
Setiap insan yang mempunyai rasa welas dan asih, pasti akan segera menolong orang yang sedang tertimpa musibah, tanpa berfikir apakah pertolongannya akan berakibat buruk terhadap dirinya dan juga keluarganya.
Tanpa pikir panjang paka Harun segera menolong wanita yang sedang disiksa dan dalam keadaan yang sekarat itu.
Pak Harun segera berlari menggendong tubuh lemah wanita itu, ia harus segera menyelamatkan nyawanya. Namun anak buah Jendral Pranoto berusaha untuk mengejar pak Harun.
Dengan segala cara lelaki yang lemah itu menhan orang-orang Jendral Pranoto. Di sisa nafasnya ia menyalakan sebuah korek api dan melemparkannya ke sebuah kontainer yang berisi narkoba itu.
Dengan cepat api menjalar karena telah disiram bensin sebelumnya. Sehingga seluruh anak buah Jendral Pranoto berusaha memadamkan Pai itu dan melupakan pak Harun.
Lelaki itu tersenyum kemudian ia mengucapkan doa-doa di akhir hidupnya. Ia bersyukur karena istrinya mendapatkan pertolongan.
Sementara Pak Harun segera melarikan wanita itu kesebuah rumah sakit. Wanita itu segera mendapatkan pertolongan dan dirawat di ruang ICU, setelah beberapa pemeriksaan dilakukan wanita itu masih dalam keadaan koma.
Pak Harun hanya bisa berdoa semoga wanita itu bisa selamat dan dalam keadaan baik-baik saja. Dan tanpa Pak Harun sadari ada sebuah mata yang mengawasinya dan melaporkannya.
Pak Harun segera pulang kerumah, setelah sampai di rumah beliau menceritakan semuanya kepada anak dan istrinya. Semua kejadian yang baru saja beliau alami.
"Ayah, apakah ayah tau siapa orang-orang yang tega berbuat aniaya seperti itu ?." tanya sang Putri.
"Tidak nak, ayah tidak tau. Saat melihat hal itu ayah hanya berfikir bagaimana caranya menolong wanita lemah itu. Sekarang ayah jadi berfikir apa yang akan terjadi dengan ayah setelah ini." jawab Pak Harun pasrah.
"Kita berdoa saja semoga niat baik kita selalu di ridho Allah SWT dan kita akan selalu dilindungi dari segala hal negatif." ucap sang istri.
Pak Harun dan juga putrinya mengamini ucapan itu. Tak lama kemudian pintu rumah mereka diketuk oleh seseorang dari luar.
Pak Harun bangkit kemudian membukakan pintu untuk tamu tersebut. Kemudian mempersilakannya masuk.
"Silakan duduk pak." ucap Pak Harun dengan sopan.
"Langsung saja pak, saya datang kesini untuk menyampaikan bahwa bapak saat ini ditunggu oleh Jendral Pranoto." ucap pria itu yang tak lain adalah Dul.
"Jendral Pranoto itu siapa ? saya tidak mengenal beliau dan tidak ada urusan dengan beliau. Apa yang bisa saya bantu ?." tanya pak Harun.
"Mungkin anda tidak mengenal beliau tapi kerena anda telah berani mengusiknya maka anda sekarang mempunyai urusan yang harus anda selesaikan." ucap Dul.
"Apa yang saya usik ?." tanya pak Harun dengan bingung.
"Bukankah anda telah menolong seseorang ? dan apakah anda tau mengapa Jendral Pranoto melakukan hal itu kepada orang yang anda tolong ?." tanya Dul.
Pak Harun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana beliau tidak akan menolong seseorang yang sedang membutuhkan bantuan. Meskipun beliau tidak mengenalnya sama sekali dan tidak tau mengapa mereka diperlakukan seperti itu.
Apakah kita hanya akan menolong seseorang hanya yang kita kenal saja ? dan apakah kita harus diam saja saat melihat sebuah penganiayaan dan penyiksaan ?.
