Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 11. Benih cinta


Setelah waktu yang cukup lama, akhirnya semua ingatan Mella telah ter transfer kedalam komputer itu, Mella menjatuhkan tubuhnya dilantai sambil menangis.


Ia benar-benar kembali merasa hancur, kejadian yang terjadi saat itu benar-benar telah ia tuangkan kedalam komputer ia ingin seluruh dunia mengetahui kebenarannya.


Sakit, perih dan hancur atau lebih parah dari itu, Mella benar-benar tak kuasa menahan kesedihannya.


"Nona, kau harus kuat ! selangkah lagi kita akan menyelesaikannya. Kau harus kuat melihat kenangan dalam memory mu menjadi sebuah video."


"Kau harus bisa Nona. Aku selalu ada di sini untukmu. Jangan bersedih, bukankah kau ingin ayah, ibu dan juga kakakmu mendapatkan keadilan. Bangkitlah Nona." Ucap Jun dengan memeluk tubuh Mella yang bergetar karena tangisnya.


Dengan lembut, Jun menghapus air Mella yang mengalir deras. Hatinya ikut merasakan sakit yang teramat dalam. Melihat gadis kesayangannya menangis begitu pilu.


Jun menepuk-nepuk pundak Mella, sebagi bentuk dukungan darinya. Dengan penuh kasih ia menenggelamkan wajah Mella kedalam pelukannya. Ia berharap bisa memberikan kedamaian dan kehangatan bagi Mella.


Mella kemudian menatap Jun. Seandainya Jun adalah manusia maka ia kan dengan senang hati menjadi kekasih halalnya.


Jun begitu sempurna, ia tampan dan sangat baik hati. Penuh kasih dan sangat sabar serta pengertian. Mella kemudian tersenyum dan membenamkan kembali wajahnya kedalam pelukan Jun.


Setelah ia merasa tenang. Ia berdiri dan menghampiri komputernya lagi. Jari jemarinya begitu lincah, berselancar di atas keyboard.


Ia segera menyimpan video tersebut dan mem-backup video tersebut kemudian menyimpannya di dalam beberapa flashdisk dan juga VCD.


Tak lupa ia mengirimkan video tersebut ke email pribadinya, sebagai backup jika flashdisk dan VCD tersebut bermasalah.


Setelah selesai ia meminta Jun, membawanya kembali ke dalam mobilnya. Dan meminta Jun agar menyimpan barang bukti yang telah ia kumpulkan.


Setelah sampai di dalam mobil, Mella menatap Jun dengan sangat intens. Hal itu disambut baik oleh Jun. Keduanya saling tatap dan tanpa terkendali Jun mencium bibir ranum milik Mella.


"Jun kau ...?." ucapan Mella terhenti karena jari Jun telah menutup kedua bibirnya.


"Nona maafkan aku. Aku, aku ... akh !." ucap Jun sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


Mella menundukkan kepalanya, ia ingin bersembunyi kesatu tempat yang tidak bisa dilihat oleh siapapun. Wajahnya merah seperti udang rebus. Meskipun ia yang lebih dahulu mencium Jun, tapi ini berbeda.


Jun menciuminya dengan penuh kasih. Sebagi seorang remaja ini adalah pengalaman pertamanya. Tak jauh berbeda dengan Jun, selama ini ia belum pernah merasakan hal ini.


Mencintai seseorang gadis dengan begitu tulus dan suci. Dalam kehidupan sebelumnya Jun bukanlah pria yang setia terhadap kekasihnya, meskipun ia bukan pria brengsek tetapi ia tidak pernah merusak seorang gadis.


Mereka hanya sebagai kekasih yang dipacarinya sebagi hal iseng dari pada ia tidak mempunyai seorang pacar.


Tapi kini, hatinya benar-benar telah dicuri oleh gadis remaja yang berbeda alam dengan dirinya. Namun hal itu tidak bisa menghalangi rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap manusia bernama Mella.


Kedua terdiam membisu, berkelana dengan pikiran masing-masing dan bermonolog dalam hati masing-masing. Malam indah yang bertaburkan bintang-bintang di langit, bercahayakan bulan dengan sinarnya yang begitu indah.


