Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 36. Live streaming


Semua manusia hanya bisa berusaha dan berdoa semuanya kembali kepada sang penulis takdir kehidupan ini.


Sama halnya dengan pak Harun beliau hanya bisa berusaha dan berdoa agar bisa terlepas dari Jendral Pranoto. Yang memaksanya untuk melakukan hal-hal negatif yang merugikan banyak pihak.


Namun palah daya, pak Harun tetap saja harus melakukan apa yang diperintahkan oleh Jendral Pranoto. Untuk melakukan bom bunuh diri.


Pak Harun menemui istrinya menceritakan semua usaha yang dilakukannya tetap tidak membuahkan hasil. Dan sang putri meminta sang ayah untuk tetap berpegang teguh dengan keyakinannya.


"Ayah, jangan pernah melakukan hal keji itu, jika aku harus menjadi korban aku ikhlas tapi jangan ayah lakukan hal keji itu demi melindungi kami."


"Mungkin kami akan menderita ketika ayah menolak melakukan bom bunuh diri itu. Tapi kami ikhlas dengan semua penderitaan itu ayah. Tapi jangan pernah lakukan hal itu." ucap Hana.


"Nak kau tau, bahwa Jendral Pranoto itu lebih kejam dari seekor binatang. Bagaimana dengan nasib kalian nanti jika ayah menolaknya." ucap Pak Harun.


"Ayah bagaimana jika kita berusaha mencari tahu siapa sebenarnya rival Jendral Pranoto itu ?." usul Hana.


Kemudian mereka mencoba mencari tau dari internet dan sumber-sumber lainnya. Namun tetap tidak menemukannya.


Mungkin dengan kekuasaannya Jendral Pranoto bisa menutup semua berita tentang kejahatan yang dilakukan oleh Jenderal Pranoto.


Karena selama ini uang sering berbicara dari pada hati nurani. Ketika orang kaya melakukan sebuah kesalahan baik itu kecil maupun besar maka dengan uang mereka bisa menutupinya.


Tetapi jika itu terjadi pada si miskin, bahkan para penegak hukum sekalipun mengabaikan hari nuraninya dan tega menghukum si miskin dengan hukuman seberat-beratnya.


Setelah berusaha akhirnya mereka memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Sebagai manusia mereka hanya bisa berusaha dan berdoa selebihnya hanya Allah yang bisa menentukannya.


**** Flashback Of ****


Mella menangis, ia tahu bagaimana kisah selanjutnya dari nasib yang menimpa keluarganya itu. Dengan menolaknya sang ayah untuk melakukan aksi bom bunuh diri itu.


Sang ayah menjadi terduga ******* sementara sang kakak menjadi korban budak nafsu sang Jendral. Hingga akhirnya sang ibu dan sang kakak berusaha melindungi sang ayah dengan menjadi perisainya ketika beliau menerima hukuman mati.


Seluruh keluarganya harus berakhir ditangan para penembak jitu yang mengatasnamakan keadilan. Ya meskipun sebenarnya bukan keadilan yang mereka terima melainkan sebaliknya.


Meskipun kini Mella bisa membuktikan semua kebenarannya tetapi sang ayah, ibu dan juga sang kakak tidak akan bisa kembali.


Mella menangis terisak-isak. Rasa sakit kehilangan itu masih begitu terasa. Meskipun ia bisa membuktikan kebenaran yang terjadi tapi seperti apa keadilan yang keluarganya terima ?.


Jun perlahan mendekati Mella, memeluknya dari samping. Ia ikut merasakan sakit yang sangat luar biasa. Seandainya ia ada disisi Mella waktu itu pasti ia akan menggantikan tubuh pak Harun dengan tubuh Jendra Pranoto itu.


Agar air mata Mella hanya keluar karena bahagia, bukan karena duka dan derita. Jun mencoba menguatkan Mella.


"Nak, maafkan kesalahan ibu dan juga keluarga ibu. Seandainya pak Harun tidak menolong ibu waktu itu pasti keluarga kalian masih utuh dan bahagia sampai saat ini."


"Bahkan kau juga telah menolong Gani dari kejamnya kehidupan di jalanan. Besok aku akan kembali ke rumah kami dan aku akan menuntut Dul saudara ku sendiri yang tega menelantarkan Gani."


"Dan aku akan memaksanya untuk mengakui bahwa Jendral bedebah itu adalah iblis yang berwujud manusia." ucap wanita itu dengan penuh emosi.


"Bu, sudahlah biarlah yang berlaku biarlah berlalu. Apapun yang kita lakukan tidak bisa mengembalikan semuanya." ucap Mella.


