
Seperti yang dipikirkan oleh Jun, Melly diam-diam menemui Gani. Ia ingin mencari informasi dari Gani tentang Mella.
"Gani, sekarang kau sudah bisa hidup dengan nyaman. Tinggal bersama dengan keluarga yang sangat bahagia."
"Berbeda dengan aku, harus tetap tinggal di jalanan dan di terkadang rejeki yang aku dapat diminta oleh bang Dul." ucap Melly.
"Kaka yang sabar ya. Aku tinggal dengan kak Mella merupakan sebuah keberuntungan yang luar biasa bagiku." jawab Gani dengan jujur.
"Bagaimana dengan keluarga kak Mella apakah mereka baik semuanya ?." tanya Melly lagi.
"Kak, Mella tinggal sendiri. Ia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi sama seperti aku." jawab Gani dengan sedih.
"Tinggal sendiri ? kalau siapa yang membantu kak Mella selama ini dalam menjalani kehidupan ini ?." tanya Melly.
"Ya kak Mella melakukan semuanya sendiri." jawab Gani dengan polosnya.
Melly merenung, jika dilihat dari wajah Gani anak ini berkata dengan jujur dan selama ini ia juga tidak melihat siapapun yang menghubungi rumah Mella.
Bahkan dari hasil penyidikan team mereka, Mella tidak mempunyai riwayat panggilan dari orang yang spesial atau mencurigakan.
Panggilan telepon dan catatan pesan dari ponsel Mella hanya sebatas panggilan dari teman atau kurir pengiriman barang.
Namun mengapa Jendral Pranoto begitu yakin bahwa ada seseorang yang membantu Mella selama ini ?. Melly bingung.
"Gani apa saja aktivitas kak Mella selama ini ?." tanya Melly lagi.
"Setiap pagi Kaka Mella pergi ke sekolah, jika dirumah kak Mella membaca buku dan mengaji selain aktivitas dirumah."
"Semuanya kak Mella lakukan sendiri, terkadang jika terlalu lelah kak Mella membeli makanan dari gofood." jawab Gani.
Setelah perbincangan itu, Melly berpamitan kepada Gani. Ia akan pergi untuk mencari rejeki agar perutnya bisa terisi.
Melly juga berpesan kepada Gani, agar menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Mella. Dengan alasan agar Melly bisa menjadikan Mella sebagai contoh teladan.
Setelah itu Melly melaporkan bahwa dari informasi yang ia dapatkan dari Gani, Mella memang hanya tinggal seorang diri dan tidak berinteraksi dengan orang lain.
Begitu juga dengan Gani, ia menceritakan pertemuannya dengan Melly dan percakapannya dengan Melly.
Gani juga berkata jujur bahwa ia diminta oleh Melly untuk menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Mella sebagai contoh teladan.
Mella mengerutkan keningnya, ternyata benar Melly akan memanfaatkan Gani sebagai seorang informan.
Untung saja setiap berbincang dengan Jun. Mella selalu menghindar dari Gani. Sehingga sejauh ini Gani belum mengetahui bahwa ada Jun yang tinggal bersama Mella.
Dan dengan bantuan dari Jun, Mella dan Gani mencari keberadaan paman dan bibinya, yang ternyata adalah anak buah Jendral Pranoto.
Mella merasa tidak tega melepaskan Gani, namun ia tidak berani untuk memisahkan Gani dari keluarganya.
"Gani, jika kau bertemu dengan pamanmu apakah kau ingin tinggal bersama dengan mereka ?." tanya Mella.
"Paman ? apakah kakak sudah bertemu dengan paman Gani ?." tanya Gani.
Mella hanya mengangguk, Sedangkan Gani bukannya bahagia namun ia ragu. Hal itu membuat Mella semakin penasaran.
"Apa yang kau pikirkan ?." tanya Mella.
Mella dan Jun saling pandang, jika Dul orang jahat itu benar karena ia adalah anak buah Jendral Pranoto yang brengsek itu.
