Air Mata Mella

Air Mata Mella
Bab. 20. Keraguan


Mella yang baru saja datang melihat seseorang sedang berusaha untuk membuka pintu pagarnya dengan sulit sekali, ia menoleh menatap kearah Jun yang juga melihat hal itu.


"Jun, mengapa anak itu tidak bisa membuka pagar dan terlihat begitu kesusahan ?." tanya Mella.


"Itu artinya dia berniat jahat kepada mu. Lihatlah anak yang tertidur di teras itu. Berarti dia tidak mempunyai niat jahat sehingga ia dengan mudah memasuki perkampungan rumah kita." jelas Jun.


"Tapi niat jahat apa bagi gelandangan seperti dia ?." tanya Mella dengan bingung.


Kemudian Jun menutup kedua telinga Mella dan tak lama kemudian Mella bisa mendengar suara hati gadis itu.


"Mengapa susah sekali aku membuka pintu ini, jika begini bagaimana aku bisa menjalankan tugas yang diberikan oleh Jendral." ucap gadis itu dalam hati.


Mella melihat gadis itu, kemudian ia turun dari mobil dan membuka pintu pagar rumahnya. Setelah itu mobil itu segera masuk kedalam garasi dengan sempurna. Saat melihat Mella gadis itu mencoba masuk untuk mengikuti Mella namun tetap saja tidak bisa.


"Kak tolong saya, saya sudah dia hari ini belum makan, tolong kasihanilah saya kak." ucap gadis itu.


"Siapa namamu ?." tanya Mella dengan tersenyum.


"Nama saya Rika kak, tolong saya kak." ucap gadis itu dengan wajah sang sangat memelas.


Mella mengambil satu lembar uang seratus ribuan kemudian memberikannya kepada Melly. Setelah itu Mella berjalan mendekati seorang anak kecil yang masih tertidur pulas di teras rumahnya.


"Dik bangun, apa yang membuatmu tidur di teras ini ?." tanya Mella.


Perlahan anak kecil itu membuka matanya, ia kemudian duduk dengan ketakutan, sambil memegang perutnya anak itu meminta maaf kepada Mella.


"Maafkan saya kak, saya tadi tidak sengaja ketiduran di sini. Saya hany menumpang beristirahat dari teriknya matahari." ucap anak kecil itu.


Perlahan Mella mengeluarkan sebotol air mineral dan sebungkus roti, dan menyerahkannya kepada anak kecil itu.


Mella tidak tega ketika mendengar suara perutnya yang keroncongan. Ia ingat saat dirinya mengalami hal yang serupa hingga ia terlelap di pemakaman.


Dengan cepat anak itu meraihnya dan segera melahapnya. Tanpa memperdulikan jika Mella memandanginya.


"Terimakasih kak." ucap anak itu setelah selesai makan.


Sementara Melly masih berdiri di depan pagar sambil memperhatikan apa yang Mella lakukan terhadap gelandangan kecil itu.


"Siapa namamu ? dan dimana aku tinggal ?." tanya Mella.


"Namaku Gani, aku tidak mempunyai tempat tinggal. Aku kehilangan paman dan juga bibiku saat berbelanja di moll. Aku tersesat." jawab anak itu dengan jujur.


"Apakah kau tau alamat rumah paman dan bibirmu ?" tanya Mella.


"Mereka sudah pindah entah kemana. Aku sempat mencari mereka tapi sampai saat ini belum ketemu." jawab Gani sambil menundukkan kepalanya dan tak terasa air matanya menetes.


Mella menatap Jun, untuk meminta persetujuan. Dan akhirnya Jun menyetujui keinginan Mella untuk mengajak Gani tinggal bersamanya.


"Kalau kau tidak keberatan kau bisa tinggal bersama kakak di sini sambil kita mencari paman dan bibiku." ucap Mella.


Tentu saja Gani langsung mengangguk, dan ia segera memeluk tubuh Mella. Ibarat berjalan dihitung pasir , begitu ia menemukan sumber air pastilah membuatnya bahagia. Sementara Melly yang mendengar hal itu begitu terkejut.


