
Paman dan juga bibi Mella datang ke kantor kelurahan untuk meminta tolong membuat sertifikat tanah milik Mella.
Dengan yakin dan percaya diri keduanya ingin membuat sertifikat tanah, mereka bahkan membawa sejumlah uang untuk menyuap petugas.
"Bagaimana pak, apakah bapak bisa membantu kami membuat sertifikat tanah berserta bangunannya atas nama saya ?." tanya paman dan bibi Mella.
"Saya cek terlebih dahulu, sebelumnya tanah tersebut sudah ada yang memiliki atau belum agar memudahkan proses administrasi." jawab petugas itu.
"Tanah beserta bangunannya adalah milik saya. Anda pasti sudah tau siapa saya bukan ?." tanya Dul yang tiba-tiba muncul dan duduk disamping petugas .
Paman beserta bibi Mella menoleh secara bersamaan ke sumber suara. Mereka kaget saat melihat Dul.
Siapa yang tidak mengenal Dul, Kekejamannya dan juga keuangannya tidak ada yang bisa menandinginya bagi masyarakat di lingkungannya.
Hanya saja mereka bingung mengapa Dul juga ingin menguasai rumah tersebut. Sebenarnya apa yang membuat Dul ingin ikut memiliki rumah tersebut ?.
"Sebenarnya tanah dan bangunan itu milik siapa ?." tanya petugas karena bingung.
"Milik saya !." jawab mereka kompak layaknya paduan suara.
Petugas itu merasa bingung kemudian memandang wajah mereka satu persatu. Sebenarnya apa yang mereka inginkan sehingga mereka berebut ingin memiliki rumah sederhana itu.
"Mereka semuanya telah berbohong pak ! rumah itu adalah rumah Mella anak dari almarhum pak Harun. Tentu semua sudah mengetahui bahwa Mella berhasil memenangkan kasus dan membersihkan nama sang ayah." ucap ibu Gani yang tiba-tiba muncul di kantor tersebut.
"Apa lagi ini ?." tanya petugas dengan bingung.
"Seharusnya bapak tidak perlu bingung, anda tinggal cek di badan pertanahan Nasional. Dan anda bisa mengetahuinya sendiri siapa pemilik rumah itu secara hukum." ucap ibu Gani dengan tegas.
"Siapapun pemiliknya anda hanya perlu merubahnya menjadi milik saya." ucap Dul sambil menyerah sebuah amplop berisi uang.
"Untuk masalah itu anda hanya perlu merubah nama Mella menjadi nama saya, karena alasan kemanusiaan dan yang pasti Mella adalah keponakan saya." ucap sang bibi yang tidak mau kalah.
Kedua Belah pihak sama-sama menyodorkan sejumlah uang untuk mempermudah urusan mereka. Ibu Gani melihat kejadian itu kemudian menggelengkan kepalanya.
Ternyata mereka begitu serakah demi bisa mewujudkan keinginan mereka, mereka rela melakukan tindakan yang melanggar hukum.
Sementara sang petugas semakin bingung untuk menentukan sikap dengan kejadian yang ada didepan mata.
Ada sejumlah uang yang datang menghampirinya. Tetapi jika ia ambil maka dari pihak lawan akan meng-upload kejadian itu serta melaporkan hal tersebut ke pihak yang berwajib.
"Bagus sekali ! aku akan segera mengirimkan video ini untuk Mella." ucap ibu Gani tanpa rasa takut.
"Dan untuk kalian berdua, bukankah lebih baik jika video ini sampai ditangan Mella. Dan Kau akan tau bagaimana rasanya kalian dihancurkan oleh anak bau kencur seperti Mella." ucap ini Gani.
Brak ! petugas tersebut marah karena merasa tidak di hargai. Petugas itu menatap mereka silih berganti. Setelah itu petugas itu meminta mereka semua keluar dari ruang kerjanya.
Mereka keluar secara bersamaan dan saling mengingatkan bendera perang. Mereka siap bersaing untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Dul apakah peristiwa yang menimpa Jenderal Pranoto tidak bisa membuat mu untuk berfikir menjadi manusia baik-baik saja."
