
Saat wajah Hana terlihat jelas tanpa ada yang menutupinya, terlihat betapa cantiknya wajah gadis itu, putih bersih seperti tanpa noda. Sebuah kecantikan yang alami tanpa sedikitpun riasan.
Jendral Pranoto yang sedang dalam pengaruh minuman keras semakin kehilangan kendali. Dengan paksa melepas pakaian yang menutupi tubuh lemah Hana.
Pak Harun berteriak serta memohon agar segera melepaskan anaknya. Namun setan telah menguasai diri Jendral Pranoto.
"Tuan kumohon lepaskan anak saya, saya kan melakukan semua permintaan tuan. Tapi aku mohon lepaskan anak saya."
"Tuan ! kumohon lepaskan anak saya, saja berjanji akan melaksanakan perintah anda. Ku mohon lepaskan anak saya." ucap pak Harun sambil memohon dengan derai air mata.
Ia memperkosa Hana dihadapan kedua orang tuanya dan didepan semua anak buahnya. Penolakan demi penolakan yang dilakukan oleh Hana semakin membuatnya ingin terus menikmati tubuh yang begitu indah itu.
"Lepaskan saya ! ku mohon lepaskan saya. Jangan lakukan hal ini. Kumohon tuan."
"Ayah, ibu, tolong saya, tolong selamatkan saya !. Siapapun yang bisa mendengar tolong saya ! Ya Allah tolong hamba !." Hana berteriak serta memohon pertolongan agar bisa terbebas dari Jendral Pranoto yang telah dikuasai oleh setan itu.
Teriakan Hana serta serta gerakan yang meronta-ronta membuat gairahnya semakin terpancing. Ia melampiaskan nafsunya tanpa berpikir akan sebuah dosa.
Melihat anaknya diperkosa membuat istri pak Harun bertindak nekat. Ia mengambil sebuah pisau yang ada di dapur.
Setelah itu tanpa pikir panjang ia ayunkan pisau itu hendak menusuk tubuh pak Harun. Namun secepatnya dicegah oleh salah satu anak buah Jendral Pranoto.
Pisau itu direbut, kemudian istri pak Harun ditampar serta ditendang oleh pria tak punya hati nurani itu. Tubuh yang sudah renta itu tak kuasa menahan kesedihannya.
Ia terjatuh dan tersungkur di lantai. Sakit yang beliau rasakan tak seberapa jika dibandingkan sakitnya melihat anak kandungnya diperkosa dihadapannya.
Bahkan hal itu menjadi sebuah tontonan bagi anak buah Jendral Pranoto. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan yang dialami oleh pak Harun dan keluarganya.
Entah dimana hati nurani mereka. Bahkan binatang buas sekalipun tidak akan pernah tertawa jika ada dari kawanan mereka tersakiti.
Sedangkan mereka adalah manusia yang dikaruniai oleh akal dan pikiran. Namun anehnya, jeritan, tangis dan penderitaan orang yang lebih lemah dari mereka bak sebuah irama yang indah untuk di nikmati.
Pak Harun tak bisa berbuat apa-apa. Tubuh ya yang lemah, wajah yang bengkak dan berdarah. Tak lagi beliau rasakan.
Ia hanya berteriak meminta serta memohon kepada mereka agar melepaskan Hana. Namun tak satupun dari mereka yang memperdulikan teriakan dan tangis seorang ayah yang ingin menyelamatkan anaknya.
Setelah puas melakukan aksi bejatnya, Jendral Pranoto memakai kembali pakaiannya, kemudian melangkah mendekati tubuh lemah pak Harun.
"Aku tagih janjimu, bahwa kau akan melakukan bom bunuh diri itu. Sekarang juga, bersiap-siaplah untuk melakukan hal itu." tanpa berkaca atas apa yang telah ia lakukan terhadap Hana, Jendral Pranoto berkata demikian.
Pak Harun seolah telah kehilangan seluruh dunianya, tubuhnya seakan tak bernyawa, tatapannya kosong. Ia menatap kearah Hana yang tergeletak sambil menangis pilu meratapi nasib buruk yang menimpanya.