Tapi jika jahat terhadap kedua orang tua Gani, apa yang Dul lakukan terhadap mereka sehingga Gani menyimpulkan hal itu.
"Gani, mengapa Gani bilang kalau om Dul jahat terhadap kedua orang tua mu ?." tanya Mella.
"Ayah dan ibu disuruh berjualan tetapi ayah dan ibu tidak mau takut ditangkap polisi karena itu adalah dosa."
"Tapi om Dul dan teman-temannya memukul ibu dan juga ayah. Dan membawa Gani pergi." jawab Gani dengan polosnya.
"Apakah Gani ingat dimana rumah Gani atau rumah om Dul ?." tanya Mella.
"Om Dul tidak punya rumah, om dan bibi tinggal bersama kami karena ayah dan ibu kasihan. Tapi sekarang rumah kami di tempati oleh om Dul dan ayah juga ibu tidak ada, mereka entah dimana." jawab Gani dengan sedih.
Mella kembali menatap Jun, dan Jun membenarkan apa yang diceritakan oleh Gani. Jun bisa melihat bahwa apa yang diceritakan Gani terlihat juga dalam ingatan anak itu.
Mella membelai lembut wajah Gani. Terlihat wajah kecil itu berselimut duka dan sebuah kerinduan. Mella bisa merasakan betapa sakitnya berpisah dari orang tua kandungnya.
"Ya sudah, jika Gani tidak ingin bertemu dengan om Dul. Sekarang lebih baik Gani mandi kemudian beristirahat." ucap Mella.
Gani mengangguk kemudian ia berjalan meninggalkan Mella. Ia segera membersihkan diri seperti perintah Mella.
Kemudian Mella memasang foto keluarganya di dinding. Terlihat kebahagiaan yang terlukis dalam wajah-wajah mereka. Bukti jika keluarga mereka begitu bahagia.
Mella menatap foto itu, perlahan air matanya menetes hatinya begitu perih saat teringat kembali peristiwa itu.
Didepan mata kepalanya sendiri, ia melihat Ayah, ibu dan juga kakaknya menghembuskan nafas terakhirnya dari akibat sebuah peluru dari penembak jitu yang berseragam itu.
Jun, menepuk pundak Mella sebagi bentuk dukungan agar Mella bisa bersabar dengan ujian ini. Jun tau betapa sakitnya Mella jika mengingat semua kejadian itu.
Seorang ayah yang baik harus bertanggung jawab atas kesalahan orang lain bahkan mengorbankan nama baiknya dan juga keluarganya.
Terkadang hal semacam ini membuat kita berfikir betapa kejamnya dunia ini. Yang tidak berpihak kepada si lemah yang tidak bersalah.
Bahkan sebaliknya memihak kepada si kaya dengan segunung kesalahan. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh mereka yang lemah ? selain pasrah dan menerima keadaan meskipun tidak rela.
Jun harus bisa menyakinkan Mella, bahwa ia harus mau menyerahkan video peristiwa yang sangat menyakitkan itu.
Meskipun seperti menyiram garam pada lukanya, tapi itu harus ia lakukan agar sang ayah mendapatkan keadilan itu.
Meskipun tidak bisa mengembalikan nyawanya, setidaknya beliau akan dikenang sebagai orang baik dan beragama, bukan sebagai seorang penjahat apalagi sebagai seorang *******.
Sementara Gani yang kebetulan telah selesai mandi berjalan mendekati Mella yang sedang menatap sebuah foto yang baru saja ia pasang.
Gani melihat foto tersebut dan melihat air mata Mella. Saat Gani melihat kembali foto itu, ia teringat bahwa lelaki itu pernah ia lihat.
"Om itu sepertinya Gani pernah melihatnya." ucap Gani tiba-tiba.
Hal itu membuat lamunan Mella sirna, dan Mella menatap kearah Gani. Terlihat Gani sedang berfikir dengan keras.
Mungkin Gani sedang berfikir dimana ia pernah bertemu dengan ayah Mella.