Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 41. Ingin Pindah (2)


Akhirnya Mella mendapatkan surat pindah sekolah. Ia segera memasukkannya ke dalam tasnya dan berpamitan kepada kepala sekolah, Chika, Raisa dan juga teman-temannya yang lain.


Setelah itu Mella melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Ia ingin meninggalkan semuanya. Meninggalkan kenangan lama dan ingin membuat kenangan yang baru.


"Mella tunggu !." ucap Chika dan Raisa bersamaan.


Mella menghentikan langkahnya dan menutup kembali pintu mobilnya. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Chika dan juga Raisa yang selama ini selalu menzaliminya.


"Mella sebenarnya aku, aku tidak bermaksud buruk terhadap mu, aku aku hanya ...," ucap Chika terhenti.


"Chika yang lalu biarlah berlalu, mari kita mulai semua dari awal lagi. Dulu kita adalah orang asing yang tidak saling mengenal."


"Kemudian kita saling mengenal dan kita berada dalam kelas yang sama. Kini biarlah kembali seperti semula. Kita tidak akan pernah bertemu layaknya orang asing." ucap Mella.


Kemudian Mella memeluknya erat kemudian menepuk-nepuk pundak Chika dan juga Raisa secara bersamaan. Setelah itu ia segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan mereka yang masih bingung dengan semuanya.


Sebenarnya jauh di lubuk hati Chika dan Raisa tidak ada rasa benci dan dendam. Hanya saja rasa iri dan dengki yang selama ini membuat mereka selalu mencari gara-gara dengan Mella.


Tapi kini disaat Mella hendak pergi meninggalkan sekolah ini, mengapa mereka merasa sangat kehilangan. Bukankah ini yang selama ini mereka inginkan ?.


Entahlah hanya waktu yang bisa menjawabnya. Apakah sebenarnya mereka benci atau bahkan sebenarnya mereka begitu peduli dengan Mella selama ini.


"Sayang, apakah kau sudah memilih sekolah yang kau inginkan ?." tanya Jun.


"Belum, aku baru saja terpikirkan hal itu saat di makam ayah tadi. Tapi aku sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan kota ini dan pindah ke kota yang baru." jawab Mella.


"Jika kau sudah yakin, maka aku akan selalu mendukungmu. Mari kita buka lembaran yang baru kita lupakan semuanya dan mari kita simpan semuanya di sudut hati kita. Dan jadikanlah semua sebagai pelajaran yang paling berharga." jawab Jun.


Mella tersenyum, karena apa yang ia pikirkan ternyata sama seperti yang dipikirkan oleh Jun. Mella bersyukur karena Allah telah menghadirkan Jun dalam kehidupannya.


Setelah sampai di rumah, Mella melihat-lihat beberapa kota dengan segala kekurangan dan juga kelebihannya. Di zaman serba canggih ini, kita bisa mendapat informasi apapun dari internet.


Hanya dengan duduk di rumah kita bisa mengetahui semua informasi yang kita butuhkan. Setelah lama mencari, akhirnya Mella memilih kota L sebagai tujuannya.


"Jun bagaiman jika kita pindah ke kota L ?." tanya Mella.


"Kota manapun aku pasti akan mendukung mu. Jika kau telah memilih kota itu, maka kita cari sekolah yang tepat untuk mu dan juga rumah yang cocok pula." jawab Jun dengan tersenyum.


"Baiklah, mari bantu aku memilihnya." jawab Mella dengan tersenyum manja.


Dengan dipenuhi Senda dan gurau mereka memilih tempat tinggal dan juga sekolah untuk Mella. Setelah mereka menemukannya, Mella mencoba mendaftar di sekolah itu dengan cara online agar saat ia sudah berada di kota L ia bisa langsung melanjutkan pendidikannya.


Setelah semuanya beres, barulah Mella mencari sebuah rumah yang dijual secara online pula. Dalam pencarian tersebut Mella menemukan sebuah apartemen mewah di jalan Bahagia.