Istri pak Harun merangkak mendekati putrinya yang malang itu, kemudian menutup tubuh polos itu dengan sebuah kain, Dona darah dari beberapa anggota tubuhnya yang lemah itu.
Perlahan beliau memeluk tubuh putrinya sambil bergetar karena tangisnya. Kedua wanita lemah itu saling berpelukan dan saling menguatkan.
Sementara pak Harun, dilepaskan ikatannya. Setelah itu wajahnya yang lebam-lebam disulap seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Setelah bom itu terpasang, kemudian pak Harun di dandani layaknya seorang ustadz dengan jubah yang menutupi bom di tubuhnya.
"Ayah, jangan lakukan hal itu, Hana mohon. Meskipun ayah menghabisi seluruh nyawa di dunia ini tidak akan bisa mengembalikan semuanya."
"Ayah tetaplah berpegang teguh dengan keyakinan ayah, kami ikhlas menjadi korban asalkan ayah tidak melakukan sebuah dosa dengan membunuh nyawa-nyawa tak berdosa itu." ucap Hana dengan lemah.
Pak Harun hanya meneteskan air matanya, beliau tak bisa berkata-kata lagi. Seolah-olah tak mampu berbicara. Ia seperti orang linglung.
Tubuh lemah itu di arak seperti seorang pesakitan. Melangkah sambil terus didorong oleh anak buah Jendral Pranoto.
"Ayah, kami mohon jangan lakukan hal itu. Berjanjilah ayah. Demi Allah jangan lakukan hal itu." ucap sang istri sambil menangis.
Jendral Pranoto menghentikan langkahnya, menoleh kearah sang istri dan juga anaknya dengan meneteskan air matanya.
"Kalian harus kuat, tolong jaga putri kita." ucap Pak Harun kemudian beliau melangkah mengikuti arahan anak buah Jendral Pranoto.
Semuanya berlalu, selesai sudah video tersebut diputar di ruang sidang. Para hadirin tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ada yang meneteskan air matanya, ada pula yang hanya bisa menundukkan kepalanya. Bahkan para hakim itu tak kuasa menahan kesedihannya.
"Bapak Hakim yang terhormat dan para hadirin sidang ini yang berbahagia. Kalian telah melihat bagaimana kejadian itu sebenarnya."
"Pak Harun hanyalah seorang pria tua yang lemah yang tak mampu melawan kekuatan dan kebiadaban Jendral Pranoto dan anak buahnya."
"Beliau hanyalah seorang ayah yang hanya ingin melindungi putrinya, beliau hanyalah kepala keluarga yang ingin melindungi keluarganya."
"Pak Harun hanya seorang pria lemah yang tetap memegang keyakinannya. Meskipun keluarga yang paling beliau sayangi menjadi korban. Beliau bukan seorang *******." ucap Mella dengan suara yang bergetar.
Tangisnya tak bisa lagi ia bendung. Peristiwa tragis yang menimpa keluarganya dan peristiwa yang membuat ia kehilangan seluruh keluarganya itu membuatnya hancur berkeping-keping.
Perlahan Mella mengusap air matanya, ia menatap Jendral Pranoto dengan seribu tanda tanya. Menatap wajah para hakim dan juga para hadirin.
"Apakah salah jika aku menuntut keadilan untuk ayah dan juga keluarga ku ?." tanya Mella sambil menatap wajah mereka satu persatu.
Semuanya diam tanpa kata, keheningan itu membuat Mella tersenyum pahit. Ia terlalu kecewa dengan para penegak hukum yang telah mengambil sebuah keputusan besar tanpa tau realita yang sebenarnya.
"Jendral Pranoto yang terhormat, dimana hati nurani ? dimana rasa kemanusiaan mu ?."
"Bukankah kau telah berjanji dan bersumpah di atas kitab suci disaat kau menerima jabatan mu ?
"Apakah sumpah yang kau ucapkan saat itu, hanya sebuah persyaratan untuk menerima sebuah jabatan yang tidak memiliki nilai apapun ?."
"Apakah yang membuatmu melakukan hal sekeji itu ?. Memfitnah orang yang tidak bersalah, merenggut kesucian seorang wanita ? menindas yang lemah." ucapan Mella terhenti. Ia kembali menangis pilu.