
Setelah beberapa saat banyak media sosial yang membahas tentang Jendral Pranoto. Ada yang membahas fasilitasi yang diterima oleh narapidana spesial karena meskipun katanya dipenjara namun ternyata tetap bisa menikmati hidup seperti biasanya.
Ada pula yang menyoroti tentang perilaku sang Jendral yang suka bermain wanita. Dan banyak lagi hal-hal yang dibahas dalam berbagai media sosial.
Bahkan berita itu menjadi trending topik terpanas di semua media sosial. Jun tersenyum setelah puas mempermalukan Jendral Pranoto.
Kemudian ia keluar dari tubuh wanita itu. Dan setelah itu Jun tidak mau tau apa yang akan terjadi selanjutnya di antara wanita itu dan juga Jendral Pranoto.
Yang pasti kali ini dia sudah berhasil mempermalukan sang Jendral yang telah menyakiti hati Mella hingga gadisnya sering mengeluarkan air mata kesedihan.
Saat Jun sampai di depan rumah ia melihat Melly yang masih setia berada di depan rumah, hanya saja kali ini ia ditemani oleh Dul.
Paman Gani yang sekaligus orang kepercayaan Jendral Pranoto. Jun mempunyai ide untuk menjahili keduanya.
"Dul apakah kau sudah melakukan perintahku untuk menjaga seluruh keluarga ku ? bukankah kalian berjanji jika aku mau menuruti kemauan kalian untuk melakukan bom bunuh diri maka kalian akan menjamin kehidupan seluruh keluarga ku?." ucap Jun sambil mengangkat sebuah balok kayu.
"Si siapa yang berbicara ?." tanya Dul dengan ketakutan.
"Memangnya siapa lagi Dul ! kini aku datang untuk menuntut apa yang telah kalian ucapkan. Dimulai dari mu Dul." ucap Jun dengan mengayunkan balok kayu di tangannya itu.
"Ja ja jangan lakukan itu. Aku sudah mengingatkan mu agar kau menuruti perintah Jendral Pranoto agar keluarga mu bisa selamat."
"Ta tapi kau sendiri yang m ngambil keputusan itu sehingga anak dan istri mu yang menjadi korban." jawab Dul sambil gemetar bahkan sampai terkencing-kencing.
"Lalu apakah kalian menyelamatkan anak dan istri ku dari penembak jitu itu ?." tanya Jun lagi.
"Itu itu aku tidak tau karena bukan kewenangan ku untuk melarang mereka menembak. Dan itu juga karena kesalahan anak dan istri mu sendiri." kilah Dul.
Jun melangkah dan mengayunkan balok kayu itu kearah Dul dengan sangat cepat, sehingga Dul tak dapat menghindarinya .
Bukk tubuh Dul terjatuh ketanah dan mulutnya mengeluarkan darah. Melly yang melihat hal itu langsung bersimpuh dan meminta maaf.
Dan pada saat itu juga Mella dan juga Gani berserta ibunya keluar karena mendengar suara gaduh diluar rumah.
"Maaf pak Harun, kami telah bersalah. Melly selalu membantu Jendral Pranoto karena beliau orang yang telah menolong saya disaat saya kelaparan dijalan."
"Sehingga saya berjanji akan melakukan apapun untuk membalas kebaikan yang telah beliau lakukan. Karena di saat semua orang menghina dan memandang saya sebelah mata hanya Jendral Pranoto yang mau mengulurkan tangannya untuk saya."
"Dan saya juga mau minta maaf karena saya telah berniat buruk terhadap kak Mella. Semua saya lakukan hanya demi membalas Budi kepada Jendral Pranoto." ucap Melly dengan jujur.
Gani dan juga Mella saling pandang, ternyata Melly hanya berpura-pura baik didepan mereka. Dan ternyata niat buruknya yang selama ini menghalangi Melly untuk bisa masuk kedalam rumah Mella.
"Jadi selama ini kau mempunyai niat buruk terhadap saya ?." tanya Mella.
Melly menoleh ke sumber suara dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Mella dan yang lainnya telah berada di dekatnya.
