Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 52. Menunggu Bus


Mella berusaha mencari nomor Raisa atau Chika dari internet, ia mencoba membuka profil lengkap sekolahnya dahulu. Ia mencoba menghubungi nomor yang tercantum dalam profil sekolah itu.


Setelah beberapa proses akhirnya Mella bisa mendapatkan nomor ponsel Raisa sahabat dekat Chika. Mella mencoba menghubungi nomor tersebut tapi sayangnya tidak ada yang mengangkat panggilannya.


Karena semakin larut akhirnya Mella memutuskan besok saja untuk menghubungi Raisa, mungkin saat ini Raisa sudah terlelap dalam tidurnya.


Mella pun terlelap dalam tidurnya. Mengistirahatkan tubuh serta hati dan pikirannya. Sebagai manusia normal Mella tidak bisa memaksa tubuhnya untuk terus terjaga, ia juga butuh waktu istirahat.


Saat pagi menjelang Mella terjaga dari tidurnya. Seperti biasanya Mella mengawali paginya dengan menghadap sang pemilik kehidupan ini.


Setelah selesai dengan semua aktivitasnya, Mella kembali mencoba menghubungi Raisa, telpon tersebut tersambung tapi sayangnya tidak ada yang mengangkat.


Sekali lagi Mella mencoba menghubungi dan akhirnya ada juga yang mengangkat panggilannya.


"Halo ini siapa ya ?." Tanya Raisa.


"Ini Mella, Raisa bagaimana kabarnya dan bagaimana kabar Chika ? aku mencoba menghubungi nomor Chika tetapi tidak bisa." jawab Mella pada intinya.


"Untuk apa kau bertanya tentang Chika ? dia sekarang entah kemana. Setelah ayahnya meninggal dia pergi dari kota ini." jawab Raisa.


"Meninggal ?." jawab Mella.


"Ya orang tuanya sudah meninggal semua, mereka seorang koruptor sementara Chika sejak kejadian waktu itu pergi entah kemana."


"Kau jangan bertanya soal Chika aku tidak tau. Jika kau penasaran lebih baik kau cari tau sendiri saja. Aku sibuk sekali jadi maaf aku tutup telponnya terlebih dahulu." Telpon itu langsung terputus.


Mella hanya menghela nafasnya panjang, seperti yang ia bayangkan pasti banyak yang tidak perduli dengan kondisi Chika.


Kebayangkan orang hanya perduli dengan kita saat kita sedang berjaya atau saat kita mempunyai segalanya. Namun sebaliknya jika kita sedang berada pada posisi terjatuh, maka banyak orang yang akan mengabaikan kita.


Dulu yang paling akrab dengan kita sekalipun akan pergi menjauh seperti orang asing yang tidak saling mengenal.


Sangat miris bukan ? persahabatan dan persaudaraan yang terjalin hanya sebatas saat kita berjaya saja. Saat kita terjatuh mereka akan melupakan persahabatan atau persaudaraan itu.


Mella hanya bisa berharap agar Chika dipertemukan dengan seorang yang baik hati, yang mau menolongnya disaat ia sedang terjatuh.


Dan semoga dengan kejadian ini, Chika bisa mengambil hikmahnya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Hari ini Mella hanya menghabiskan waktunya di apartemennya saja. Ia mempersiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan untuk acara wisuda besok.


Meskipun hatinya sangat sedih tapi ia juga sangat bersyukur bisa berada di titik ini. Ia bersyukur karena saat ini ia bisa m nikmati kehidupan ini jauh lebih baik bahkan ia kini telah menjadi seorang sarjana.


"Ayah, ibu dan kau kak. Lihatlah aku sudah menjadi seorang sarjana. Seandainya kalian berada di sini dan bisa menyaksikan aku saat wisuda nanti pasti akan sempurna kebahagiaan ku ini."


"Dan maafkan aku karena sudah lama aku tidak mengunjungi kalian. Aku berjanji setelah acara wisuda ku besok, aku pasti akan mengunjungi kalian."