"Kak, bolehkah aku juga ikut tinggal bersamamu ?." tanya Melly sambil sedikit berteriak.


"Masuklah ! jangan berteriak seperti itu jika ingin berbicara." jawab Mella.


Kemudian Mella meminta Gani, keluar kemudian masuk kembali. Tapi bagi Gani hal itu sangat mudah, ia tidak terhalang sebuah dinding seperti yang diucapkan oleh Melly.


"Gani apakah ada dinding yang menghalangi mu atau ada sesuatu yang membuatmu tidak bisa melewati pagar ini ?." tanya Mella.


"Tidak kak aku tidak terhalang oleh apapun." jawab Gani dengan jujur.


Melly menundukkan kepalanya, ia sendiri bingung mengapa orang lain bisa dengan mudah masuk ke perkampungan rumah Mella sedangkan ia tidak bisa seolah-olah ada yang menghalanginya.


"Mari masuk Gani, dan kau Melly jika kau tidak ingin masuk, maka jangan berdiri di situ saja. Pergilah kemana tujuan mu agar tidak menimbulkan fitnah." ucap Mella dengan lembut.


Setelah itu Mella dan Gani masuk kedalam rumah sementara Melly terpaksa kembali menemui rekan-rekannya yang lain. Dan menceritakan semua yang ia alami.


"Bos bukankah saya sudah bilang di rumah itu ada hantunya pak Harun. Bos aja yang tidak percaya." ucap salah satu dari mereka.


"Sembarang, mana ada hantu siang bolong begini !." jawab yang lainnya.


"Ya sudah kita kembali saja dulu, dan kita laporkan semua ini kepada Bos kita. Ayo jalan." ucap pemimpin mereka.


Tak lama mbil yang mereka kendarai kembali ke markas mereka. Sementara Mella dan juga Gani sedang menikmati makan siangnya.


Gani terlihat begitu lahap saat makan, ia sudah lama tidak makan makanan yang enak-enak, sejak ia terpisah dari kedua orangtuanya.


Mella tersenyum melihatnya. Ia kemudian mengambil beberapa lauk dan saur serta menambahkan nasi kepiring Gani.


"Ayo habiskan biar kau bisa tumbuh dengan sehat." ucap Mella.


"Sayang aku juga mau." ucap Jun.


Mella hanya tersenyum mendengarnya kemudian melanjutkan makan bersama dengan Gani. Selepas makan Gani duduk di ruang tamu sambil rebahan.


Ia sangat kenyang dan akhirnya tidur kembali, hanya saja kini ia tidur dengan perut yang kenyang. Ia tidak kelaparan lagi seperti tadi.


"Jun, apa yang membuat Melly ingin berbuat jahat kepada ku ?." tanya Mella.


"Ia hanya disuruh oleh seseorang, yang mungkin ingin memata-matai kita." jawab Jun.


"Lalu bagaimana dengan Gani ?." tanya Mella.


"Dia anak yang baik, dan dia tidak bersalah. Hanya saja aku merasa anak ini mempunyai hubungan dengan masa lalu ayahmu." jawab Jun sambil mencoba berfikir.


"Ada hubungannya dengan ayah ?." tanya Mella.


"Sepertinya seperti itu, hanya saja aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Nanti saat dipersidangan ia akan aku bawa siapa tau ada yang mengenalinya." ucap Jun.


"Apakah itu tidak berbahaya ? bukankah Jendral Pranoto bisa mencelakainya atau menjadikan ia sebagai sandra ?." tanya Mella.


"Iya pasti, dan aku yakin saat ini Melly telah mengatakan semuanya. Dan ada kemungkinan mereka akan memanfaatkan Gani."


"Sebagai sesama anak jalanan pasti Gani akan merasa iba dan akan menurut kepada mereka yang pernah berada di jalanan bersama." jelas Jun.


Lalu Mella menatap wajah kecil Gani yang tengah terlelap itu. Ia terlihat begitu lelah dan ada sebuah kesedihan yang terlukis dalam wajahnya.


Mella menghembuskan nafasnya kasar, ia sebenarnya merasa iba tapi ia juga merasa sedikit ragu jika harus tinggal bersama dengan Gani.