"Saya, saya minta maaf." ucap Melly sambil menundukkan kepalanya.
Saat mereka tengah fokus dengan Melly, Dul segera bangkit dan berlari meninggalkan tempat itu. Jun hanya tersenyum dan langsung melempar balok kayu di tangannya.
Hal itu juga yang dilakukan oleh Melly, disaat yang lainnya memperhatikan Dul, Melly segera bangkit kemudian berlari meninggalkan rumah Mella.
"Hai jangan lari !." ucap Gani.
Namun hal itu tidak mempengaruhi Melly, ia semakin mempercepat larinya agar tidak bisa dikejar oleh Mella atau yang lainnya.
"Siapa anak itu ? sepertinya aku pernah melihatnya ?." ucap ibu Gani.
"Dia kak Melly teman paman Dul, dia seorang anak jalanan tetapi sering membantu pekerjaan paman Dul." jelas Gani.
"Berarti dia adalah gadis yang telah membantu Jendral Pranoto untuk bisa melecehkan kakak mu." ucap ibu Gani dengan gemetar.
Mella terdiam kemudian ia berfikir dan mengingat seorang gadis yang telah membantu Jendral Pranoto memandikan tubuh Nelly sebelum dia dilecehkan oleh sang Jendral.
"Ternya banyak hal yang aku tidak mengetahuinya. Seandainya tidak ada perisai pelindung itu pasti aku sudah terperangkap dalam permainan Melly." ucap Mella dengan lirih.
Jun menepuk pundaknya pelan-pelan. Ia tidak ingin jika Gani dan ibunya tak sengaja mendengar ucapannya itu.
"Sebaiknya kita segera kembali, untuk paman Dul biarlah menjadi urusan ibu. Dia berhutang banyak kepada keluarga kita." ucap ibu Gani.
"Baiklah ibu. Mari kita masuk, Gani masih mengantuk sekali. Dan besok kita bisa pulang kerumah kita." ucap Gani.
"Mari masuk !." ucap Mella.
Kemudian mereka masuk kembali kedalam rumah dan melanjutkan kembali istirahat mereka yang sempat terganggu.
Sebelum Mella masuk kedalam kamarnya. Jun menghentikan langkahnya. Mella berhenti sejenak untuk mendengarkan apa yang akan Jun katakan.
"Sayang, kalau kau sempat lihatlah berita yang sedang viral di berbagai media sosial." ucap Jun sambil tersenyum.
"Emangnya ada berita apa ?." tanya Mella.
"Lihatlah nanti kau pasti akan mengetahuinya." ucap Jun.
Kemudian Jun berlalu meninggalkan Mella yang masih menunggu penjelasannya. Tapi Mella tidak mencegahnya, ia kemudian masuk dan menyalakan ponselnya.
Setelah itu ia melihat berita tentang Bagaimana fasilitas mewah Jendral Pranoto di dalam penjara. Termasuk kelakuan bejatnya yang suka bermain wanita.
Hanya saja bagaimana bisa hal itu terekspos di media sosial. Dan bagaimana mungkin wanita itu melakukan live streaming tanpa diketahui oleh Jendral Pranoto atau anak buahnya.
Sehingga berita itu bisa menjadi trending topik terpanas di media sosial. Mella kemudian teringat Jun. Karena hanya Jun yang bisa bisa melakukan hal itu.
Mella kemudian tersenyum, jika bukan karena Jun mungkin tidak akan ada yang tau bagaimana kelakuan Jendral Pranoto dan bagaimana penjara yang ia dapatkan itu.
Dengan begitu masyarakat umum bisa melihat bagaimana hukum di negara ini di hadapan orang-orang yang mempunyai uang berlimpah dan para pejabat.
Sungguh sangat jauh berbeda dengan penjara bagi simiskin. Sungguh sangat jauh berbeda. Mungkin benar kata sang ayah bahwa adanya akhirat adalah untuk memberikan hukuman yang seadil-adilnya bagi mereka yang tidak mendapatkan keadilan selama di dunia ini.