
Jun tidak ingin jika Mella langsung tidur setelah ia mengatakan kalimat indah dari alam surga, yang membuatnya semakin melayang terbang tinggi ke awan.
Ya meskipun hanya kalimat I love you sudah membuat hati Jun berbunga-bunga. Ia ingin mendengarnya lagi. Ya sekali lagi sebagai vitamin hati sebelum menjemput mimpi indahnya.
Dengan lembut Jun, mencium kedua mata Mella yang terpejam. Agar mata indah itu terbuka dan sang pemiliknya mau mengatakan bahwa ia sangat mencintainya.
"Sayang ucapkan sekali lagi, ku mohon sekali lagi sebelum aku merelakan mu untuk menjemput mimpi indah mu." ucap Jun.
Mella hanya tersenyum dan membalas ciuman yang Jun berikan, tanpa kata, keduanya mencurahkan perasaan cinta yang lahir dari hati. Melawati malam panjang hingga sang Surya menampakkan dirinya.
Pagi datang adalah bagian terbaik, pagi datang dengan harapan baru, energi baru. dan semangat baru.
Mella perlahan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah senyuman manis sang Arjuna yang semalaman menemaninya dengan setia.
"Selamat pagi sayang, Lihatlah matahari, ia memanggil namamu dari jendela. Buka pintu dan sapalah dia." ucap Jun dengan lembut.
Mella mengikuti apa yang Jun katakan, ia menyibak tirai jendela kemudian ia membuka pintu lalu menyapa matahari yang memberikan sinar kehangatan untuk dunia.
Setelah puas nikmati sinar matahari pagi, Mella masuk kedalam rumah, menyiapkan sarapan dan setelah selesai barulah ia membersihkan diri.
"Sayang, hari ini kita akan pergi sidang. Aku berharap ini adalah sidang terakhir dan ayah akan mendapatkan keadilan." ucap Jun.
Mella menoleh dan mengangguk, ia juga berharap segera mendapatkan apa yang seharusnya ayahnya dapatkan.
Sebuah keadilan, ya rasanya sangat tidak adil jika orang sebaik pak Harun harus menghembuskan nafasnya di ujung peluru penembak jitu karena ditetapkan sebagai seorang *******.
Setelah selesai sarapan, Mella berpamitan kepada Gani, karena ia harus menghadiri sidang. Dengan penuh keyakinan Mella melangkahkan kakinya, mengendarai mobil dan segera memasuki ruang persidangan.
Dengan langkah yang penuh percaya diri, Mella masuk keruang persidangan di dampingi oleh Jun. Mella segera duduk di tempat yang disediakan untuk dirinya.
Jun menepuk pundak Mella memberikan dukungan dan semangat agar ia bisa tegas dalam mengambil sikap demi keadilan yang ia inginkan.
Satu persatu orang-orang datang dan menempati posi masing-masing. Setelah semuanya siap, sidang pun segera di mulai.
Tahap demi tahap berjalan sekan lambat sekali. hingga akhirnya Mella diminta untuk menunjukkan bukti akan semua tuduhannya.
Perlahan Mella mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Setelah benda itu diberikan kemudian perlahan terlihat sebuah video.
Dimana pak Harun terlihat berlari dan segera memasuki rumahnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
Sang istri menyambutnya dengan gembira saat melihat sang suami yang sudah sampai di rumah dengan selamat.
"Pak, bagaimana ? coba bapak duduk dulu dan minumlah ini terlebih dahulu." ucap sang istri sambil menyodorkan segelas air.
"Bu ...," ucap Pak Harun tak bisa melanjutkan ucapannya.
Beliau lalu beristighfar berkali-kali agar bisa lebih tenang. Sang istri hanya bisa menangis tersedu-sedu. Meskipun sang suami tidak mengatakan apa-apa ia tau bahwa hal buruk telah terjadi.
"Ayah, ibu ada apa ini ? mengapa kalian menangis ?." tanya Hana yang baru keluar dari kamarnya.
Pak Harun dan istrinya hanya saling pandang dan tak mengatakan apapun hanya air mata mereka yang terus saja mengalir.
