
"Pak apakah benar selama ini Mella dibantu oleh almarhum mas Harun yang sudah menjadi hantu, seperti yang dikatakan oleh mereka ?."
"Jika itu benar maka tamatlah riwayat kita pak, mas Harun pasti akan menuntut balas atas apa yang kita lakukan terhadap Mella anaknya." ucap sang bibi yang sudah putus asa itu.
"Bapak juga gak tau Bu, tapi sekarang kita benar-benar apes. Sekarang semuanya sudah terlambat, apa yang kita inginkan tidak mungkin bisa terwujud."
"Jangankan untuk memiliki rumah itu, untuk makan nanti saja kita sudah tidak mempunyai uang. Lihatlah uang yang kita ambil dari rumah itu berubah menjadi daun-daun kering." ucap suaminya.
Kemudian keduanya melihat dengan wajah yang putus asa, sekarang apa yang bisa mereka lakukan ? ibarat nasi sudah menjadi bubur.
Keduanya pergi meninggalkan rumah Mella yang sebenarnya masih berdiri sangat kokoh hanya mata mereka saja yang tidak bisa melihatnya.
Bahkan uang yang mereka anggap sebagai daun-daun kering itu mereka buang di sembarang tempat..Hal itu tentu saja menjadi sebuah rejeki nomplok bagi para pemulung dan anak-anak jalanan.
Mereka berebut untuk mendapatkan yang sengaja dibuang oleh mereka yang tidak membutuhkan lagi. Sementara paman dan juga bibinya Mella terus melangkah tak memperdulikan apa yang mereka lakukan.
Keduanya tidak menyadari bahwa mereka sedang memperebutkan uang yang baru saja mereka buang. Setelah beberapa langkah akhirnya ada seseorang yang berteriak memanggil keduanya.
"Tuan, nyonya ! terimakasih karena telah memberi kami rejeki yang berlimpah ini." ucap salah satu pemulung sambil tersenyum dan melambaikan tangan yang penuh dengan uang.
Paman dan bibinya Mella hanya saling pandang, mereka bingung sebenarnya apa yang terjadi ? mereka merasa baru saja membuang segepok daun kering.
Bukan segepok uang tapi mereka mendapatkan uang dan mengucapkan terimakasih kepada mereka. Apakah sebenarnya hanya mata mereka saja yang telah dibutakan oleh hantu pak Harun atau mereka sebenarnya bukan hanya seorang pemulung melainkan orang gila. Yang menganggap daun kering seperti uang.
Tapi tak lama kemudian orang-orang itu membeli makanan dan minuman dengan daun yang mereka buang tadi. Hal itu tentu saja membuat mereka semakin penasaran. Mereka menghampiri penjualan tersebut yang kebetulan lewat di depan mereka.
"Pak mengapa bapak menjual dagangannya dengan daun kering ?." tanya kepada sang penjual tersebut.
"Anda ada masalah dengan penglihatan atau bagaimana, meskipun mereka seorang pemulung tapi mereka masih waras. Dan mana mungkin saya mau dibayar dengan daun kering."
"Coba anda perhatikan ini adalah uang asli, bukannya daun kering. Anda berdua ini hanya mengganggu saya berjualan saja." ucap sang penjual itu kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Suami istri itu hanya bisa saling pandang, karena mereka bertanya dengan sungguh-sungguh tapi penjual itu malah marah kepada mereka karena pertanyaan yang mereka ucapkan.
Tak Mau ambil pusing, keduanya kemudian berjalan menyusuri jalan yang ada didepan mereka dengan harapan di ujung jalan sana ada kebahagiaan yang sudah menanti mereka berdua.
Sementara Mella sedang sibuk mencari bahan skripsi di perpustakaan bersama teman-teman barunya. Mereka semua baik dan menganggap Mella bagaikan keluarga mereka sendiri.
"Mella disini kau tinggal bersama dengan siapa ?." tanya Hani teman baru Mella.
"Sendiri, ayah ibu serta kakak ku telah meninggal dunia." jawab Mella dengan jujur.