"Dan apakah kau tidak takut ingin mengusik Mella. Bahkan Jendral Pranoto saja bisa ia jebloskan kedalam penjara ! lalu bagaimana dengan mu ? apakah Mella tidak bisa berbuat seperti itu ?." tanya ibu Gani kepada Dul.
"Dan apakah kalian tidak merasa bersalah terhadap Mella. Yang dengan tulus menolong kalian berdua di saat seluruh dunia menghukum kalian karena keserakahan kalian sendiri."
"Paman dan bibi macam apa kalian ini sehingga tega berbuat hal seperti itu terhadap Mella. Orang yang sudah menolong kalian." ucap ibu Gani.
Mereka kemudian diam seribu bahasa. Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan yang keluar dari ibu Gani. Perlahan mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.
Semua kejadian itu, tak luput dari pantauan Jun. Kemudian ia pergi untuk membuat mereka menyesal karena telah mencoba menipu Mella.
Dengan keahliannya Jun menghilangkan rumah Mella. Kemudian mengganti rumah tersebut dengan pepohonan yang sangat lebat layaknya sebuah hutan.
Namun hal itu hanya bisa terjadi bagi mereka yang mempunyai niat jahat terhadap Mella. Sehingga paman dan juga bibi Mella menjadi bingung karena tidak bisa menemukan rumah Mella yang menjadi tempat tinggal mereka.
Namun setelah berputar-putar mereka bahkan tidak bisa melihat rumah Mella. Mereka duduk di sisi jalan karena sangat lelah.
Tak lama kemudian Melly datang seperti orang yang kebingungan. Ia sangat heran mengapa rumah Mella bisa berubah menjadi hutan belantara seperti itu.
"Bukankah di situ itu seharusnya ada sebuah rumah. Tapi mengapa sekarang berubah menjadi sebuah hutan ?." tanya Melly sambil mendekati paman dan juga bibi Mella.
"Entahlah kami juga bingung." jawab sang paman.
Mereka sama-sama mencoba berfikir dengan keras. Mereka kemudian saling pandang satu sama lainnya.
"Apa jangan-jangan rumah itu hanya sebua ilusi saja ?." tanya Melly.
"Maksud mu bagaimana ?." tanya suami istri itu.
Kemudian Melly menceritakan semua yang terjadi dan mereka semua hanya bisa diam seribu bahasa.
Mereka baru mengetahui bahwa Mella sebenarnya tidak sendiri melainkan ia dilindungi Oleh ayahnya sendiri yang mungkin ingin agar anak gadisnya bahagia dan tidak mendapatkan gangguan apa pun.
Mereka bertiga terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Tak lama kemudian Dul datang menghampiri mereka bertiga.
Dan ia pun sangat terkejut saat melihat bahwa tempat yang ia inginkan berubah menjadi sebuah hutan.
"Melly apakah aku tidak salah melihat ?" tanya Dul.
"Tidak, mungkin ini adalah kenyataannya selama ini. Hanya saja hantu pak Harun membuat sebuah ilusi agar anaknya mempunyai tempat berteduh." jawab Melly asal.
"Mungkin kau benar, kalau begitu kita lupakan saja keinginan untuk memiliki rumah yang istimewa ini.' ucap Dul pasrah.
Kemudian ia mengajak Melly untuk pergi meninggalkan rumah yang tidak mungkin bisa ia miliki.
Sementara paman dan juga bibi Mella melangkah pergi dengan rasa lelah dan putus asa. Kini jangankan untuk bisa memiliki rumah itu Bahal. pakaian dan beberapa barang ikut terkubur didalam rumah yang ajaib itu.
Yang lebih parah lagi uang yang mereka bawa berubah menjadi daun-daun kering yang tersusun rapi.
Seolah-olah mereka sudah kehilangan seluruh tenaga untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka hanya bisa pasrah dengan semuanya karena secara tidak langsung mereka telah berbuat keji terhadap Mella.