Tak lama kemudian masuklah beberapa orang dengan berpakaian serba hitam. Dengan cara mendobrak pintu.
"Apa yang akan kalian lakukan ?." tanya Pak Harun, dengan menyembunyikan anak dan istrinya di belakang tubuhnya.
"Seperti yang kami sampaikan sejak awal, kau harus melakukan Bom diri di Gereja itu. Kau harus bertanggungjawab atas kerugian yang kami terima."
"Dengan begitu dendam kami akan terbayarkan, dan nama kami tetap bersih." ucap salah satu dari mereka.
"Tidak, tidak mungkin saya melakukan hal itu. Saya tidak bisa melakukan hal itu, banyak nyawa tak bersalah yang akan menjadi korban dalam peristiwa itu." jawab Pak Harun dengan tegas.
Bukk ! Sebuah tinju melayang tepat di perut pak Harun. Bahkan beberapa orang ikut maju dan menghajar pak Harun dengan brutal.
"Ayah ...," ucap seorang gadis yang baru saja masuk dengan menggunakan seragam SMA.
Dengan cepat istri dan anak pak Harun yang pertama menyembunyikan gadis itu kedalam sebuah lemari pakaian.
"Apapun yang terjadi jangan berteriak dan jangan keluar dari sini. Ingat ini perintah ibu !." ucap Istri pak Harun.
Kemudian ia menyembunyikan anak sulungnya dibelakang tubuh lemahnya. Dengan berurai air mata. Ia menyaksikan bagaimana sang suami menjadi bulan-bulanan manusia-manusia yang tak berhati nurani itu.
"Ikat dia !." perintah seorang pria yang baru saja datang.
Pria itu adalah Jendral Pranoto, yang masuk dalam keadaan mabuk. Matanya menatap sekeliling rumah. Di saat ia melihat Hana ia kemudian tersenyum licik lalu mendekati pak Harun.
"Sekali lagi aku tawarkan, jika kau mau melakukan bom bunuh diri maka keluarga mu akan aman dan aku akan menjamin kehidupan mereka." jelas Jendral Pranoto.
"Tidak tuan, lebih baik saya mati dari pada saya harus menghilangkan nyawa banyak orang yang tidak berdosa."
"Dan saya mohon jangan ganggu keluarga saya. Mereka tidak bersalah dan tidak terlibat dalam masalah ini." ucap Pak Harun dengan wajah memohon.
Hahahaha, Jendral Pranoto tertawa lepas. Kemudian ia berjalan mendekati istri pak Harun. Tanpa pikir panjang Jendral Pranoto membuka secara paksa jilbab yang dikenakan oleh istri pak Harun.
Spontan beliau menjerit histeris dan di ikuti oleh Hana yang bersembunyi di belakangnya. Melihat Hana yang ketakutan membuat Jendral Pranoto mendekatinya.
Dengan paksa ia menarik Hana dari persembunyiannya. Dengan sekuat tenaga Hana mencoba melepaskan diri namun sama sekali tidak membuahkan hasil.
Istri pak Harun berusaha menggigit tangan Jendral Pranoto, hal itu membuat amarah Jendral Pranoto memuncak.
Tanpa belas kasihan Jendral Pranoto mendorong tubuh istri pak Harun, dan tak cukup sampai di situ beliau juga menendang tubuh lemah itu beberapa kali.
Pak Harun berusaha menolong istri dan anaknya namun apalah daya beliau sendiri tidak bisa melepaskan diri dari ikatan anak buah Jendral Pranoto.
Hana semakin ketakutan dan berusaha menolong sang ibu. Namun hal itu semakin membuat Jendral Pranoto gelap mata.
Dengan kuat menampar wajah Hana beberapa kali, membuat Hana hampir pingsan karena tamparan itu terlalu kuat.
Tak cukup sampai di situ, Jendral Pranoto mengangkat tubuh Hana dan meletakkannya di atas dipan sederhana yang berada di depan tv kemudian melepaskan jilbab yang menutupi wajah Hana.