Terlihat betapa sangat kehilangannya Mella, dan ada sebuah kesedihan yang sangat dalam dalam tatapan matanya.
Hani merasa bersalah kemudian mendekati Mella, perlahan Hani meraih tangan Mella dan menatap wajah ayu dihadapannya itu.
"Mella maafkan aku, jika pertanyaan ku membuat mu bersedih. Aku tidak mempunyai maksud lain hanya sekedar ingin mengenalmu lebih dekat." ucap Hani dengan tulus.
"Tidak masalah, jangan di ambil hati, aku memang selalu bersedih saat teringat dengan keluarga ku." jawab Mella dengan tersenyum.
Mella mengangguk, kemudian mereka melanjutkan aktivitasnya. Keduanya sangat menikmati momen kebersamaan itu. Kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.
Jun ikut tersenyum bahagia melihat Mella mendapatkan seorang teman sebaik Hani. Selama Jun mengenal Mella baru kali ini ada seseorang yang mau berteman dengan Mella dengan tulus.
Meskipun mereka tidak saling mengenal tapi kini mereka menjadi seorang sahabat karib. Hati-hati Mella di kota L jauh lebih baik dari pada di kota asalnya.
Hari silih berganti, tanpa terasa Mella hampir selesai mengerjakan skripsi, sementara Hani masih jauh tertinggal oleh Mella.
Tapi Mella dengan sabar membantu Hani, mereka berencana untuk wisuda bersama kemudian melanjutkan pendidikan S2 di universitas yang sama pula.
"Mella aku masih jauh tertinggal, aku tak sepandai dirimu." ucap Hani.
"Aku akan tetap membantumu. Jadi kau jangan khawatir akan hal itu." ucap Mella dengan tulus.
"Mella besok aku berencana untuk mengunjungi paman dan juga bibiku. Apakah kau mau ikut bersama ku ?." tanya Hani.
"Tidak masalah, tapi bagaimana dengan skripsinya ?." tanya Mella.
"Kita bisa mengerjakannya sambil berlibur. Dan aku rasa bibiku akan membantu ku menyelesaikannya." jawab Hani.
Mella hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Ia tidak bisa memaksa Hani, karena jika dipaksa maka Hani tidak akan bisa menerima pelajaran yang Mella berikan.
Sepulang dari kampus Mella duduk di balkon bersama dengan Jun. Sudah lama sekali Mella tidak berbincang-bincang serius dengan Jun.
Sejak Mella bertemu dengan Hani dan ia disibukkan dengan skripsi, Mella hampir tidak mempunyai waktu berdua dengan Jun.
Kini Mella sangat menikmati kebebasannya dengan Jun seperti dulu. Mella duduk sambil bersandar di dada bidang Jun.
Bagaikan mendapatkan air hujan di musim kemarau yang panjang. Hati Jun tentu saja sangat berbahagia karena kekasih hatinya kini berada kembali dalam pelukannya.
"Jun, apakah menurutmu aku bisa ikut Hani untuk mengunjungi saudaranya yang berada di luar kota ?." tanya Mella.
"Tentu saja sayang. Bahkan kau akan bahagia saat bertemu dengan orang yang akan kau kunjungi itu." jawab Jun.
"Memangnya siapa orang itu ?." tanya Mella.
"Kau akan mengetahuinya setelah bertemu." jawab Jun.
Tanpa pikir panjang Mella mencium pipi Jun, ia sebenarnya sangat rindu dengan Jun. Rindu kebersamaan dan kemesraan di antara mereka.
Namun kesibukannya membuatnya seolah tak ada waktu padahal mereka tinggal di satu atap. Jun membalas perbuatan Mella.
Keduanya merajut kebahagiaan dalam manisnya cinta. Mereka melupakan sementara masalah yang ada. Keduanya hanya ingin menengguk kebahagiaan dalam cinta.
Dibawah cahaya jingga keduanya melepaskan rindu, mengukir indahnya cinta, melepaskan beban yang ada didalam dada. Mengukir indahnya cinta dibawah lembayung senja.