"Sayangnya aku akan lama untuk sampai ketempat kalian karena mobilku hanya bisa berjalan dengan normal tidak seperti saat masih ada Jun."


Ucap Mella terhenti, terlintas kembali bayangan Jun saat mereka masih bersama. Kerinduannya terhadap Jun benar-benar semakin mendalam.


Ia juga tidak bisa mencari tau dimana Jun berada, ia juga tidak bisa bertanya tentang Jun kepada siapapun.


Karena tidak ada yang mengenal Jun selama ini. Rasa rindu terhadap keluarganya bisa ia obati dengan mengunjungi makam mereka.


Tapi rasa rindunya untuk Jun kemana obat hendak dicari. Hanya takdir yang bisa menjawabnya. Apakah ia bisa bertemu dengan Jun lagi atau sebaliknya ia akan lupa terhadap Jun seiring berjalannya waktu.


Mella kemudian bangkit dan berjalan menuju balkon kamarnya. Ia melihat keadaan kota disaat semua orang melakukan aktivitasnya.


Hiruk pikuk kehidupan yang ada di kota L ini ternyata tidak mampu mengalihkan rasa rindu yang ada didalam dadanya.


Meskipun mereka baru bersama tetapi rasa yang ada didalam dada sangat besar sekali. Sehingga saat Jun pergi kehidupan Mella terasa sangat hampa.


Mella menghela nafasnya lagi, mencoba menata hati agar ia bisa menjalani kehidupan ini meskipun tanpa Jun disisinya lagi.


Mella tersenyum getir menerima kehidupan yang harus ia jalani. Mella menghabiskan waktunya dengan laptopnya.


Ia mencoba mengisi waktu dengan mencari universitas mana yang akan ia pilih untuk melanjutkan pendidikannya.


Dan ia juga mencari informasi pekerjaan apa yang pas untuk dirinya jika ia tidak melanjutkan pendidikannya lagi.


Sementara ditempat lain, Jun sedang mencari transportasi yang bisa mengantarkannya ke kota L. Ia ingin segera bertemu dengan Mella.


Mella pasti akan sangat bahagia sekali karena permintaannya telah terkabul, kini Jun telah berubah menjadi manusia biasa.


"Oh ternyata sangat susah menjadi manusia biasa. Aku harus mengalami nasib seperti ini." ucap Jun yang kesal menunggu Bus yang akan menuju ke kota L.


Jun belum terbiasa dengan keadaan ini. Biasanya ia kan dengan mudah menuju ke tempat yang ia inginkan tanpa perlu menunggu bis atau yang lainnya.


"Dulu aku tinggal pergi kemanapun yang aku mau, dengan sekali gerakan aku sudah bisa ketempat yang aku tuju."


"Oh Mella semoga kau bersabar menunggu kedatangan ku. Dan bagaimana keadaan mu selama ini. Semoga kau baik-baik saja dan tidak ada pria yang mencoba untuk menggoda mu." ucap Jun.


Jun kembali duduk sambil menunggu kedatangan bus yang akan mengantarkannya ke kota L. Kota dimana Mella sedang menunggunya.


"Hai ganteng, apakah aku boleh duduk disini ?." tanya seorang wanita yang langsung duduk di samping Jun.


Jun bergidik ngeri melihat wanita itu, ia teringat wanita cantik yang bersama Jendral Pranoto waktu itu. Ia menjadi semakin takut membayangkan ada wanita disampingnya yang dengan berani mendekati seorang pria.


Sedangkan yang ia tau, Mella tidak pernah melakukan hal itu. Mella selalu menjaga jarak dengan pria. Tetapi wanita ini dengan berani mendekatinya dengan gaya yang sangat menggoda.


"Apakah aku kurang cantik Dimata mu sayang." ucap wanita itu.


Jun bergidik kemudian bangkit dan meninggalkan wanita agresif itu.


"Oh lama sekali busnya datang. Tuhan tolong hamba mu ini jauhkan hamba dari godaan setan yang terkutuk." ucap Jun sambil berjalan meninggalkan wanita itu. Ia mencari tempat duduk yang lainnya.