gadis itu mempunyai sebuah mobil, sedangkan saat kedua orangtuanya masih hidup saja tidak mungkin mampu untuk membelinya." jawab si pengacara.


"Bos, bagaimana kalau kita kirim anak gelandangan ? gadis itu pasti merasa iba dengan nasib seorang anak yang tidak mempunyai siapapun dan apapun." usul orang kepercayaan Jendral Pranoto.


Sang Jendral lalu menjentikkan jarinya, terukir senyum diwajahnya. Mengapa hal sesederhana itu tidak terlintas dalam pikirannya.


"Besok kirim anak kerumah Mella. Pilih dari anak-anak yang sudah bekerja dengan kita dan ia dapat dipercaya."


"Dan untuk malam ini kita tutup rapat kita. Dan untuk mu pastikan barang kita sampai tujuan dengan aman. Aku tidak mau mendengar kegagalan sehingga aku rugi besar." Ucap Jendral Pranoto sambil menunjuk salah satu anak buahnya.


Setelah itu mereka semua bubar dan kembali ketempat masing-masing. Dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.


Dan ke keesokan harinya mereka menjalankan tugasnya masing-masing, seperti yang dibahas semalam.


Salah satu dari mereka mendatangi, sebuah tempat kumuh yang begitu banyak anak-anak gelandangan tinggal.


Segera pria itu memanggil rekannya dan menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke tempat itu.


Setelah berbincang-bincang sebentar, akhirnya ia segera kembali dengan seorang anak perempuan yang umurnya lebih kecil lima tahun dari Mella.


Kemudian pria itu segera membawanya dan menuju ke markas guna untuk melakukan sebuah pelatihan dan pengarahan, agar remaja beliau itu tidak melakukan kesalahan.


Setelah dianggap cukup, akhirnya mereka segera mengantarkannya menuju ke rumah Mella. Dan dari jarak yang tidak seberapa jauh anak itu diturunkan dari mobil dan disambut oleh pria botak yang sejak tadi menunggu mereka.


Gadis kecil itu berjalan menuju kerumah Mella. Dan ia melihat di teras rumah itu ada seorang anak kecil yang sedang meringkuk ketiduran.


Ya seorang anak gelandangan yang sama seperti dirinya tengah meringkuk di teras, yang ia yakin anak itu bukannya tidur karena mengantuk tetapi karena menahan lapar.


Sama seperti yang ia alami dulu, tapi kini setelah ia bergabung dengan Jendral Pranoto..Ia tidak lagi mengalami hal itu.


Ia bisa makan dengan kenyang dan tidur dengan nyaman asalkan mau menjalankan perintahnya. Gadis kecil itu mencoba membuka gerbang yang hanya terbuat dari bambu itu.


Sebenarnya bukan sebuah gerbang tapi sebuah pagar dari bambu. Namun seperti apapun usaha yang ia lakukan tak lantas membuatnya bisa membukanya apa lagi bisa masuk.


"Mengapa aku tidak bisa membuka pagar ini ? apa yang membuat pagar ini begitu susah untuk dibuka. " batin gadis itu.


Namun ia tetap berusaha untuk bisa membukanya. Namun meskipun segala cara telah ia gunakan namun tetap saja tidak membuahkan hasil.


Pagar bambu itu masih dengan kokoh melindungi rumah Mella, seolah-olah enggan untuk bergeser karena tidak ingin menimbulkan masalah yang baru untuk Mella.