Kedua insan beda dunia itu, terdiam tanpa bisa mengatakan bahwa keduanya saling mencintai. Kedekatannya selama ini telah menumbuhkan benih-benih cinta di hati mereka.


"Nona, sebaiknya kita segera kembali ke rumah, karena nona harus beristirahat agar besok pagi kita bisa segera menyerahkan bukti-bukti tersebut ke pihak yang berwajib." ucap Jun memecah kebisuan diantara mereka.


Mella hanya mengangguk, dan membiarkan Jun menjalankan mobilnya menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan keheningan itu mereka lanjutkan.


Hingga tak terasa mobil yang mereka kendarai sudah sampai di depan rumah. Keduanya masih enggan untuk turun dan berpisah meskipun hanya beberapa detik.


Jun perlahan keluar dan segera membukakan pintu untuk Mella. Mella keluar dan segera masuk, berjalan menuju kamarnya tanpa mengatakan apapun terhadap Jun.


Begitu sebaliknya, keduanya seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Tenggelam dalam anggan-anggan indahnya cinta.


Mella segera merebahkan tubuhnya, berharap agar bisa segera memejamkan matanya dan bertemu kembali dengan Jun meskipun hanya dalam mimpi.


Malam segera berlalu dan digantikan oleh pagi dengan begitu cepat. Rasanya belum sempat mereka menata hati atas kejadian semalam, kini pagi telah datang.


Menandakan bahwa mereka harus tetap menjalani kehidupan ini. Siap atau tidak kehidupan terus berjalan. Mella bangun dan beraktivitas seperti biasa.


Setelah semuanya selesai, ia berangkat ke Sekolah dengan mengendarai mobilnya. Hari ini Jun membuat Diding gaib untuk Mella agar ia bisa aman tanpa mendengar gunjingan dari teman-temannya. Dan ia juga aman dari gangguan dari Chika dan kawan-kawannya.


"Mengapa aku susah sekali mendekati Chika ? dan ia seolah tak mendengar apapun ? Dia begitu santai, apakah dia sebenarnya menggunakan earphone ? agar ia tidak bisa mendengar gunjingan dari teman-teman ?." tanya Chika kepada Raisa.


"Kau benar, dan apakah kau tau hari ini Mella berangkat ke Sekolah mengendarai mobil sendiri." ucap Raisa.


"What ? bawa mobil sendiri ?!." ucap Chika dan beberapa teman secara bersamaan.


"Iya jika kau tak percaya, nanti kita lihat bersama-sama saat pulang sekolah." jawab Raisa.


"Darimana ia bisa mendapatkan mobil ? dan sejak kapan ia bisa mengendarainya ? bukankah selama ini ia tidak bisa mengendarai kendaraan bahkan sepeda sekalipun. "


"Ini tidak bisa dibiarkan !." ucap Chika dengan serius.


Jun tersenyum mendengar perbincangan mereka. Dengan jahilnya ia menempelkan sebuah kertas di punggung mereka semua dengan bertuliskan 'Aku anak yang suka iri dengan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain'.


Setelah itu ia menutupinya agar saat ini tidak ada yang bisa melihat kertas-kertas tersebut. Tank cukup sampai di situ. Jun juga mencoret-coret wajah mereka dengan spidol.


Kini wajah mereka sangat lucu, seperti tokoh-tokoh badut yang sangat menggemaskan. Jun tertawa terbahak-bahak melihat wajah mereka atau tepatnya melihat hasil karyanya.


Mella melihat ke arah Jun, kemudian ia melihat kearah yang ditunjuk oleh Jun. Mella tersenyum membaca tulisan yang ada dipunggung mereka.


"Nona nanti kau akan tertawa seperti ku saat melihat wajah mereka." ucap Jun sambil tertawa-tawa.


"Apa yang kau lakukan ?" tanya Mella.


"Tidak ada, aku hanya menambahkan beberapa garis-garis saja pada wajah mereka. Jangan khawatir mereka pasti akan baik-baik saja." jawab Jun sambil tersenyum menatap gadis kesayangannya.