Banyak pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak pak Harun dan juga keluarganya. Ternyata menolong seseorang dengan tulus telah menyeretnya kedalam masalah.
"Maaf apakah saya bersalah telah menolong seseorang ?." tanya Pak Harun.
"Tak tanggung-tanggung kerugian yang anda sebabkan mencapai milyaran rupiah. Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan Jendral Pranoto." jelas Dul.
"Merugikan hingga milyaran rupiah ? memangnya apa yang telah saya lakukan ?." tanya Pak Harun yang semakin bingung.
Kemudian Dul menjelaskan setelah kedatangan Pak Harun untuk menyelamatkan wanita itu, anak buah Jendral Pranoto berusaha mengejar pak Harun.
Hal itu dimanfaatkan oleh suami dari wanita itu untuk membakar kontainer yang sudah berisi barang dagangan Jendral Pranoto.
Dan barang dagangan tersebut mempunyai nilai milyaran rupiah. Sehingga pak Harun harus bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan.
Dengan berat hati Pak Harun akhirnya mengikuti Dul untuk menemui Jendral Pranoto di markasnya. Selama dalam perjalanan pak Harun mencoba berfikir apa sebenarnya yang terjadi.
Bagaimana bisa pertolongan yang beliau berikan kepada seseorang malah membuat beliau terjebak kedalam masalah seperti ini.
Dan apa hubungannya dengan dirinya saat orang yang teraniaya itu membalas perbuatan keji mereka dengan cara membakar barang dagangan mereka.
Sejauh pak Harun berfikir tetap saja beliau tidak bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaannya itu. Pak Harun hanya bisa berharap ada sebuah keajaiban dan pertolongan dari Allah untuk dirinya.
Setelah sampai Dul mengajak Pak Harun memasuki sebuah gudang yang terlihat tidak terurus. Beliau berjalan mengikuti Dul dengan sesekali memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Puluhan pria dengan wajah yang menyeramkan dengan berpakaian serba hitam serta dilengkapi dengan senjata api menjaga tempat tersebut.
"Siapa sebenarnya Jendral Pranoto itu dan sebenarnya ini tempat apa ?." batin Pak Harun.
Pak Harun berhenti sejenak saat melihat begitu banyak minuman beralkohol di tempat itu. Dan tumpukan-tumpukan apa itu yang begitu banyak di gudang yang terbengkalai seperti ini.
Apakah ini adalah peradangan barang-barang haram. Yang mungkin tersembunyi dan tidak tercium oleh aparat yang berwajib karena dimiliki oleh seorang Jendral.
Pak Harun hanya bisa menerka-nerka dengan keadaan sekelilingnya. Tak lama ia sampai disebuah ruangan yang terdapat sebuah meja dan sebuah kursi. Pak Harun diminta menunggu sebentar sampai Jendral Pranoto sampai.
"Pak sebenarnya ini tempat apa ?." tanya pak Harun.
"Sebaiknya anda diam saja dan jangan banyak bertanya. Diamlah agar anda selamat." jawab Dul mengingatkannya.
Pak Harun kemudian terdiam, setelah itu terdengar seseorang sedang menerima sebuah telpon. Dari percakapan tersebut pak Harun akhirnya mengerti.
Bahwa saat ini beliau berada di sarang bandar narkoba yang dilindungi oleh seorang Jendral. Jadi benar dugaannya tadi.
Kemudian beliau banyak-banyak berdoa memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT. Karena hanya Allah yang bisa memberikannya pertolongan.
Dalam doa beliau teringat dengan anak dan istrinya. Bagaimana dengan mereka nantinya jika beliau tidak ada lagi di muka bumi ini. Karena beliau yakin hanya nyawa yang bisa membayar kerugian yang dialami oleh Gembong Narkoba itu.
Tak lama datanglah seorang dari luar dengan pengawalan ketat. Pak Harun mencoba melihat siapa sebenarnya yang datang dan mengapa semua orang yang ada di ruangan tersebut menunduk hormat saat orang tersebut melintas di hadapannya.