"Jun aku sangat menyukai apartemen dijalan bahagia ini, apakah kau juga menyukainya ?." tanya Mella.


"Jika kau suka maka aku juga suka, tapi biar aku pastikan dulu lingkungan sekitarnya apakah aman untuk gadisku yang cantik ini." jawab Jun sambil menggoda Mella.


Disaat keduanya sedang bercanda, tiba-tiba pintu rumah Mella diketuk oleh seseorang. Jun melihatnya kemudian ia memberitahu Mella.


"Diluar ada paman dan juga bibimu, tapi aku tidak tau apakah niat mereka datang kesini. Perisai rumah ini telah aku buang karena kita akan segera pindah." jelas Jun.


"Terimakasih Jun, aku akan menemanimu mereka. Apapun niat mereka kita tidak boleh berburuk sangka." jawab Mella dengan tulus.


"Ah, aku tidak kuat melihat senyuman mu yang begitu manis itu. Hingga membuat aku seperti telah meminum alkohol karena senyum mu begitu memabukkan." ucap dengan rayuan gombalnya.


Tentu saja ia mendapatkan cubitan dari Mella yang spontan mendarat di pinggangnya. Keduanya kemudian tertawa bersama.


"Sudah-sudah, cepat kau temui dulu paman dan bibimu. Aku ingin beristirahat dulu mengumpulkan tenaga agar bisa membalas mu nanti." ucap Jun disela-sela tertawanya.


"Dasar kau ya, awas aja aku akan membalasnya nanti." jawab Mella.


Setelah itu ia segera bangkit dan meninggalkan Jun. Ia sebenarnya tidak enak membiarkan paman dan bibinya menunggu lama.


Tapi apalah daya saat ia bersama dengan Jun dunia ini terasa milik mereka berdua. Seolah-olah ia hanya ingin hidup berdua saja dengan Jun di dunia ini. Sungguh konyol memang tapi ya itulah Mella.


"Silakan masuk paman bibi, telah menunggu lama." ucap Mella setelah pintu terbuka.


"Terimakasih." ucap keduanya secara bersamaan.


Keduanya kemudian masuk dan duduk sementara Mella mengambilkan minuman dan juga kue untuk keduanya.


Mella mempersilakan mereka untuk menikmatinya sambil berbincang-bincang ringan. Dan setelah berbasa-basi mereka akhirnya mengatakan tujuannya datang ke rumah Mella.


"Mella sebelumnya paman dan bibi minta maaf, karena waktu itu kami tidak bisa menolong mu. Kedatangan kami kesini sebenarnya ingin meminta tolong." ucap sang paman dengan malu-malu.


"Katakan saja paman jika Mella bisa pasti Mella akan membantu paman dan bibi." jawab Mella.


"Sebenarnya kami ingin menumpang sementara di rumah mu ini. Rumah kami disita oleh pihak bank. Kami tidak tau lagi mau menumpang dan meminta bantuan kepada siapa lagi." jawab sang bibi tanpa basa-basi lagi.


Pamannya kemudian menyenggol lengan istrinya, meskipun sebenarnya ia juga akan mengatakan hal itu tapi setidaknya tidak perlu sejelas itu.


"Baiklah paman kalian boleh tinggal disini selama paman mau. Karena sebentar lagi Mella akan pergi meninggalkan rumah ini." jawab Mella dengan tersenyum.


"Apa kau akan pergi ? memangnya kau mau kemana Mella ?." tanya sang paman dengan ras bersalah.


"Entahlah paman, Mella hanya ingin pindah ketempat yang baru. Melupakan semuanya yang terjadi dan membuka lembaran baru dan hidup yang baru." jawab Mella.


Paman dan bibinya saling pandang, sebenarnya mereka merasa bersalah dan sangat malu meminta bantuan kepada Mella. Bahkan mereka merasa tidak enak saat Mella mengatakan ingin melupakan semua kenangan yang terjadi.


Dan ingin meninggalkan kota ini, kota dimana air matanya terkuras akibat kesengsaraan dan penderitaan yang Mella alami termasuk luka yang mereka goreskan.