Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 7. Di Sekolah


Pagi ini Mella kembali ke bangku sekolah, setelah beberapa hari ijin. Saat Mella memasuki pintu gerbang sekolah, setiap mata tertuju kearahnya. Mella sedikit risih namun ia tetap melangkahkan kakinya menuju keruang kelasnya.


Teman-temannya mulai menjauhinya, mereka tidak mau duduk berdekatan dengan Mella. Mereka memandang Mella dengan tatapan penuh intimidasi.


"Jun, mengapa mereka menjadi seperti ini kepadaku ?." tanya Mella dengan suara lirih.


"Kau tenang saja nona, aku akan selalu melindungi mu jika mereka berniat macam-macam." jawab Jin yang selalu berada di dekat Mella tanpa sepengetahuan teman-temannya.


Mella merasa sedikit tenang, setidaknya ada yang mau melindunginya dari sesuatu yang tidak di inginkan.


"Mella mengapa kau masuk ke sekolah ini ? apakah kau ingin melakukan bom bunuh diri seperti ayahmu ?. Ingat ya jika ingin mati, matilah sendiri jangan mengajak kami ikut serta dengan dirimu." ucap salah seorang teman Mella.


"Iya benar, jika kau datang hanya untuk melakukan tindakan bunuh diri seperti ayahmu, lebih baik pergi saja dari sini." ucap yang lainnya.


"Ya benar" ucap yang lain dengan kompak ibarat sebuah paduan suara.


"Apa yang kalian katakan ?." ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari luar.


"Kami hanya tidak ingin ada seorang penjahat di kelas kami." jawab salah satu teman Mella.


Gadis yang baru saja masuk itu menatap kearah Mella. Ia kemudian tersenyum dan berjalan mendekati Mella yang masih duduk di bangkunya.


Gadis itu berjalan mendekati Mella, ia menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dengan angkuh ia membolak-balik tubuh Mella seolah-olah sedang memeriksanya.


"Teman-teman sebaiknya kita periksa dahulu sebelum semuanya terlambat. Siapa tau ia datang dengan membawa sebuah bom." ucap gadis itu dengan tatapan penuh ejekan.


"Iya, iya kita harus memeriksanya jangan sampai bom itu meledak sehingga kita bisa celaka." timpal gadis yang sejak tadi hanya berdiri di depan kelas.


Langsung saja, mereka mendekati Mella dan menarik jilbab yang dikenakan oleh Mella. Mereka ingin membuktikan bahwa tidak ada bom dibalik pakaian yang Mella kenakan.


Tentu saja hal itu membuat Mella menjerit histeris. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi. Teman-temannya seolah tanpa dosa ingin melepaskan seluruh kain yang menutupi tubuh Mella.


Hal itu membuat Jun marah. Dengan sekali gerakan tubuh teman-teman Mella terhempas dan terjatuh menabrak bangku-bangku sekolah mereka.


Tak cukup sampai di situ, mereka mengalami apa yang akan mereka lakukan terhadap Mella. Rambut dan pakai mereka acak-acakan.


"AW ! sakit, siapa yang berani melakukan hal ini ?." teriak Chika.


Semua mata menatap kearah Mella yang masih menangis sambil mempertahankan jilbabnya.


Sementara yang lainnya saling menatap satu sama lain. Mereka kemudian melihat kesekelilingnya, untuk memastikan bahwa tidak ada satupun dari mereka yang mencoba menolong Mella.


"Siapa yang berani melawan Chika ?." tanya gadis yang sangat arogan itu.


Chika bangkit, dan mencoba merapikan rambut dan juga pakaiannya. Setelah itu ia mendekati Mella dan dengan kuat menampar wajah cantik yang ada dihadapannya.


Plak ! dengan sangat kuat Chika menampar wajah itu, tapi sayangnya yang ia tampar adalah wajah temannya sendiri.