"Kak Mella maafkan kami. Karena kami kakak jadi menderita seperti sekarang ini." ucap Gani dengan tulus.


Bahkan Gani juga telah kehilangan kakak serta ayahnya. Tapi Gani malah meminta maaf kepada Mella. Gani tersenyum mendengar ketulusan hati Mella yang tak menyimpan rasa dendam dengan keluarganya.


Meskipun karena keluarganya Mella harus kehilangan seluruh keluarganya. Gani kagum dengan hati Mella yang sangat luar biasa itu.


"Kelak jika aku besar aku ingin menjadi seperti kak Mella yang sangat baik hati." ucap Gani sambil memeluk tubuh Mella.


"Kau harus jadi lebih baik dari kak Mella Gani. Dan kau harus menjadi pelindung ibumu." jawab Mella.


"Baiklah nak Mella sebaiknya kita beristirahat, dan jangan sampai kesedihan ini membuat kita larut sehingga kita mengambil keputusan yang salah."


"Ibu masih mempunyai tugas untuk mengembalikan hukuman mati yang diterima oleh pak Harun, harus diterima juga oleh Jendral biadab itu." ucap wanita itu dengan penuh keyakinan.


Mella hanya tersenyum menanggapinya. Setelah semuanya kembali ke kamar masing-masing. Jun pergi menemui Jendral Pranoto yang tengah menikmati malam bersama seorang wanita cantik.


Dengan mudah Jun bisa masuk kedalam tubuh wanita itu. Dengan gerakan yang sangat menantang Jun menggerakkan tubuh wanita itu dan melepaskan pakaiannya satu persatu.


Jendral Pranoto yang memang menjadi budak nafsu tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menekan wanita itu. Namun dengan mudah Jun memindahkan tubuh wanita itu kesebuah kursi.


"Jendral apa yang terjadi, aku berada di sini." ucap wanita itu.


Jendral Pranoto kemudian melihat ke sumber suara, wanita cantik itu duduk dengan pose yang sangat menantangnya.


"Mengapa kau bisa pindah disitu ? marilah mendekat lah sayang." Ucap sang Jendral.


"Tapi senjata Jendral belum siap, bagaimana aku bisa mendekati Jendral yang belum siap itu." ucap wanita cantik itu sambil menunjuk ke arah senjata Jendral Pranoto yang terkulai lemah.


'Bagaimana bisa ia lemah begini padahal aku merasa sudah tak kuat ingin segera melepaskan hasrat ini.' batin Jendral Pranoto.


Dengan cepat Jun mengambil ponsel wanita itu dan mengabadikannya. Wajah sang Jendral yang menahan malu dengan senjata yang lemah dan lunglai itu telah Jin simpan.


"Jendral apakah aku kurang menantang bagi mu, sehingga ini tidak mau bangun ?." tanya wanita itu dengan gerakan yang sangat menggoda.


Tapi lagi-lagi Jendral Pranoto malah merasa bingung sendiri karena tidak biasanya adik kecilnya itu tidak merespon sentuhan wanita cantik.


Padahal biasanya ia akan segera bangun jika melihat wanita meskipun terkadang wanita itu tidak cantik.


"Baiklah aku akan keluar jika Jendral Pranoto tidak menginginkan aku." ucap wanita itu kemudian merapikan pakaiannya kembali.


"Tunggu, temani lah aku dulu. Mungkin adik kecilku masih butuh waktu untuk bisa beraksi kembali." ucap sang Jendral.


"Baiklah tapi jangan lupa bayarannya. Meskipun aku telah melakukan apapun tetapi itu bukan kesalahan ku karena adik kecilmu yang tidak mau." jawab wanita itu.


Tentu saja hal itu membuat Jendral Pranoto malau luar biasa tapi ia dengan pandai menyembunyikannya.


Dengan jahil Jun memasang cctv didalam ruangan penjara VIP itu, bahkan tindakan yang baru saja dilakukan oleh kedua manusia brengsek itu terekam kamera cctv yang telah ia pasang sebelumnya.


Jun tersenyum, kemudian ia mengaktifkan media sosial si wanita dan melakukan live streaming, sehingga kelakuan sang Jendral bisa ditonton secara langsung oleh semua pengikut wanita itu.


Tanpa Jendral Pranoto ketahui saat ini ia menjadi bahan perbincangan hangat karena adik kecilnya yang tidak bisa beraksi padahal selama ini ia terkenal sangat ganas, dikalangan wanita-wanita malam itu.