"Chika apa yang kau lakukan ? bukankah kita bersama-sama untuk memeriksa Mella, dan lihatlah aku juga bernasib sama seperti dirimu." ucap Raisa.


Raisa diam saja tidak menimpali ucapan Chika, ia menggosok wajahnya yang terlihat begitu merah akibat tamparan dari Chika.


"Awas saja kau Mella, sekarang kau selamat tapi tidak untuk berikutnya." ucap Chika sambil menunjuk ke arah Mella.


Chika melihat jam dinding kemudian memerintahkan semua teman-temannya duduk di bangku masing-masing sebelum guru masuk ke dalam kelas.


Mereka mengikuti perintah Chika, hanya saja mereka tidak mau duduk dekat dengan Mella. Bahkan Rere teman sebangku Mella memilih duduk di dekat Chika.


Mella hanya diam saja, tanpa bisa menjelaskan apapun terhadap teman-temannya. Ia ingat betul bagaimana Chika membencinya selama ini.


Sebelum semua terjadi, Chika membenci Mella karena Mella selalu menjadi yang lebih baik dari pada Chika.


Sekarang saatnya Chika membalas semuanya. Dengan berita yang ditayangkan tentang pelaku bom bunuh diri yang berhasil ditangkap oleh Polisi yang ternyata adalah ayah kandung Mella.


Sekarang jangankan prestasi, satu orangpun tidak ada yang mau berteman dengan Mella. Mereka menjauhi Mella seperti yang diinginkan oleh Chika.


Mella mengikuti pelajaran dengan tidak fokus, setiap ejekan dari teman-temannya masih terngiang di telinganya.


Tak terasa air matanya menetes dan jatuh di atas buku yang ada di hadapannya. Saat ayahnya masih ada, ia selalu disanjung dan di hormati oleh teman-temannya.


Karena kebaikan dan kecerdasan yang Mella miliki, serta keluarga Mella yang terkenal keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama.


Namun kini berubah Seratus delapan puluh derajat. Mella mereka hina layaknya seorang penjahat yang tidak layak untuk menjadi teman mereka.


Saat jam pulang sekolah Mella keluar dibelakang guru yang baru saja menyampaikan materi di kelasnya.


Hal itu kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain. Setelah guru tersebut sudah tidak terlihat lagi. Chika segera menarik jilbab Mella dari belakang, kemudian mendorongnya sehingga Mella terjatuh dan tersungkur.


"Apa yang kau lakukan Chika ?." tanya Mella setelah berhasil bangkit.


"Aku akan memberikanmu pelajaran yang tidak akan kau lupakan seumur hidup." jawab Chika.


Kemudian ia memberikan kode kearah Raisa, dengan cepat Raisa maju dan memberikan seember air kepada Chika.


Air yang ia ambil dari comberan dan yang telah ia beri tinta spidol yang ia ambil dari dalam kelas. Chika langsung menyiramkan air tersebut kearah Mella.


Namun naas air itu malah membasahi seluruh tubuh Chika sendiri, sangat bau dan hitam. Chika semakin marah karena lagi-lagi ia gagal untuk merundung Mella.


Chika mendekati Mella yang masih duduk di atas tanah, namun ia malah terjatuh dan terpeleset sehingga ia jatuh tengkurap di hadapan Mella.


'Sial !. lagi-lagi aku gagal dan malah aku yang jadi korban dari rencana ku sendiri.' batin Chika.


Mella yang awalnya menutup mata, kini terbelalak saat melihat Chika yang berada didepannya bahkan dengan posisi tengkurap.


Mella melihat kearah Jun, yang tersenyum puas melihat apa yang dialami oleh Chika. Tubuhnya yang sangat bau dan warna hitam sebagai warna di sekujur tubuhnya.


Sungguh sangat mengenaskan, bahkan dengan posisi seolah-olah hendak memohon pengampunan dari Mella atas kesalahan yang telah ia lakukan terhadap Mella.